Sepuluh Tradisi Verifikasi dalam Jurnalistik

Kegiatan jurnalistik mencakup tiga pondasi pokok. Satu memahami subjek atau konsepsi, apa itu gambaran berita. Itu ilmu awal atau pertama. Ilmu kedua adalah hasil dari upaya verifikasi di lapangan. Dan pondasi ketiga adalah menuliskan hasil verifikasi itu. Itulah atomnya jurnalistik yang terdiri dari tiga unsur. Kali ini kita membahas verifikasi. 

Ada sedikitnya sepuluh tradisi verifikasi dalam jurnalistik. Tahap pekerjaan ini yang membuat seorang wartawan harus berada di lapangan kepanasan kehujanan, agar konsepsi nyang sudah ada di dalam benak kepalanya mendapatkan verifikasi. 

Sekilas perlu dipahami oleh seorang wartawan tentang tiga tahap persepsi seorang wartawan dalam menjalankan pekerjaannya. Pertama persepsinya terhadap konsep (subjek), kedua persepsinya terhadap fakta yang ditemukan dan terakhir persepsinya terhadap penilaian atau jugdman. Inilah dimensi Sains Pers. 

Di sesi kajian ilmiah pers kali ini, kita akan dibawa pada pengenalan tradisi verifikasi yang berkembang dalam dunia jurnalistik. " Tahapan inilah yang disebut tahapan pengumpulan bahan, yang nantinya akan menjadi materi struktur berita, " jelas Munib. 

Pertama Intervieuw, wawancara utuh tanya jawab biasanya waktu minimal satu jam. Dalam era podcast, narasumber bisa ditarik untuk bisa wawancara di studio atau di kantornya. Kemampuan seseorang wartawan dalam mengintervieuw diuji dari mempersiapkan materi pertanyaan dan penguasaan subjek bahasan atau tema. 

"Pada intervieuw wartawan biasanya banyak menggunakan pertanyaan terbuka. Apa itu pertanyaan terbuka? Ialah pertanyaan yang narasumber akan terpancing memberikan keterangan panjang lebar, " papar Munib. 

Kedua tradisi verifikasi yang bernama Konfirmasi. Biasa di kenal wawancara cegat atau door stop. Pada verifikasi jenis ini seorang wartawan harus sudah menguasai persiapan materi sehingga hanya membutuhkan sedikit kutipan pokok dari narasumber. Bahkan cukup dengan jawaban afirmasi atau jawaban negasi dari sumber sudah cukup. Di wawancara jenis ini wartawan harus terlatih menggunakan pertanyaan tertutup. Maksudnya jika sumber mengatakan ya (afirmasi) atau jawaban tidak (negasi) bahkan tidak menjawab sekalipun, sudah cukup untuk wartawan membuat berita. 

Ketiga verifikasi dengan observasi. Wartawan melakukan pemantauan data lapangan di akar rumput. Di lapisan bawah banyak sekali keterangan, baik berupa petunjuk-pentunjuk yang didapat maupun keterangan masyarakat yang beredar. 

Yang keempat verifikasi melalui Investigasi. Tradisi verifikasi jenis ini yang paling berat. Itu dikarenakan sifat dan karakter masalahnya seringkali berat. Misal menginvestigasi mapia korupsi proyek. Menginvestigasi alur distribusi narkoba yang bahkan melibatkan oknum aparat. Jenis verifikasi ini nantinya masuk di laporan berita investigasi. 

Tradisi verifikasi kelima adalah Cek and Balancing atau menjaga keseimbangan berita. Pada suatu perkara atau masalah yang dirasa berpotensi memojokkan suatu pihak. Verifikasi jenis ini harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan berita. Memberilkan ruang kepada pihak yang dipojokan itu, untuk menyatakan keterangan menurut pihaknya. "Jenis verifikasi ini penting, supaya berita wartawan tidak tendensius atau menghakimi atau rial by the press, " ujar Munib. 

Kita memasuki tradisi verifikasi ke enam yaitu riset dokumen dan regulasi. Wartawan bicara bukan ngarang atau hanya katanya-katanya. Memiliki dokumen dan menguasai ketentuan regulasi dalam memverifikasi perkara atau masalah sangat penting. "Untuk itu wartawan tidak bisa jauh-jauh dari naskah regulasi. Baca dan fahami. Mengumpulkan dokumen terkait masalah atau perkara yang hendak ditulis, juga sama pentingnya, " ujarnya. 

Ketujuh adalah tradisi verifikasi Testimoni. Biasanya jika wartawan punya saksi mata atau sumber ekslusif. Apa yang saksi mata alami itu yang akan menjadi hasil verifikasi. 

Kedepan tradisi verifikasi Pendapat Kedua atau Secound Opini. Jenis verifikasi ini biasanya berlaku pada sebuah masalah atau perkara yang berpotensi multi tafsir. Disini wartawan menghindari adanya tafsir tunggal. 

Tradisi kesembilan ini sangat dibutuhkan ketika pembaca menuntut detail. Namanya verifikasi Deskripsi. Perhatian wartawan pada detail fakta di lapangan memberikan bobot pada berita. Pembaca seakan diajak menyaksikan langsung suasana lapangan. Verifikasi jenis ini banyak digunakan pada tulisan features. 

Yang terakhir Penelitian jurnalistik. Pada jenis materi yang membutuhkan pendalaman atau indept news, seorang wartawan harus bisa membuat hipotesa sederhana. Hipotesisnya nanti akan menjadi skema bagaimana sebuah perkara atau masalah itu bisa didalami. "Biasanya ini menyangkut pendalaman kausalitas (sebab akibat), motif, modus maupun pola sebuah peristiwa atau masalah. Berita seperti ini banyak dibutuhkan oleh para pemangku kebijakan sebagai referensi, " jelas Munib. (amd)