Logika Pers : Disiplin Sejak dari Konsepsi

Dalam membahas Logika Pers, Abdul Munib mengatakan bahwa sesi ini bisa jadi perlu satu minggu. Menurutnya, logika pers adalah tata kelola isi kepala seorang wartawan sebagai sang intreprestator. Dikatakannya bahwa akal adalah satu-satunya pembeda manusia dari hewan. Maka dari itu pekerjaan wartawan adalah pekerjaan intelektual. 

Untuk itu jika kata-kata atau kemampuan bahasa adalah kekayaan pertama seorang wartawan maka akal adalah kekayaan kedua. Membangun relasi sumber berita kekayaan ketiga. Keterampilan menulis kekayaan ke empat. 

Bagaimana cara akal bekerja agar tidak jatuh pada ketergelincan pada pemahaman dan kesimpulan. Hal ini terkait dengan posisi wartawan sebagai Sang Interpretator terhadap fakta realita peristiwa di lapangan. 

"Logika Pers harus memulai kedisiplinan sejak dari konsepsi. Kalau dalam ilmu bahasa konsepsi itu subjek. Kalau dalam ilmu logika subjek itu disebut konsepsi. Bahasa arabnya tashawur atau surah. Konsepsi harus sepaham antara penutur dan orang yang menyimaknya. Konsepsi harus dalam satu definisi yang disepakati oleh khalayak. Kalau konsepsi belum sepaham itu namanya masih ambigu, " ujar Munib. 

Dalam menyampaikan betapa pentingnya kita satu kepahaman dalam konsepsi, Munib membuat perumpamaan dalam cerita mob khas Papua. Ia mengisahkan ada orang berselisih tentang matahari. Yang satu bilang matahari itu dingin. Temannya bilang matahari itu panas. Keduanya berdebat sampai akhirnya baku pukul dan berakhir di kantor polisi. Pak Polisi cek dulu aroma dari mulut keduanya. Ada aroma miras Wiro menyengat. Mereka berdua disuruh istirahat. Setelah sadar baru ditanya apa persoalan diantara mereka.

Ternyata soal matahari. Yang satu maksudnya Matahari Department Store yang ada di Mall Jayapura. Di dalamnya dingin karena banyak AC. Yang satu maksudnya matahari yang di langit. Pak Pol sekarang tahu masalahnya. Yaitu konsepsi matahari di otak keduanya memang beda. Mereka tidak disiplin sejak dari konsepsi. Gambaran perlunya disiplin berpikir sejak dari konsepsi akhirnya bisa dipahami peserta kajian dengan mudah melalui contoh tadi. 

Dalam sesi ini, Penanggung-jawab Harian Papuapos Nabire ini, memahamkan peserta kelas Kajian Ilmiah Pers tentang teori dan praktik logika. Masalah konsepsi atau subjek itu persoalan mendefinisikan sesuatu. "Kita tidak akan bisa berdisiplin dalam konsepsi apabila kita tak paham apa itu definisi dan mempraktekanya. 

" Mendefinisikan sesuatu itu pada tahap awal mencari jenis (genus) nya, lalu menetapkan pembedanya. Misal ketika hendak mendefinisikan manusia dicari dulu genus atau jenisnya apa. Pembedanya dari jenis pada umumnya apa. Ketemulah jenis hewan, pembedanya akal. Jadi manusia adalah hewan berakal. Seperti itu cara mendefinisikan," ujarnya.

Selepas itu pada peserta Kelas Jurnalis mempraktikkan dengan mencoba satu-satu untuk berlatih mendefinisikan. Mus disuruh mendefinisikan sepeda motor. Dia ambil jenisnya yaitu alat transportasi. Pembedanya beroda dua dan bermesin. Dia katakan sepeda motor adalah alat transportasi beroda dua yKerja Wartawan Harus Kuat Otak, Kuat Kaki dan Kuat Mental

Dalam setiap kelas Kajian Ilmiah Pers di kantor Papuaps Nabire, Abdul Munib selalu mengingatkan prinsip-prinsip dasar kerja Jurnalistik itu harus kuat akal, kuat kaki dan kuat mental. Dia katakan itu bukan sekedar kalimat quote yang samar. Melainkan ia jelaskan dengan rinci sehingga bisa dilaksanakan oleh wartawan. Dia selalu memantau tiap hari tulisan kami para wartawan. Dia selalu mengapresiasi. Dia tidak pernah bilang tulisan wartawan jelek. Tapi selalu mengajak berdiskusi dan mengajar. 

Menurutnya yang dimaksud kuat otak itu, wartawan harus mahir di bidangnya. Bidang wartawan itu melaporkan peristiwa. Sesuai kaidah jurnalistik yang ada. "Wartawan harus punya buku kamus umum bahasa Indonesia. Karena wartawan akan selalu berhubungan dengan kata. Beli sendiri. Di soffie ada. Dulu saya nabung dua bulan baru bisa beli KUBI" tandanya. 

Bukan itu saja perlu juga punya buku tata bahasa Indonesia, buku peri bahasa dan gaya bahasa. "Wartawan sekalu berhubungan dengan bahasa. Untuk itu harus punya keterampilan menulis yang terus diasah, supaya pembaca menyimaknya enak. Tulisan mengalir. Tidak menggurui. Ringan. Kadang kocak, lucu, " sarannya. 

Apakah cukup dengan itu, tidak ? Masih banyak ilmu yang terkait dengan tugas wartawan. Ketika dalam ilmu bahasa cukup dengan Subjek dan Predikat kita sudah membuat kalimat sempurna, dalam ilmu logika Pers tidak cukup dengan itu. 

"Dalam ilmu logika subjek disebut konsepsi. Dalam sebuah konsepsi tidak boleh ambigu. Ambigu itu persepsi pemahaman yang masih berbeda dan perlu disepahamkan terlebih dahulu. Predikat dalam ilmu logika Pers itu disebut afirmasi. Afirmasi itu jugdmen atau penilaian. Sebelum menjatuhkan penilaian pada subjek (konsepsi) harus melakukan verifikasi. Itu prinsip dasar membuat proposisi, dalam ilmu bahasa disebut frasa atau kalimat, "jelas Munib

Dalam menjelaskan sampai dimana maksud wartawan harus kuat otak, dia bahkan menerangkan beberapa dasar ilmu terkait kemampuan wartawan di bidang pemahaman epistemologi, terminologi dan ontologi atau filsafat metafisika.

" Kalau tidak mengerti ini wartawan akan menjadi tua di lapangan bersama wartawan baru. Namun jika dari sejak awal wartawan mau duduk menyimak penjelasan dan menerima arahan dari pemimpin redaksi, skill menulis bisa terus ditingkatkan, "ujar Munib. 

Munib menjelaskan epistemologi itu sumber dan nilai ilmu pengetahuan. Terminologi itu disiplin ilmu yang dihasilkan dari praktik epistemologi dalam subjek yang berada-beda. Kalau subjeknya angka, jadi terminologi ilmu matematika. Kalau subjeknya ruang jadi terminologi ilmu geometri. Kalau subjeknya binatang jadi terminologi ilmu zoologi. Kalau subjeknya tumbuhan jadi terminologi ilmu botani. 

" Terus begitu yang namanya terminologi atau disiplin ilmu. Minimal wartawan memahami pokok walau tidak mendalam seperti ahlinya, " jelasnya. Bagaimana mungkin kita akan menuliskannya kalau kita belum memahaminya. 

Kuat kaki maksudnya adalah harus turun lapangan. Mendatangi tempat peristiwa. Mendapatkan foto atau video. Mewawancarai nara sumber. Menghimpun data. Menelusuri bahan investigasi. Melakukan reportase. Mencari objek bahan features. "Semua itu buruh kerja kaki. Karena wartawan harus jalan. Kalau tidak jalan tulisannya jadi tulisan Cerpen, " ujarnya. 

Soal kuat mental, dijelaskan Munib, pertama soal wawasan. Wartawan harus punya wawasan luas supaya tidak minder berhadapan dengan sumber berita. Terutama sumber berita para pakar dibidangnya. Sumber berita akan ragu kalau wartawan tidak paham dengan pembicaraan sumber. Jangan-jangan salah persepsi, sehingga menimbulkan salah tulis. Ini bisa fatal.

Makna kuat mental juga berarti tahan godaan. Jika diajak menyembunyikan fakta kebenaran dengan Iming-iming imbalan jangan mau terima. Jangan mau diajak Lapan Anam atau kongkalikong. Sekali kita menghianati pembaca, selamanya kepercayaan itu tidak akan datang lagi. Usaha media hidup dari kepercayaan masyarakat. Kalau kepercayaan hilang habislah usaha media itu. 

Makna kuat mental, kata Munib, wartawan harus punya spiritual yang baik. Yang muslim sembahyang ke mesjid. Yang Kristen juga minggu rajin ke gereja. Bisa menolong orang susah dalam keadaan kita berkekurangan sekali pun. "Masalah mental itu soal integritas diri. Jika ini dijaga insyaallah wartawan tetap dihormati masyarakat," ujarnya. (amd)