Kolaborasi OPD Kunci Sukses Penurunan Stunting di Nabire
NABIRE - Penanganan stunting di Kabupaten Nabire terus menjadi prioritas utama. Untuk mencapai hasil yang optimal, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Nabire didorong untuk meningkatkan kolaborasi dan koordinasi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Paulus Talakua, S.KM.,M.Kes, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (3/07/2025).

NABIRE - Penanganan stunting di Kabupaten Nabire terus menjadi prioritas utama. Untuk mencapai hasil yang optimal, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Kabupaten Nabire didorong untuk meningkatkan kolaborasi dan koordinasi. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Paulus Talakua, S.KM.,M.Kes, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (3/07/2025).
Menurut Paulus Talakua, peningkatan koordinasi antar-OPD adalah kunci untuk menghasilkan penanganan stunting yang lebih efektif dan terintegrasi. "Dengan adanya tingkat koordinasi yang baik di masing-masing OPD, kita akan menghasilkan program dan tindakan yang lebih maksimal," ujar Talakua.
Ia menekankan, penanganan stunting bukanlah tanggung jawab satu OPD saja, melainkan memerlukan sinergi dari berbagai sektor. Mulai dari dinas kesehatan berperan dalam penyediaan layanan kesehatan dan gizi, sementara dinas pekerjaan umum dapat memastikan akses terhadap sanitasi dan air bersih yang layak, semuanya memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting.
Talakua juga menambahkan, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Nabire perlu lebih gencar dalam menggalang koordinasi. "Tim TPPS harus terus meningkatkan koordinasi, karena merekalah garda terdepan dalam merumuskan dan melaksanakan program penurunan stunting," tegasnya.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memastikan intervensi spesifik dan sensitif stunting dapat berjalan secara komprehensif. Intervensi spesifik meliputi upaya seperti pemberian makanan tambahan, suplementasi gizi dan imunisasi. Sementara intervensi sensitif mencakup perbaikan sanitasi, akses air bersih dan edukasi pola asuh.
Dengan adanya kolaborasi yang kuat, diharapkan informasi dan data terkait stunting dapat terintegrasi dengan baik, sehingga perencanaan program bisa lebih tepat sasaran. Hal ini juga akan mempermudah monitoring dan evaluasi terhadap setiap program yang telah dijalankan.
Paulus Talakua berharap, dengan adanya peningkatan koordinasi dan kolaborasi ini, target penurunan stunting di Nabire dapat tercapai sesuai yang diharapkan. "Ini adalah upaya bersama demi masa depan generasi penerus di Nabire," pungkasnya.(sam)
Bagikan artikel ini



