Kajian Ilmiah Pers (55)

Nilai Berita : Formula Ten News Value Ala Dis
Pada tahun 1982, Perusahaan Majalah Tempo, yakni Grafiti membeli Surat Kabar Surabaya bernama Jawa Post. Oplag waktu itu sekitar 3.000-an eksemplar. Kata Dahlan Iskan (Dis), wartawan Tempo yang ditugaskan mengelola Jawa Pos, oplag koran waktu itu bisa dibawa dengan satu becak.
Lalu ditangan Dahlan Iskan oplagnya bisa mencapai ratusan ribu. Bahkan saat Perang Teluk Irak tahun 1990 lawan Amerika oplag mencapai 700 ribu eksemplar. Selanjutnya lebih sejuta eksemplar lewat koran anak dan koran cucu di seluruh Indonesia.
Demikian dituturkan Munib dalam sesi kelas Kajian Ilmiah Pers kemarin. Menurutnya ia tak sampai satu tahun mengenyam dinamika kerja jurnalistik di kantor redaksi baru di Karah Agung di tahun 1992. Sebelumnya kantor redaksi di Kembang Jepun. Selanjutnya penugasan merintis Cenderawasih Pos di Jayapura awal tahun 1993. Sebuah kehormatan tersendiri dapat ikut bergabung meski sebentar dengan para Cowas (konco lawas) di era 1992.
Menurut Munib, melonjaknya oplag Jawa Pos tadi tidak lepas dari sesuatu yang ditemukan oleh Dahlan Iskan sendiri dalam memandang jurnalistik. Dia berhasil menemukan formula sepuluh nilai berita. Sebelum Dahlan, di dokumen mana pun tidak ada yang sedetail dia dalam memaparkan ini. Dan Dahlan pun tidak membukukan temuannya itu. Satu-satunya dokumen resmi tentang dapur Jawa Pos adalah di buku yang ditulis Joko Intarto : Akal Sehat Dahlan Iskan. Itupun sepintas, karena membahas sisi Pak Dahlan yang lain lebih banyak.
Munib menceritakan di ruang perpustakaan kantor Karah Agung dikisaran tahun 1992, Pemred Jawa Pos Dahlan Iskan menjelaskan formula sepuluh nilai berota (ten news value) sebagai acuan utama Jawa Pos. ini yang selalu ditekankan pada setiap kesempatan rapat redaksi. Soal menulis berita, Dahlan tidak terlalu bahas soal teorinya. Pokoknya harus perhatikan lead, dan alur yang bercerita. Kalimat jangan panjang-panjang. Sekiranya kita habis satu nafas, tulisan harus segera titik. Kemudian dirangkai kalimat berikutnya. Pethatikan ketentuan huruf besar. Istilah yang mendua diseragamkan, misalnya ada yang tulis prektek ada yang tulis praktik. Dan hindari salah ketik.
Kesuksesan Jawa Pos rahasianya ada di Ten News Value yang ditemukan Dahlan Iskan. Rumus temuannya itu yang menjadi ciri khas tersendiri di kalangan pembaca Indonesia khususnya di Jawa Timur.
Inilah Sepuluh Harga Berita penemuan Dahlan itu. Bahwa setiap berita akan memiliki harga jika dapat memenuhi kriteria sepuluh ini. Yaitu dari Ketokohan, Besarnya atau berita besar, Kedekatan (froximity)
Yang pertama (first), Punya misi, Human Interest, Ekslusif, Dramatis, Magnetude (daya tarik) dan Unik.
Dengan hanya menemukan formula sederhana ini Jawa Pos Group di era jayanya cetak menyebar luas ke seluruh pelosok nusantara. Kalau di gaya penulisan, Jawa Pos identik dengan Tempo yang enak dibaca. Dahlan memang berasal dari wartawan Tempo. Bedanya Jawa Pos dan groupnya disegmen koran harian. Tempo minggua yang semua model penulisannya adalah features.
Bahasa Jawa Pos lebih masuk ke idiom daerah. Sehingga masyarakat merasa akrab dan terwakili. Dahlan selain menemukan formula Ten News Value, dia adalah seorang yang memiliki etos kerja yang kuat, tekun dan berhasil menularlan kepada pasukannya.
Meskipun di era media digital nasib tradisi tulisan jurnalistik tidak terkapitalisasi dengan baik, kita perlu menjaga tradisi baik ini. Tradisi lama yang baik kita tetap rawat, hal baru yang memberikan manfaat kita terima," ujar Munib (amd)
Bagikan artikel ini



