Kajian Ilmiah Pers (54)

Teknik Menguntai Kalimat dalam Membuat Berita
Dalam menulis berita, kuncinya adalah pembuat lead dan menjaga alur tulisan sampai selesai. Ada banyak model lead yang sudah menjadi tradisi tulisan jurnalistik. Sesi tentang lead kita sudah membahasnya kemarin. " Disini kita hanya akan menceritakan beberapa hal penting yang perlu dipahami wartawan dalam membuat karyanya agar enak dibaca, " ujar Munib.
Persiapan sebelum menulis yang wajib dilakukan wartawan adalah penguasaan kosa kata, paham tata bahasa Indonesia dan mengerti sastra Indonesia. Dalam kajian ilmiah pers di dapur Redaksi kita, juga memasukan kaidah logika dan filsafat metafisika. Menurut Munib, disitulah nilai plusnya dibanding panduan dapur Redaksi di masa lalu. "Karena tantangan pers kedepan bukan saja runtuh sisi ekonominya, melainkan semakin maraknya berita framing dan hoax. Unsur logika dan filsafat metafisika itulah obat anti framing dan hoaxnya," tutur Munib.
Dalam pedoman penulisan berita perlu dicatat beberapa hal pokok. Pertama buat subjek predikat yang sederhana. Jangan sampai kepanjangan. Ukurannya pembaca bernafas. Jika rasanya nafas habis, segera buat titik untuk mengakhiri kalimat. "Memang dalam membuat kalimat harus diperhatikan subjek dan predikatnya. Karena dengan ada keduanya sebuah kalimat menjadi sempurna sebagai kalimat, " paparnya.
Ketika panjangnya berita dibatasi sesuai waktu sehirupan nafas, maka perlu diasah kemampuan model menguntai kalung. Atau seperti untaian tasbih. Disini penulis harus lihai menggunakan kata sambung.
Beberapa pengetahuan kata sambung dalam ilmu tata bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. Berdasarkan kaidah tata bahasa, kata sambung diklasifikasikan menjadi 5 jenis. Pertama bersifat koordinatif, yaitu menghubungkan unsur yang setara. Contoh kata sambung dan, atau, tetapi, serta.
Kedua bersifat subordinatif, yaitu menghubungkan unsur yang tidak setara/bertingkat. Contoh kata sambung karena, jika, supaya, walaupun. Ketiga bersifat korelatif, menghubungkan dua kata, frasa, atau klausa. Contoh kata sambungnya baik ... maupun ..., tidak hanya ..., tetapi juga.
Keempat bersifat antarkalimat, menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain. Contohnya oleh karena itu, namun, sebaliknya.
Dan terakhir bersifat antarparagraf, yaitu menghubungkan paragraf satu dengan paragraf lainnya. Contohnya kata sambung terlebih lagi, berdasarkan hal tersebut, kemudian dari pada itu, atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa, dan perjuangan pergerakan kemerdekaan, bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu. Itu yang disebut menguntai kata menggunakan kata sambung.
Ketentuan menulis berikutnya menghindari pengulangan kata yang sama. Misal, kalimat sebelumnya disebut Budi. Nanti kalimat berikutnya, bisa diganti dengan ayah dua anak itu, atau jabatannya, prestasinya, sesuai data yang digali.
Tentang data penunjang lainnya seperti tempat, waktu, dan keterangan tidak harus ditumpuk dalam satu kalimat. Melainkan bisa disebar atau disisip dalam kalimat lain yang mengalir untuk memperkaya informasi.
Kelima adalah menyajikan kalimat langsung, untuk mencegah kebosanan pembaca. Dicampur antara penuturan interpretasi penulis, dan pernyataan langsung sebagaimana aslinya dari sumber. "Biasanya membiarkan kata-kata idiomatik yang berlaku di masyarakat dibiarkan sesuai aslinya. Ini untuk memberi kesan warna bahasa, meski kadang keluar dari kaidah baku tata bahasa, " jelas Munib.
Keenam memahami bahwa bahasa jurnalistik adalah bernuansa egaliter. Tidak menggunakan kata Pak, Ibu, beliau, atau sejenisnya. Dalam ukuran lingkup khusus tertentu kadang terdengar kurang sopan. Tapi jurnalistik melihat semua manusia setara satu sama lain. Dalam kaca mata jurnalistik semuanya adalah sama-sama sumber berita.
Ketujuh adalah tentang nuansa penulisan seperti obrolan resmi penulis berita. Sebagaimana mengalirnya jika Anda ngobrol. Seperti itu juga seharusnya sebuah tulisan. Pembacanya tidak merasa berat. Apalagi dalam berita features yang bernuansa seorang penutur kisah yang piawai. Itu levelnya diatasnya lagi.
Kedelapan hindari bahasa klise dan kata berkabut. Kalau menurut istilah Papuanya Bahasa Kulit Kayu. Bahasa yang kedengerannya baik tapi biasanya isinya kosong. Contohnya menghimbau.
Kesembilan adalah kemampuan wartawan mengoleksi point-point bahan berita yang punya nuansa kejenakaan. Sisipkan kejenakaan dalam tulisan untuk menyegarkan. Kadang kita perlu keluar dari jebakan keseriusan yang membuat penat.
Terakhir tulisan sesuaikan bobot nilai berita dan mempertimbangkan kadar kebosanan pembaca.
Dan ditutup dengan ending yang layak. "Itu semua saripati dari pengalaman saya 36 tahun menulis, " ujar Abdul Munib (amd)
Bagikan artikel ini



