Kajian Ilmiah Pers (bagian-44)

Kerja Wartawan Harus Kuat Otak, Kuat Kaki dan Kuat Mental
Dalam setiap kelas Kajian Ilmiah Pers di kantor Papuaps Nabire, Abdul Munib selalu mengingatkan prinsip-prinsip dasar kerja Jurnalistik itu harus kuat akal, kuat kaki dan kuat mental. Dia katakan itu bukan sekedar kalimat quote yang samar. Melainkan ia jelaskan dengan rinci sehingga bisa dilaksanakan oleh wartawan. Dia selalu memantau tiap hari tulisan kami para wartawan. Dia selalu mengapresiasi. Dia tidak pernah bilang tulisan wartawan jelek. Tapi selalu mengajak berdiskusi dan mengajar.
Menurutnya yang dimaksud kuat otak itu, wartawan harus mahir di bidangnya. Bidang wartawan itu melaporkan peristiwa. Sesuai kaidah jurnalistik yang ada. "Wartawan harus punya buku kamus umum bahasa Indonesia. Karena wartawan akan selalu berhubungan dengan kata. Beli sendiri. Di soffie ada. Dulu saya nabung dua bulan baru bisa beli KUBI" tandanya.
Bukan itu saja perlu juga punya buku tata bahasa Indonesia, buku peri bahasa dan gaya bahasa. "Wartawan sekalu berhubungan dengan bahasa. Untuk itu harus punya keterampilan menulis yang terus diasah, supaya pembaca menyimaknya enak. Tulisan mengalir. Tidak menggurui. Ringan. Kadang kocak, lucu, " sarannya.
Apakah cukup dengan itu, tidak ? Masih banyak ilmu yang terkait dengan tugas wartawan. Ketika dalam ilmu bahasa cukup dengan Subjek dan Predikat kita sudah membuat kalimat sempurna, dalam ilmu logika Pers tidak cukup dengan itu.
"Dalam ilmu logika subjek disebut konsepsi. Dalam sebuah konsepsi tidak boleh ambigu. Ambigu itu persepsi pemahaman yang masih berbeda dan perlu disepahamkan terlebih dahulu. Predikat dalam ilmu logika Pers itu disebut afirmasi. Afirmasi itu jugdmen atau penilaian. Sebelum menjatuhkan penilaian pada subjek (konsepsi) harus melakukan verifikasi. Itu prinsip dasar membuat proposisi, dalam ilmu bahasa disebut frasa atau kalimat, "jelas Munib
Dalam menjelaskan sampai dimana maksud wartawan harus kuat otak, dia bahkan menerangkan beberapa dasar ilmu terkait kemampuan wartawan di bidang pemahaman epistemologi, terminologi dan ontologi atau filsafat metafisika.
" Kalau tidak mengerti ini wartawan akan menjadi tua di lapangan bersama wartawan baru. Namun jika dari sejak awal wartawan mau duduk menyimak penjelasan dan menerima arahan dari pemimpin redaksi, skill menulis bisa terus ditingkatkan, "ujar Munib.
Munib menjelaskan epistemologi itu sumber dan nilai ilmu pengetahuan. Terminologi itu disiplin ilmu yang dihasilkan dari praktik epistemologi dalam subjek yang berada-beda. Kalau subjeknya angka, jadi terminologi ilmu matematika. Kalau subjeknya ruang jadi terminologi ilmu geometri. Kalau subjeknya binatang jadi terminologi ilmu zoologi. Kalau subjeknya tumbuhan jadi terminologi ilmu botani.
" Terus begitu yang namanya terminologi atau disiplin ilmu. Minimal wartawan memahami pokok walau tidak mendalam seperti ahlinya, " jelasnya. Bagaimana mungkin kita akan menuliskannya kalau kita belum memahaminya.
Kuat kaki maksudnya adalah harus turun lapangan. Mendatangi tempat peristiwa. Mendapatkan foto atau video. Mewawancarai nara sumber. Menghimpun data. Menelusuri bahan investigasi. Melakukan reportase. Mencari objek bahan features. "Semua itu buruh kerja kaki. Karena wartawan harus jalan. Kalau tidak jalan tulisannya jadi tulisan Cerpen, " ujarnya.
Soal kuat mental, dijelaskan Munib, pertama soal wawasan. Wartawan harus punya wawasan luas supaya tidak minder berhadapan dengan sumber berita. Terutama sumber berita para pakar dibidangnya. Sumber berita akan ragu kalau wartawan tidak paham dengan pembicaraan sumber. Jangan-jangan salah persepsi, sehingga menimbulkan salah tulis. Ini bisa fatal.
Makna kuat mental juga berarti tahan godaan. Jika diajak menyembunyikan fakta kebenaran dengan Iming-iming imbalan jangan mau terima. Jangan mau diajak Lapan Anam atau kongkalikong. Sekali kita menghianati pembaca, selamanya kepercayaan itu tidak akan datang lagi. Usaha media hidup dari kepercayaan masyarakat. Kalau kepercayaan hilang habislah usaha media itu.
Makna kuat mental, kata Munib, wartawan harus punya spiritual yang baik. Yang muslim sembahyang ke mesjid. Yang Kristen juga minggu rajin ke gereja. Bisa menolong orang susah dalam keadaan kita berkekurangan sekali pun. "Masalah mental itu soal integritas diri. Jika ini dijaga insyaallah wartawan tetap dihormati masyarakat," ujarnya. (amd)
Bagikan artikel ini



