NABIRE - Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah, sektor kesehatan menjadi sorotan tajam. Pola pikir masyarakat yang cenderung mengabaikan kesehatan hingga mencapai kondisi darurat masih menjadi tantangan besar. Realitas ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur medis saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan transformasi cara berpikir warga.

Persoalan ini mengemuka dalam acara talkshow peringatan satu tahun kepemimpinan yang dipandu oleh jurnalis senior Andy F. Noya di Ballroom Kantor Gubernur, Jumat (20/02/2026). Dalam diskusi tersebut, Andy menekankan kesadaran akan pola hidup sehat masih berada di urutan belakang dibandingkan pencapaian materi maupun jabatan.

Andy F. Noya berpendapat, bahwa kekayaan dan kekuasaan akan menjadi sia-sia jika kesehatan diabaikan. Ia mengkritisi fenomena di mana masyarakat masih memandang biaya kesehatan sebagai beban finansial yang berat, bukan sebagai kebutuhan utama yang harus diprioritaskan sejak dini. Hal ini menjadi penghambat utama dalam menciptakan masyarakat yang produktif.

Menanggapi kritik tersebut, Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa, mengakui bahwa sebagai provinsi baru, wilayah ini memiliki kompleksitas sosial yang tinggi. Menurutnya, penduduk Papua Tengah terdiri dari beragam latar belakang dengan karakter dan kondisi geografis yang berbeda-beda. Keberagaman inilah yang membuat pemerintah harus ekstra hati-hati dalam merumuskan kebijakan. Meki menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih terus berupaya mencari formula yang tepat untuk menangani masalah kesehatan secara terstruktur.

Nawipa menekankan bahwa menyatukan visi kesehatan di tengah masyarakat yang heterogen memerlukan pendekatan yang spesifik agar program-program yang diluncurkan bisa menyentuh seluruh lapisan warga.

Salah satu fokus utama yang tengah diperjuangkan adalah optimalisasi program BPJS kesehatan. Pemerintah berupaya memastikan masyarakat tahu cara berobat menggunakan fasilitas tersebut. Selain itu, BPJS di Papua Tengah juga diarahkan untuk mampu menangani situasi darurat, termasuk menjalin kerja sama dengan penerbangan misi penyelamatan di medan yang sulit.

Gubernur Meki juga mencontohkan aksi nyata penanganan kesehatan saat terjadi konflik di Kabupaten Puncak Jaya akibat perselisihan Pilkada. Dalam situasi darurat tersebut, pemerintah mengambil langkah cepat dengan menerbangkan ratusan korban luka ke rumah sakit di Jayapura hingga Makassar. Seluruh biaya pengobatan dan evakuasi tersebut ditanggung sepenuhnya oleh anggaran gubernur.

Sebagai komitmen jangka panjang, Meki Nawipa tidak hanya fokus pada wilayah administratifnya saja. Setelah memastikan cakupan di Papua Tengah terpenuhi, ia memberikan bantuan iuran BPJS bagi 40.000 masyarakat di seluruh tanah Papua.

Langkah ini diharapkan menjadi pemantik bagi meningkatnya aksesibilitas dan kesadaran kesehatan masyarakat Papua secara menyeluruh.(amd)