Kajian Ilmiah Pers (bagian-49)

Induksi Pers, Berangkat dari Puing-puing dan Keringat
Jurnalistik itu selama ini dipahami sebagai pola induksi. Pola berpikir yang berangkat dari bagian (juz/partikular) menuju ke keseluruhan (kulli/universal). Pola berpikir induksi seperti ini diterapkan juga dalam pola ilmu pengetahuan sains. Sedangkan pola tulisan opini, artikel atau tajuk tergolong pada pola berpikir deduksi. Sedangkan silogisme termasuk dalam pola berpikir deduksi. Pola berpikir silogisme ini me jadi bahan untuk merumuskan kesimpulan sebuah penelitian.
Di perguruan tinggi, pola induksi dikenal dengan pendekatan kuantitatif dan pola deduksi dikenal dengan pola kuantitatif. Semua ini berawal dari ilmu logika tentang argumentasi.
Pola induksi ini setidaknya mulai diperkenalkan sejak pengaruh Pers Barat masuk ke Indonesia, tepatnya sejak Orde Baru berkuasa sampai sekarang. Sedangkan pada era sebelumnya, di era koran partai tahun 50-an, era perang kemerdekaan dan era pergerakan perjuangan kemerdekaan, Pers kita kebanyakan pola deduksi. Ada yang pola induksi itu dulu disebut Kronika, atau sekilas berita peristiwa yang porsinya sangat kecil.
Di sesi ini kita mau membahas pola berpikir induksi. Wartawan mencari dari penggalangan-penggalan puing-puing partikular di lapangan dengan berkeringat. Dari hasil reportasenya kemudian dia menggunakan nalar logisnya menetapkan penilaian-penilaian. Menyusun konstruksi argumentasinya.
"Menyusun argumentasi adalah pelajaran logika Pers berikutnya setelah melatih pelajaran definisi pada awal konsepsi sebelumnya. Jadi pada dasarnya ketika wartawan sedang menyusun kalimat, paragraf dan satu kesatuan tulisan karya jurnalistik, ia sedang berargumentasi melalui pola berpikir induktif, " ujar Munib.
Logika induktif, tambahya, adalah proses penalaran yang menarik kesimpulan dari bagian ke umum. Sebelumnya telah dilakukan verifikasi berdasarkan pengamatan, data, atau fakta-fakta spesifik yang sifatnya kemungkinan (probabilitas).
Berbeda dengan logika deduktif yang memberikan kepastian mutlak, kesimpulan dalam logika induktif bisa sangat kuat dan masuk akal, namun tetap berpeluang untuk salah. Oleh karena itu, penilaian dari wartawan pada akhirnya diserahkan kepada khalayak pembaca. Menerima ditanggapi hal jawab dan hal koreksi dari masyarakat.
" Untuk memahami lebih lanjut, berikut adalah aspek-aspek utama dari logika induktif pertama yaitu pola penalaran. Berpikir induktif bergerak dari hal-hal yang bersifat khusus (spesifik/partikular) menuju kesimpulan yang bersifat umum/universal, "tambahnya.
Munib menjelaskan, contoh misalnya tentang observasi suhu. Di Mulia hawanya dingin. Di kawasan Enarotali, hawanya dingin. Kesimpulan induktifnya : Daerah yang letaknya tinggi (dataran tinggi) cenderung memiliki hawa yang dingin.
Tingkat kekuatan argumen dalam logika induktif, kesimpulannya tidak disebut "valid atau tidak valid" seperti dalam berpikir deduksi. Melainkan disebut "kuat (kuat secara induktif)" atau "lemah". Ini yang dalam induksi Pers disebut Coverbothsides. Level sebuah berita diukur dari lemah dan kuatnya sisi banyak dan sedikitnya verifikasi.
" Jadi kekuatan tulisan wartawan bergantung pada jumlah dan kualitas data yang diamati. Contohnya begini, jika kalian melihat seratus burung kepodang berwarna kuning, maka kesimpulannya : bahwa "semua burung kepodang berwarna kuning. Proposisi ini memiliki argumen yang lebih kuat dibandingkan jika Anda hanya melihat burung kepodang cuma dua atau tiga ekor saja, " jelasnya.
Kegunaan berpikir induksi dalam kehidupan juga dinilai penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan Sains. Penelitian Sains butuh pada model induksi ini. Ilmuwan menggunakan logika induktif untuk mengumpulkan data empiris melalui eksperimen dan observasi guna membangun hipotesis atau teori baru.
"Penalaran ini digunakan manusia untuk memprediksi cuaca, mengambil keputusan bisnis, hingga mengenali pola kebiasaan berdasarkan pengalaman masa lalu. Juga dalam pekerjaan jurnalistik yang sedang kita dalami", ujarnya (amd)
Bagikan artikel ini



