Logika Pers : Urutan Ketiga Penilaian (Afirmasi)

Setelah selesai konsepsi dan verifikasi, urutan ketiga bagi wartawan kembali ke kantor Redaksi untuk mulai menulis. Atau kalau di era online sekarang, nongkrong di warung kopi sambil ketik berita di hape. Untuk kemudian dikirim lewat Group Whatsapp redaksi, agar diedit redaktur.

Inilah tahap membuat penilaian terhadap konsepsi dengan hasil fakta ferivikasi yang diperoleh. Kalau konsepsi sering disebut ilmu pengetahuan pertama, maka penilaian, jugdman, predikasi atau afirmasi dinamakan ilmu pengetahuan kedua, yang lebih khusus. Inilah yang dalam epistemologi disebut benih-benih pengetahuan atau sumber ilmu pengetahuan.

Begini caranya wartawan memahami pekerjaan sehari hari, tidak semata-mata urusan olah bahasa membuat berita atau sekedar tradisi jurnalistik saja. Melainkan juga sedang mempraktikkan ilmu logika. Inilah yang kita namakan logika Pers. Bahwa dalam setiap konsepsi, verifikasi dan afirmasi adalah serentetan kaidah-kaidah logika.

"Tapi banyak wartawan tidak menyadari ini. Kebanyakan kesadaran yang ada pada umumnya hanya sebatas ketentuan tata bahasa saja. Kalau sebuah kalimat sudah ada Subjek dan Predikat maka itu sudah dikatakan Kalimat Sempurna. Objek, keterangan tempat dan keterangan waktu dalam tatabahasa masuk di kategori tambahan saja, " ujar Abdul Munib.

Dalam jurnalistik, keterangan waktu disebut when, keterangan tempat disebut Where. Siapa disebut who. Apa disebut What. Mengapa, disebut Why. Bagaimana disebut How. Itu yang biasa disebut standar Lima W Satu H dalam pelajaran awal jadi wartawan.

Kalau dalam ilmu tata bahasa atau grammer, susunan Subjek dan Predikat disebut Kalimat. Kalau dalam ilmu logika, konsepsi yang sudah dipredikasi disebut Proposisi. Tiap hari wartawan membuat proposisi. Membuat penilaian-penilaian. Bukan berdasarkan subjektivitas dirinya, melainkan berdasarkan hasil verifikasi yang telah didapatkannya.

"Dalam menulis beritanya, seorang wartawan harus meminimalisir subjektivitasnya. Seiring memaksimalisasi objektivitasnya. Upaya untuk menjaga ini yang biasa dikenal dengan nama Independen. Subjektivitas tetap saja ada karena bagaimana pun wartawan tetap saja menafsir fakta. Kebenaran yang didapatkannya pun hanya dari data empiris melalui indera, " jelas Munib.

Dalam melakukan penilaian ini seorang wartawan mulai menulis. Dalam setiap harianya harus disadari, bahwa konsepsi atau subjek jangan ambigu. Kebenaran empirisme atau fakta sudah terverifikasi. Pada langkah ketiga penilaian inilah, seorang wartawan diuji menuangkan pernyataan hasilnya dalam tulisan beritanya.

Kumpulan proposisi itu yang jadi paragraf. Membangun sebuah pondasi informasi. Kemudian dilanjutkan paragraf atau Alinea berikutnya. Terangkai, ibarat seuntai kalung berbentuk sebuah tulisan karya jurnalistik. Yang siap dilepas ke publik.

'Logika Pers mengajak wartawan dapat membedah karya jurnalistiknya dari sudut ilmu logika. Dengan kesadaran ini dia akan lebih mendalam wawasannya. Dan tahu bahwa karya nya identik dengan cara bagaimana ilmu pengetahuan dibangun sehingga melahirkan banyak disiplin ilmu, "papar Munib.(amd)