Kajian Ilmiah Pers (61)

Pers Harus Dapat Menyebarkan Pemikiran Hikmat
Tugas seorang nabi adalah menyeru jiwa manusia ke jalan yang dipetakan Tuhannya. Dia hanya diberi tugas menyampaikan pesan kepada makhluk yang berakal. Dia tidak punya kewenangan memaksa. Apakah pesan yang disampaikan itu diterima atau ditolak, terserah pilihan makhluk berakal itu. Karena keberadaan akal itulah maka manusia diberi kemerdekaan memilih namun harus mempertanggung-jawabkan pilihannya.
Tugas seorang wartawan adalah membuat pernyataan dari hasil kerjanya sesuai kaidah yang digariskan redaksinya. Jenis tulisan di media pada dasarnya terbagi dua. Satu berpola induktif, bagian ini yang disebut Jurnalistik, dia berbasis fakta materi di lapangan. Melibatkan kerja otak dan kerja kaki. Sedangkan pola kedua adalah deduktif, berupa tulisan Opini, Esai, Tajuk, atau Cerpen. Pola kedua ini tidak selalu membutuhkan kerja kaki. Namun dari dua pola diatas tadi, bisa saja sedang menyampaikan pesan yang sama.
Dalam pandangan hikmat, dibalik sebuah peristiwa atau berkutatnya perkara, selalu ada makna hikmat didalamnya. Menurut Munib, sebagai kanal penyedia atau penyebar narasi yang dilindungi negara melalui UU Pers, wartawan harus mampu menangkap hikmat dari peristiwa dan perkara yang ditulisnya.
"Sebuah narasi yang dibuat secara penuh kesadaran, menepati kaidah berpikir, menghayati bagaimana hakikat itu tampak dalam mata batin seorang wartawan berupa hierarki eksistensi, akan menjadi naskah yang berhikmat. Dan karya jurnalistik yang banyak mengandung hikmat akan bermanfaat membentuk kearifan masyarakat, " ujar Munib.
Lawan dari tulisan berhikmat adalah tulisan klise. Tulisan klise itu berasal dari pernyataan sumber berita yang perkataannya tidak sesuai dengan pekerjaannya. "Biasanya tulisan klise itu dipenuhi bahasa berkabut. Bahasa di awan-awan. Kedengarannya indah tapi masyarakat merasa bosan dan hambar, " ujar Munib.
Wartawan sebagai pemberi asupan narasi, sekarang bersaing dengan arus kuat narasi media sosial. Sebelum era digital wartawan mendominasi pembuat narasi di masyarakat. Tapi kini tidak lagi. Kebenaran sekarang yang berbasis kuantitas dan kebanyakan manipulatif dikawal oleh apa yang sekarang digandrungi publik yaitu Algoritma.
"Meski demikian tetap saja dibutuhkan membuat narasi yang klir (tidak ambigu) dan argumentasi. Mengkritik dengan membuat narasi yang konstruktif. Argumentasi yang memiliki landasan bukti dan nalar yang kuat. Mampu menangkap pola-pola yang saling terhubung. Mengungkap kausalitas atau sebab akibat. Hingga berkemampuan menjadi navigasi buat Bangsa Indonesia. Bangsa yang punya hikmat tak akan kekurangan sesuatu apapun. Akan dihormati oleh bangsa-bangsa sahabat. Pers Nasional bisa mengemban tugas menjadikan bangsa berhikmat, meski keadaan saat ini dunia sedang bergejolak dipenuhi peperangan, "pesan Munib.
Hikmat dapat ditempuh melalui pemahaman lengkap teori filsafat metafisika yang diterapkan dalam praktek pada kehidupan sosial politik, ekonomi dan etika kebangsaan. " Dan pemahaman ini secara berangsur dan konsisten harus terus disampaikan ditengah masyarakat. Berperang dengan hoax, framing, froky dan konspirasi.
Dikatakan Munib, pentingnya kedepan Pers Nasional bergandengan tangan dengan rakyat dalam menentukan haluan kebangsaan. Pers Nasional perlu kembali ke Khitah. Kepada awal sejarahnya sebagai Ibu yang mengandung gagasan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
" Bukti dokumen untuk ini sangat lengkap. Misalnya arsip media Medan Prijaji yang terbit 1907-1911 di Bandung yang dipimpin Tirto Adi Suryo, adalah saksi sejarah bagaimana gagasan Kemerdekaan Bangsa Indonesia dikandung oleh Pers pada saat itu, " ujar Munib.
Demikian lah Pers Nasional sedari awalnya memang suatu tradisi berpikir yang penuh hikmat. Dan hikmat itu tergambar dalam sketsa embrionya pada Sumpah Pemuda. Bahwa anak-anak muda yang terpisah oleh jarak dan perbedaan suku, yang berasal dari nusantara jajahan Belanda kumpul membuat Proposisi Agung Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
"Apa yang dicatat oleh pena Pers Nasional selama abad 20 hingga sekarang adalah samudera luas narasi yang harus terus diambil hikmatnya oleh generasi bangsa ini. Bagaimana sebuah bangsa terbentuk dan tumbuh, " Munib menutup sesi kajian kemarin. (amd)
Bagikan artikel ini



