Setiap Wartawan Seharusnya Seorang Ahli di Bidangnya

Di era sebelum digital, bisnis koran dan televisi mencapai masa kejayaannya. Bagi yang sukses, dia jadi Imperium Media. Seperti Imperium Kompas, Imperium Tempo dan Imperium Jawa Pos. Di dalam media digital berita tak laku dijual seperti di era sebelumnya.

Apa yang membuat era digital susah ? Pertama soal flatform tanpa batas. Eksistensi era digital seperti di alam perbatasan. Fisik tidak, metafisik juga tidak. Kalau dalam istilah agama Islam, itu alam Batzah.

 " Seperti api dalam korek gas, kalau tidak ada yang memantik api itu tidak keluar. Atau seperti orang tidur,, kalau tak ada yang sentuh membangunkan tidak akan bangun. Begitulah nasib tulisan wartawan di flatform Google. Kalau tidak ada jari yang sentuh-sentuh layar hape, berita tak muncul untuk bisa dibaca," begitu Pace Munib menjelaskan berita di flatform digital.

Setiap orang yang mau cari berita bukan cari portal berita. Dia akan ketik kata kunci dari berita yang ia butuhkan. Berita bidang apa saja yang sedang dibutuhkan pembaca.

" Nasib portal beritamu sama seperti nasib ayam ketika dipanggil agar para unggas keluar. Ayam akan muncul bersama unggas yang lain. Tapi kalau yang dipanggil kelompok Reptil, portal beritamu tidak muncul karena ayam bukan spesies reptil, " ujarnya.

 Itu perumpamaan bahwa berita di flatform digital tersembunyi bersama jutaan berita, bersama jutaan portal berita. Lha kamu disana siapa ? Bukan siapa-siapa. Disana algotitma yang maha kuasa. Dikendalikan oleh pemiliknya algoritma.

"Karena itulah jurnalistik yang asal-asalan, -apalagi akal-akalan, akan dihindari oleh masyarakat. Eksistensinya meredup, dan tenggelam oleh gelombang Medsos yang individualistik. Saat inilah kekayaan tradisi praktek reportase dan penulisan jurnalistik akan hilang selamanya, " tandas Munib.

Setiap Wartawan Seharusnya Seorang Ahli

Media sekarang tak lagi berazas fakta. Tapi berazas persepsi. Itu kata Dahlan Iskan. Benarkah begitu ? Bisa iya bisa tidak. Ya karena Pers Barat akhirnya memgawal kepentingan Barat. Doktrinnya membela seratus persen kepentingan Kekaisaran Barat. Sedangkan kita disuruh oleh mereka untuk independen. Ini kan cilaka. Kacau.

Fakta tetap saja sebagai azas. Karena setiap disiplin ilmu berpijak pada realita dengan pola subjek yang telah ditemukan oleh ilmuwannya. Berpatokan pada standar Pers Barat, kita ikut-ikutan pada fakta empiris. Dengan beratokan pada ketentuan Pers Barat seorang wartawan Indonesia terkesima dengan ujaran : Fakta itu suci. Yang dimaksud itu fakta empiris adalah yang bisa dibuktikan Panca Indra. Tidak memasukan fakta realitas metafisik.

Standar lama tak mengikutkan logika Pers. Bahwa wartawan harus meletakan Konsepsi yang tidak ambigu. Dan untuk menilai Konsepsi ia harus memferivikasi maksimal agar coverbothside. Baru melakukan penilaian atau jugdman dengan membuat afirmasi atau predikat. Jadilah satu proposisi yang kokoh.

" Jadi setiap kata dan kalimat wartawan harus telah tepat sejak membuat subjek. Telah benar ketika membuat predikat. Setelah banyak melakukan deretan ferivikasi. Tersusun dalam rangkaian paragraf. Tersusun dalam kesatuan tema berita," ujar Munib.

Ketika seorang wartawan mengerti bahwa unsur sumber ilmu pengetahuan dan nilai ilmu pengetahuan ada dalam berita yang dibuatnya, maka ia akan paham epistemologi dan terminologi ada terkandung dalam dunia Pers meski belum mendalam.

"Demikian pula diri wartawan sendiri sebagai eksistensi pemberian dari Sang Eksistensi Mutlak Tuhan, dia menuliskan karya jurnakistik. Beritanya ada maka bisa dibaca oleh pembacanya. Dia akan paham eksistensi dirinya dan karyanya dalam hierarki Eksistensi, " jelasnya.

Sederhananya ialah, bahwa teori jurnalistik harus paham dan mempraktikannya berulang-ulang. Ingat bahwa kualitas disini lahir dari kwantitas berita sehari-hari seorang wartawan yang berulang-ulang.(amd)