Coverbothsides itu Ferivikasi Maksimum

Dalam teori logika ada tiga hal pokok : Definisi, Argumentasi dan Silogisme (Membuat Konklusi / Kesimpulan). Ranah mempraktikan ilmu ini ada pada orasi, menulis, debat dan penelitian ilmiah.

Singkatnya logika Pers mengharuskan wartawan sadar bahwa kata subjek (istilah logikanya konsepsi) harus sudah bersih dari ambigu. Yang kedua jangan menyandarkan predikat (istilah logikanya afirmasi/penilaian) sebelum melakukan serangkaian ferivikasi yang maksimal. Ferivikasi maksimal dalam Pers biasa dinamakan Coverbothsides. Tahap inilah tahap pengumpulan materi berita, sebelum kemudian masuk tahap penulisan berita.

Jenis-jenis dan istilah ferivikasi jurnalistik ada banyak. Ada konfirmasi. Ada Wawancara. Ada reportase. Ada investigasi. Ada buka data dan dokumen. Sumber-sumber materi berita dapat berasal dari peristiwa, masalah sosial, dinamika pemerintahan, gejala/simptom, fenomena maupun trend di masyarakat.

Semakin coverbothsides atau maksimal dalam memferivikasi sumber materi, sebuah berita akan semakin layak. Tradisi ferivikasi maksimum atau coverbothsides harus tertanam dalam karakter seorang wartaaan masa depan.

Bersama narasumber yang layak dari para pemangku kekuasaan atau pemegang otoritas, kalangan profesional dan para tokoh masyarakat, seorang wartawan menganalisa, mengevaluasi dan mencari solusi persoalan kebangsaan, kenegaraan, pemerintahan, dan kemasyarakatan. Mengembangkan diskursus semua persoalan ditengah masyarakat secara bermartabat.

Pada akhirnya, tutur Munib, pekerjaan jurnalistik harus menjadi napigator bagi arah kehidupan berbangsa, bernegara, berpemerintahan, beragama, bermasyarakat berpolitik dan berekonomi. Untuk itulah standar jurnlistik kedepan tak hanya berkutat pada coverbothsides yang materialis empiris. Melainkan manambah level standar logis, epistemologis, terminologis dan ontologis. Itu semua standar apa lagi ?

Itu semua alat untuk seorang wartawan makrifat dirinya. Makrifat profesinya. Makrifat tujuannya.

"Kesadaran diri wartawan tentang disiplin logika Pers, akan menyadari rentetan konsepsi, ferivikasi, afirmasi. Sadar akan tiga hal ini baru memgenal proposisi. Proposisi dalam ilmu tata bahasa disebut kalimat. Pola prosisi dari arah partikular ke universal disebut pola berpikir induksi. Karya jurnalistik masuk dalam pola ini. Sedangkan tulisan opini masuk dalam pola berpikir deduksi, karena berangkat dari hal universa ke partikular," papar Munib.

Dalam pola berpikir induksi yang ada pada jurnalistik, pola kerjanya dari partikular seperi model kerja penelitian sains. Semua berangkat dari alam. Karena pola induksinya sama maka sebuah karya jurnalistik mengandung konklusi-konklusi logis. Atau produk ilmiah umum yang masih dangkal. Sebab dunia ilmiah sains akan lebih mendalam pada bagian yang terus dipecah sampai sekecil atau atau quark.

Dari dalam ilmu logika terdapat pola yang membuka sumber dan nilai ilmu pengetahuan yang biasa dinamakan epistemologi. Pola induksi yang cenderung memecah subjek materi melahirkan banyak cabangan disiplin ilmu yang biasa disebut terminologi. Sedangkan subjek ilmu ontologi mencari hakikat daripada eksistensi. Tuhan eksistensi mutlak sebagai sumber dari eksistensi pemberian yang pada makhluk semesta.

Kenapa ini harus disuntikan kepada standar baru Pers kita ? Jawabannya adalah agar karya jurnalistik kita tidak dianggap persoalan olah kebahasaan saja. Melainkan dapat menembus fenomena metafisika. Yang pada akhirnya dapat menjelaskan hakikat kebangsaan Indonesia dengan fasih.

"Jadi makna coverbothsides dalam makna ini bukan tinjauan dari segala sisi bidang fuzle dan ruang building block pada permainan Lego. Alias ferivikasi fisik saja. Melainkan pemahaman tambahan yakni adanya hierarki eksistensi. Untuk kemudian menyadari jiwa manusia ssbagai entitas gerakan substansi. Dia menjauh atau mendekat dari sumbernya : Tuhan yang maha esa, " ujar Munib.

Manusia baru wartawan Indonesia tidak bisa tidak harus meng-upgrade standar jurnalistiknya. Agar karyanya memiliki nilai di mata masyarakat. Ia dapat menyuplai informasi yang menyegarkan jiwa kepada masyarakat Indonesia.

Coverbothsides atau ferivikasi maksimum adalah jalan panjang seorang wartawan dalam mengemban tugas mencari kebenaran, walau tak akan pernah menemukannya. Logis dan ontologis. Itu tuntutan perlu dihadapi manusia baru Wartawan Indonesia.(amd)