Pers dan Kesederhanaan Konten Kitab Suci

Kitab Suci hanya membuat tiga tema besar : Tauhid, Hukum dan Sejarah. Namun dari kesederhanaan muatan Kitab Suci ini dapat menggugah jiwa orang beriman, hati tergetar saat menghayati isinya. Kitab Suci tak lekang oleh waktu karena mengandung asupan yang bermanfaat untuk jiwa manusia.

Lalu untuk apa kita membahasnya di kajian Ilmiah Pers kali ini, apa hubungannya ? Pers harus dapat menyajikan apa saja yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Apalagi Bangsa Indonesia yang pondasi eksistensinya adalah Bangsa Pancasila yang berketuhanan yang maha Esa. Sangat terhubung dengan Tauhid atau Keesaan Tuhan.

Gambaran Keesaan Tuhan yang tertulis di Kitab Suci dituturkan sendiri oleh Tuhan dan dibawa melalui Utusan biasanga dinamakan Firman Tuhan. Sedangkan Keesaan Tuhan yang dibangun melalui ilmu Filsafat Metafisika adalah Esksitensi Mutlak (Wajibul Wujud). Keberadaan yang sebelumnya tak didahului oleh ketiadaan. Keberadaan yang tak akan diakhiri oleh kerusakan. Sesuatu yang tak terikat ruang dan waktu. Bahkan seluruh eksistensi (yang ada) hanyalah keberadaan yang bersumber dari EksistensiNya. Ilmu-ilmu yang dilahirkan dari rasionalitas manusia adalah urusan terminologis, bagaimana para ilmuwan berhasil menangkap pola-pola yang tersembunyi itu.

Menurut Munib, setiap manusia termasuk wartawan akan terus bergumul sepanjang waktu dalam menghayati makna Tuhan. Sebagai entitas berakal manusia diberi kemerdekaan namun diminta pertanggungjawaban.

"Dengan ilmu, dengan penghayatan atas seluruh tanda atau ayat kita menyembah maknaNya, sebatas makna yang setiap orang dapat menggapainya masing-masing. Hal itu juga berlaku pada ibadah sosial. Setiap gerak orang beriman tak luput dari keterhubungannya dengan Nafs Ar-Rahman atau Jiwa Tuhan, " ujar Munib.

Adalah sangat penting bagi seseorang wartawan untuk mengerti, bahwa kepingan-kepingan fakta yang dikumpulkan selama tugas ferivikasi di lapangan adalah fuzzle semesta berserak yang terlimpah dari Faid Al Aqdas. Curahan dari Sang Maha Suci dan Sempurna.

Yang kedua adalah keterkaitan setiap narasi pada aturan yang disepakati. Jika itu aturan Tuhan yang dibawa utusannya, maka menjadi beriman adalah menyatakan kesepakatan untuk menerimanya. Dalam kehidupan yang memiliki dua sumber hukum, yakni menyepakati yang dari langit dan terlibat dalam aturan yang disepakati di bumi, maka keduanya dapat bersumber pada pribadi yang taat hukum. Baik itu hukum risalah langit maupun hukum risalah bumi.

"Setiap tulisan wartawan dan perusahaan penerbitan harus dengan sadar sesadar-sadarnya, bahwa setiap karya jurnalistiknya harus dipertanggung-jawabkan, " ujar Munib.

Makna dari muatan hukum juga bisa berarti hikmat. Hikmat adalah makna terdalam dari kehidupan ini. Tidak hanya digapai dengan pemahaman, penalaran dan penelitian. Melainkan dengan mempraktikkan secara konsisten, perenungan dan capaian mata jiwa.

"Berkarya lah dengan hikmat. Setiap tulisan yang di dalamnya mengandung hikmat akan memberikan manfaat bagi pembacanya.

Sedangkan sejarah yang dimaksud dalam Kitab Suci adalah sejarah yang disajikan oleh pemilik semesta ini. Sehingga sejarah versi Kitab Suci tak membutuhkan ferivikasi. " Tuhan dalam mengetahui segala sesuatu tidak seperti kita dalam mengetahui segala sesuatu. Manusia perlu mengkaji, meneliti, memahami pola untuk kemudian dapat menarik kesimpulan. Dalam kemaha-tahuannya Tuhan dapat menceritakan umat-umat terdahulu yang lebih kuat dari kita tapi diazab karena menentang hukum Tuhan, "ujar Munib.

Belajar dari pesan sederhana Kitab Suci dengan mengusung tiga tema besar Tauhid, Hukum dan Sejarah, dalam meniti karir menulis seorang wartawan perlu meneladani kesederhanaan tulisan. " Ini yang sering diabaikan. Untuk dianggap intelektual sering tulisan dicampur bahasa intelek yang rumit. Konsep-konsep yang diawan-awan agar dianggap berilmu dimata manusia, " jelas Munib. (amd)