Kajian Ilmiah Pers (52)

Rahasia Wartawan Agar Tetap Produktif
DALAM kajian pers di dapur redaksi Papuapos, dijelaskan ada sepuluh pintu datangnya berita. Menurut Munib, untuk mempermudah wartawan mendapatkan berita, perlu mengenali sepuluh pintu datangnya berita. “Ini untuk mempermudah wartawan dalam memperoleh berita dan tetap produktif meskipun sedang tidak ada peristiwa. Sehingga dapat memenuhi jumlah minimal yang ditetapkan oleh redaksi,” ujarnya.
Nomor satu adalah berita peristiwa teragendakan, atau by desain. Pintu ini yang banyak dipakai oleh wartawan pada umumnya untuk mendapatkan berita. Karena dalam acara yang teragendakan itu adalah peristiwa itu sendiri.
Meskipun seremonial jelas peristiwanya bisa diberitakan. “Wartawan kebanyakan biasa berhenti dalam pintu ini dan kurang mengembangkan pintu lain,” jelasnya.
Kedua berita peristiwa atau by insiden. Biasanya untuk berita seperti ini, wartawan ngepos di UGD dan atau Reserse, Wa group dan TKP. Peristiwa apa saja yang terjadi di sebuah kota, akan bermuara ke rumah sakit atau berujung ke penegakan hukum.
Wartawan harus punya jaringan kuat agar tidak ketinggalan berita peristiwa. Meski banyak berita peristiwa di Medsos tetap saja narasi yang utuh dan lengkap serta punya alur cerita kronologis, hanya akan dicari di media pers bukan Medsos.
Ketiga berita yang direncanakan. Pintu ketiga agar berita bisa didapatkan adalah melalui perencanaan berita. Seorang wartawan harus selalu punya bahan-bahan berita yang sudah direncanakan pada setiap harinya. Melalui perencanaan berita, seorang waryawan tidak bergantung pada adanya peristiwa. Selalu ada stok berita untuk disetor ke redaksi tanpa ketergantungan pada ada atau tidak adanya peristiwa dan acara seremonial.
Keempat berita lanjutan atau pengembangan berita. Pembaca sering kali menunggu perkembangan sebuah berita. Atau bisa dikatakan ada jenis perkara atau masalah yang sedang berproses dan publik menunggu perkembangannya. Seorang wartawan harus peka terhadap jenis berita yang sedang ditunggu kelanjutannya oleh pembaca.
Kelima sumber terkait regulasi dan penegakan aturan. Di rak buku wartawan harus tersimpan naskah-naskah terkait aturan atau regulasi. Dalam bernegara maupun bermasyarakat yang mengatur manusia adalah hukum atau aturan. Segala bidang ada aturan atau regulasinya, sehingga hal-hal yang berjalan di tengah masyarakat perlu mendapat kontrol, apakah sudah berjalan sesuai rel atau koridor aturan atau tidak. Dengan alat regulasi inilah semua kegiatan dapat dikontrol.
Pintu ketujuh adalah melalui telaah berita nasional maupun informasi Medsos. Dari berita pusat itu mana saja yang terkait dengan daerah atau fenomena di daerah lain yang memiliki kesamaan atau keidentikan dengan daerah kita.
Ketujuh adalah pintu inspirasi. Biasanya jenis ini untuk keperluan tulisan features. Seorang wartawan turun ke sisi-sisi kehidupan masyarakat di bawah dan terinspirasi untuk memotretnya dalam tulisan features. Jika wartawan dapat menabung tulisan feature, ia dapat kapan saja menyetor berita kepada redaksi karena tulisan jenis ini tidak basi.
Kedelapan adalah pintu berita dengan mengendus, penciuman atau intuisi. Biasanya jenis untuk berita investigasi. Karakter perkara, masalah atau ihwal ada yang sifatnya tersembunyi namun efek buruknya sangat siginifikan. Contohnya peredaran Narkoba, kerja mapia atau praktik korupsi. Untuk meliput berita jenis ini butuh skill tersendiri. Waryawan tidak membawa identitas pers pada peliputan jenis ini. Sifatnya seperti mengumpulkan kepingan fuzzle. “Ini puncak dari karya jurnalistik. Banyak orang menyebutnya mahkota jurnalistik,” ujar Munib.
Pintu ke sembilan adalah sudut berita. Setiap masalah tidak hanya punya satu sisi, melainkan ada banyak sisi. Dalam satu bangunan perkara atau persoalan ada angle lain. Sudut lain itulah yang harus menjadi alternatif bahan berita. “Misalnya masalah ketahanan pangan. Bisa ditinjau dari sudut gerakan budaya yang dicontohkan oleh suku pedalaman Sunda di desa adat Cipta Gelar,”ujar Munib.
Terakhir adalah pintu kontradiksi. Satu pernyataan biasa disanggah atau dikritisi oleh pihak lain. Tanggapan beberapa sumber berita ini lah pintu yang bisa dikembangkan menjadi berita. “Biasanya berita jenis ini banyak terjadi di antara tokoh-tokoh politik atau oposisi yang mengkritisi pemerintah yang sedang berkuasa,” tambahnya.
Dengan mengenal sepuluh pintu gerbang berita seperti diatas, satu orang wartawan bisa merencanakan memproduksi sepuluh berita tiap hari. “Dengan menjadi wartawan produktif kita tetap akan bisa bertahan hidup,” jelasnya. (amd)
Bagikan artikel ini



