Aspek Huduri (Presentatif) dan Husuli (Refresentatif) dalam Kerja Jurnalistik

Didalam mengetahui sesuatu, epistemologi menandai dua pola bagaimana sesuatu diketahui. Yang pertama dengan kehadiran langsung, seperti seseorang mengalami perasaan ketakutan saat malam di kubuan misalnya. Dia merasakan langsung, tanpa panca indera dan mikir. Yang begini disebut pengetahuan huduri. 

Atau ketika seseorang sedang lapar misalnya. Tanpa berpikir terlebih dahulu seseorang tahu dirinya lapar. Mengetahui jenis begini dinamakan pengetahuan huduri (presentstif). 

"Yang kedua pola mengetahui melalui panca indera merekam objek, lalu disantirkan ke dalam benak. Pola mengetahui dengan panca indera lalu direkam ke dalam benak seperti ini melibatkan penalaran oleh akal kita. Ini yang dinamakan pengetahuan husuli, "ujar Munib. 

Kedua jenis cara mengetahui ini terjadi dalam kerja jurnalistik. Ketika seorang wartawan mau meliput saluran Irigasi yang lama mengering dan dikeluhkan petani, hari panas terasa oleh wartawan tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Dirinya langsung merasakan cuaca panas. Ini pola pengetahuan huduri. 

 Ketika wartawan wawancara, dia mendengar dan benaknya merekam isi pembicaraan. Mendengar, mencatat, merekam kemudian dimasukan ke dalam benak pikiran. Ini pola pengetahuan husuli. Sesuatu itu seperti dipotret oleh panca indera kita lalu direkam ke dalam benak. 

Apa gunanya wartawan harus memperbanyak pola mengetahui dengan pola kehadiran atau huduri. Dirinya langsung merasakan suasana lapangan. Dengan pola huduri tulisan wartawan akan melibatkan emosi pembaca, seolah pembaca ikut hadir. Tulisan dari hasil reportase pola huduri, akan dapat lebih hidup. 

Meski begitu bukan berarti pola pengetahuan husuli tidak penting. Sama pentingnya dengan pola pengetahuan huduri, pola husuli - apalagi dengan kesadaran kaidah logika yang mapan akan menghasilkan karya jurnalistik yang cerdas.

Perpaduan kedua jenis mengetahui itu, semuanya digunakan wartawan sebagai bahan materi tulisan karya jurnalistiknya. Karya jurnalistik yang bagus dimulai sejak dari menggali informasinya. Baik secara huduri maupun secara husuli, bahan yang didapat akan memperkaya khazanah. 

"Kerja jurnalistik tidak dibatasi waktu. Kemana saja seorang wartawan pergi yang terhampar adalah bahan berita. Seluruh persoalan kehidupan manusia adalah berita. Itu dikarenakan kesadaran wartawan adalah kesadaran yang khusus. Kesadaran menggusun atau mengkonstruksi persoalan dan tak lelah mencari solusinya, " ujarnya. 

Boleh dikatakan bahwa, pengetahuan husuli butuh kepada ilmu logika untuk dapat penata pikiran jangan sampai tergelincir atau termakan hoax. Sedangkan pengetahuan huduri harus terus diasah untuk ketajaman intuisi dan perasaan. Pengetahuan huduri membantu karya jurnalistik menjadi lebih lembut, karena menghadirkan rasa kemanusiaan. 

"Sesi ini penting untuk dipahami wartawan pemula. Bahwa kerja wartawan itu kerja intelektual sekaligus jalan kaki. Pengetahuan husuli butuh intelektual. Pengetahuan huduri buruh jalan kaki. Pengetahuan jiwa itu yang disebut iman. Dititik inilah jiwa seorang wartawan harus mampu melampaui luasnya hijab cahaya. Bahwa segala yang diketahuinya itu tak seberapa. Baru setetes air. Sedangkan samudera hakikat itu lebih luas dan dalam. Bahkan kedalamannya diliputi oleh kegelapan ilmu rahasia Ilahi yang tak mungkin dijangkau oleh makhluk, , " papar Munib menyelesaikan sesi ini. (amd)