Kajian Ilmiah Pers (58)

Meneladani Rasul Sang Pembawa Kabar
Keterangan tentang sifat wajib rasul, yakni Cerdas, Benar, Amanah, dan Tabligh yang diketahui banyak orang, adalah sumber keteladanan yang bisa dijadikan acuan kehidupan. Juga menjadi acuan jurnalistik.
Akal kenabian memang sebuah dimensi diatas akal kita manusia biasa. Akan tetapi hal itu dapat diteladani oleh kita.
Akal kenabian mencapai level Takwil yang memiliki kualufikasi menafsir secara presisi. Sedangkan kadar atau level penafsiran manusia biasa seperti kita tidak presisi dan sekedar persepsi atau interpretasi yang dihasilkan dari ketekunan perhatian yang berulang dalam waktu lama, menggunakan kaidah yang ada.
Fathonah atau kecerdasan akal kenabian adalah kemampuan hasil pemberian yang dihasilkan karena eksistensi kedekatan dengan sumber ketuhanan. Manusia beriman meneladani ini melalui mencari ilmu. Bukan saja mencari tapi melaksanakannya.
Kecerdasan manusia dapat dikembangkan melalui mencari pola alam bekerja dan menguaknya terus dari waktu ke waktu. Ini kecerdasan ilmu sains. Dan untuk kecerdasan ilmu hikmat bagaimana logika dihidupkan menguak realitas tunggal melalui Filsafat Metafisika. Serta kecerdasan implementasi dalam menciptakan peradaban yang adil. "Pers harus hidup dalam semangat kecerdasan pada semua dimensi itu, " ujar Munib.
Apa yang dimaksud dengan sifat Sidiq atau Benar. Tentu untuk urusan Pers sifat ini hanya diambil semangatnya atau keteladanan yang perlu diambil darinya. Ada tiga tahap dalam proses menuju afirmasi (penilaian) yang benar, yakni tahap pertama benar dalam konsepsi, lalu benar dalam verifikasi dan terakhir benar dalam afirmasi. Dalam istilah ilmu logika afirmasi biasa disebut tasdiq.
"Artinya dalam kerja jurnalistik, seorang wartawan menafsir atau menginterpretasi fakta dan masalah, harus dengan cara yang benar sesuai kaidah logika, " ujar Abdul Munib.
Walhasil sifat-sifat itu harus menjadi bahan keteladanan dalam menjalan tugas jurnalistik. Hanya saja yang membedakan adalah antara risalah langit dan risalah bumi. "Risalah langit bersifat universal karena berasal Sang Maha Tahu. Sedangkan risalah bumi bersifat induksi melalui proses kaidah logika, yakni konsepsi, Ferivikasi dan afirmasi, " ujar Munib.
Sedangkan yang dimaksud meneladani sifat amanah adalah terkait jiwa wartawan. Seorang wartawan selain memiliki skill jurnalistik, level wawasan dan mencapai kesadaran tinggi, dia perlu amanah. Perlu bertanggungjawab atas pena yang ada di tangannya agar tak satu orang pun orang terzalimi. Agar apa yang disampaikan di publik hanya karya yang telah digarap dengan semaksimal mungkin.
"Amanah disini adalah pertanggungjawaban hasil karya jurnalistik. Baik disisi masyarakat maupun di sisi Tuhan yang Maha Esa, " ujar Munib.
Terakhir adalah tauladan dari sifat tabligh (mempublikasikan). Pers mempublikasi karya jurnalistik wartawan. Dalam publikasi ini harus dalam semangat menyampaikan kebenaran karya sesuai kaidah yang ada dan independen yang terpelihara. Semua informasi yang disampaikan harus dapat bermanfaat untuk manusia.
"Semangat menyampaikan kebenaran dari hasil kerja yang maksimal harus menjadi sikap seorang wartawan. Ketika informasi kita lepas ke publik harus berupa karya yang layak. Wartawan tidak boleh menyembunyikan realitas di lapangan karena ada kepentingan pribadi, " ujarnya. (amd)
Bagikan artikel ini



