NABIRE - Atas dasar kesepakatan Orang Tua (Ortu) murid SD Negeri/Inpres Kimi, akhirnya dibangun satu ruangan Rombongan Belajar (Rombel), namun dengan keterbatasan dana yang dikumpulkan dari kerelaan Ortu murid, akhirnya satu ruangan kelas bangunan baru yang dibangun tidak bisa dilanjutkan.

Sementara tujuan Ortu murid membangun satu tambahan ruangan kelas ini untuk menjawab kebutuhan kekurangan ruangan kelas, karena di SDN/Inpres Teluk Kimi dapat dibilang sekolah dengan jumlah murid terpadat, sebagai salah satu sekolah negeri yang cukup tua di wilayah Distrik Teluk Kimi yang dibangun semenjak 34 tahun silam.

Namun dengan majunya perkembangan dan bertambahnya jumlah penduduk, kini SDN/Inpres Kimi memiliki jumlah murid sebanyak 474 murid dengan jumlah ruangan kelas hanya 13 ruang kelas yang tentunya tidak cukup untuk menampung semua jumlah murid. Karena mulai dari kelas I hingga kelas IV itu jumlah kelasnya pararel hingga kelas C.

Sehingga untuk murid kelas IV yang jumlah muridnya sebanyak 94 murid dipadatkan menjadi dua kelas, sementara berdasarkan ketentuan Dapodik untuk satu kelas hanya bisa menampung 28 murid, namun kenyataan yang ada di SDN/Inpres Kimi satu kelas dipaksakan hingga 35 murid per kelas.

Demikian dikatakan Kepala sekolah SDN/Inpres Kimi, Arifin Paulus, S.Pd, kepada Papuapos Nabire, Senin (15/9/2025) di ruang kerjanya seraya menambahkan, untuk SDN/Inpres Kimi di saat ini membutuhkan 5 hingga 6 ruangan kelas baru lagi agar bisa menampung semua jumlah murid berdasarkan ketentuan dalam Dapodik.

Dari kekurangan jumlah kelas, mulai dua tahun pelajaran lalu hingga saat ini pihak sekolah mengambil keputusan bersama orang tua murid, agar murid kelas II yang dipararelkan menjadi 3 kelas A, B dan kelas C, terpaksa diberikan kesempatan untuk masuk sekolah di siang hari setelah kelas I dipulangkan.

Sementara itu, di tempat yang sama, Ketua Komite SDN/Inpres Kimi, Nikanor A. Mansawan menambahkan, pada awalnya pihak Ortu murid sepakat untuk membangun dua ruangan kelas, namun dengan kondisi keuangan yang sangat terbatas, akhirnya hanya bisa bangun satu ruangan kelas, namun itupun tidak tidak selesai dibangun.

Sehingga lewat kesempatan itu, selaku ketua komite memohon kepada pemerintah daerah melalui dinas pendidikan agar bisa turun dan melihat kekurangan kelas yang ada di SDN/Inpres Kimi dan bisa juga melanjutkan pembangunan satu ruangan kelas yang dikerjakan oleh Ortu murid, namun belum rampung seluruh bangunannya.(des)