Kajian Ilmiah Pers (65)
Etape Metamorfosis Pers Kita

Etape Metamorfosis Pers Kita
Kebangkitan nasional kita dipicu oleh sebuah tulisan. Bahkan tulisan itu sendiri bukan berasal dari orang Nusantara. Melainkan berasal dari bangsa Penjajah. Eduward Douwes Dekker ia lahir di Belanda. Pindah ke Batavis menjadi pegawai Hindia Belanda ditugaskan di Lebak, Banten. Kejujuran yang ada dalam dirinya itulah yang tertuang abadi dalam Novel Max Havelar, dengan pengarang Multatuli sebagai nama samaran. Tulisan tentang penderitaan bangsa terjajah akibat kezaliman yang merajalela, tertuang di novel itu. Mendunia dan menjalarkan api kebamgkitan nasional di Nusantara.
Masih kerabat dengan Eduward, yaitu Ernest mendirikan Budi Utomo bersama tiga serangkai. Berjuang lewat tulisan-tulisannya di media masa waktu itu. Sejak itu perlawanan Bangsa Nusantara mengalami metamorfosis dari perjuangan fisik ke perjuangan pemikiran.
Menurut Abdul Munib, era ini dinamai dengan Pers Kebangkitan Nasional. Gagasan Indonesia Merdeka diinkubasi dalam Pers Kebangkitan itu. Soekarno, Hatta dan tokoh-tokoh kebangkitan dan pergerakan kemerdekaan divonis hukuman pengasingan oleh Penjajah Belanda dikarenakan menulis.
Dalam etape ini Pers adalah senjata ampuh perjuangan pergerakan kemerdekaan, sehingga Bangsa ini tidak seperti nasib bangsa Indian di Amerika atau bangsa Aborigin di Australia dan Tasmania. Kita terbilang bangsa yang mampu membuat penjajah yang datang dari jauh itu pulang.
Para peserta KIP (kajian ilmiah pers) harus mengetahui penggalan sejarah ini. Betapa saat itu pers berada dalam pusaran utama pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hampir setiap pejuang kemerdekaan punya penerbitan media. Menyebarkan gagasan kemerdekaa kepada rakyat Indonesia. Gagasan kemerdekaan dikandung dalam Pers saat itu. Tidak heran jika peserta rapat BPUPKI hampir 70 persen memiliki media.
Setelah kemerdekaan Indonesia memasuki perang kemerdekaan. Saat itu Belanda ingin datang menjajah Indonesia lagi setelah Jepang berlutut karena Bom Hirosima dan Nagasaki. Tapi bangsa Indonesia melawan. Saat itu 9 Februari 1946 para wartawan Indonesia mendirikan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Sikapnya jelas tanpa ambigu, berpihak pada Merah Putih yang baru lahir.
Apalagi sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka, Indonesia butuh pengakuan Internasional. Walhasil berita-berita perang revolusi harus sampai ke publik dunia sebagai tanggung jawab Pers Nasional. Supaya mengundang simpati negara lain. Narasi sangat penting untuk memperbanyak negara sahabat. Pers kita saat itu ikut dalam perang kemerdekaan. Dan banyak yang gugur di medan peperangan.
Dijelaskan Munib, selanjutnya metamorfosa pers nasional memasuki era multi partai. Pada saat pemilu 1955, Indonesia hingar bingar dengan Partai Politik. Media pun dijadikan ajang untuk penyebaran ideologi partai. Tiap partai punya media masing-masing di era itu. Ada yang menamakan era itu dengan nama Pers Liberal. Karena begitu euoiria setelah Indonesia mrndapat pengakuan internasional. Dan menjadi inspirator kemerdekaan bangsa Asia Afrika lewat konferensi di Bandung.
Setelah peristiwa Terbunuhnya 7 Jendral di Lubang Buaya, Halim, oleh sempalan regu Cakrabirawa, Indonesia sepenuhnya dalam kendali Blok Barat. Dalam hal ini Amerika Serikat sebagai pemimpinnya. Di etape metamorfosis ini Pers kita menjadi Industri Pers. Melahirkan imperium-imperium usaha Pers. Sampai munculnya medium pengganti. Dari kertas koran dan gelombang frekwensi radio - televisi ke medium digital. Pada medium digital Pers tak lagi mampu mengorganisasi lini produksinya karena oplag dan iklan diambil keuntungannya oleh pemilik platform digital. Walhasil Pers tak mampu lagi mempertahankan dirinya sebagai industri pers.
Lalu pada etape selanjutnya Pers kita akan hidup seperti apa ? Disini kita memerlukan tenaga yang kuat untuk memikirkannya. Karena saat ini Pers sedang diuji dengan ujian yang eksistensial. "Saya melihat tradisi kajian ilmiah pers di ruang redaksi kita ini, akan menjadi titik tolak untuk metamorfosis pers nasional berikutnya. Sejarah pers sedang dilanjutkan disini," ujar Munib.
Ujian perjalanan pers dalam sejarahnya hari ini, merupakan ujian hidup mati. Hidup terhina dengan tidak punya nilai ekonomis bukan lah sebuah pilihan. Sementara dalam platform digital karya jurbalistik tak terkapitalisasi. Inilah dilema terbesar pers nasional kita hari ini.
Hukum alam biasanya akan melahirkan sebuah adaptasi. Manusia adalah mahluk yang memilih dan terus berjuang. Pers yang bergantung pada belas kasihan tentu bukan pers yang terhormat. Sementara jika harus mati dan berakhir, dunia pers memiliki anak penanya sendiri yang memikul beban sejarah. Karena pena yang tak terkendali atau dikendalikan raksasa hawa nafsu, akan menuntun ke kehidupan dengan tatanan kacau.
Menurut Munib, generasi wartawan Indonesia kini sedang pasang surut. Para orang tua jurnalis sudah tidak mau anaknya jadi wartawan. Begitupun anak mudanya pilih pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Juga tak ada calon mertua punya menantu wartawan. Kajian kali ini mengusung sebuah pertanyaan, betulkah pers hanya sebatas profesi wartawan bagi Bangsa Indonesia ?
Benarkah sedemikian parah ? Jangan dulu kena hoax. Era digital adalah era hoax. Kendali narasi ada pada mesin algoritma.
Mewarisi genetika pejuang, keniscayaan melawan adalah tekad yang paling layak untuk senantiasa menyalakan api semangat. Bahwa pers nasional belum mati. Hanya berhibernasi. (amd)
Bagikan artikel ini



