Kajian Ilmiah Pers (38-habis) Dengan Ini Saya Tutup Industri Pers, Selanjutnya Kita Kembali ke Rahim Kebangsaan
NABIRE - Mari kita telusur ke Pers Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan. Di era itu Pers kita adalah rahim dimana seluruh gagasan kebangsaan dan juga kemerdekaan tumbuh di dalamnya.

NABIRE - Mari kita telusur ke Pers Indonesia pada masa sebelum kemerdekaan. Di era itu Pers kita adalah rahim dimana seluruh gagasan kebangsaan dan juga kemerdekaan tumbuh di dalamnya. Banyak para penulis gagasan kebangsaan dan kemerdekaan berakhir di Landraad (pengadilan Belanda untuk Pribumi) dan dibuang ke tempat jauh. Dijauhkan dari masyarakat yang memberi dukungan. Disamping para pemberontak fisik yang juga dibuang, dua Proklamator kita Soekarno-Hatta, juga termasuk orang yang dihukum dan dibuang karena menulis di media massa waktu itu.
Setelah memasuki masa kemerdekaan, yakni enam bulan setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, wartawan Indonesia mendirikan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tepatnya tanggal 9 Februari 1946. Hari itu yang kemudian dijadikan Hari Pers Nasional (HPN) yang biasa kita rayakan. Gerakan ini adalah sebuah sikap kebangsaan, bahwa apapun adanya, bagi wartawan Indonesia, sebelum jurnalistik adalah kebangsaan. Di era perang Revolusi selama lima tahun, wartawan Indonesia berpihak sebagai wartawan pejuang perang Revolusi. Wartawan Indonesia, baik Pena-nya maupun nyawanya diwakafkan untuk Merah Putih.
Di era republik sedang mulai menata sebuah negara, yakni era 1950 sampai 1965, Pers nasional hidup bersama tiga ide besar dunia yang sedang bersenyawa atau mungkin juga sedang bertabrakan, yakni gagasan Nasionalisme, Islamisme dan Komunisme. Ada juga yang menamakan era ini sebagai era Pers Liberalnya Indonesia. Bahkan Presiden Soekarno pun baru merasa perlu untuk mengendalikan Pers itu baru di tahun 1963, melalui regulasi yang mengatur barang cetakan. Di era ini banyak partai politik memiliki media. Seperti Harian Rakyat milik PKI dan Duta Masyarakat milik Nahdlatul Ulama (NU).
Semenjak era Orde Baru, Pers adalah Industri Pers dalam makna yang sejatinya sampai sekarang. Pers harus melebur ke dalam jargon Pembangunan Orde Baru. Untuk itu ukuran Pers yang baik dilihat dari jumlah oplag-nya. Makin oplag-nya banyak maka media tersebut adalah media yang hebat. Era ini melahirkan suatu gambaran konglomerasi media : Kompas Media Group, Tempo group, Jawa Pos Group, Media Indonesia Group. Semua group-group itu sekarang, di era platform digital, mengalami drop.
Kita kini memasuki Pers Digital, dimana disana ditandai dengan karakter baru yang bercorak videografis dan konten kreator yang singkat dan cepat. Masalah sosial, kecenderungannya dan pelbagai jenis informasi, hiburan dan tutorial menjadi tak lagi terkategorisasi dalam rubrikasi yang terbatas seperti di era platform cetak. Ruang dunia maya yang tanpa batas membuat kontent hasil kreasi apa saja dapat dumasukan ke dalamnya. Tiga kekuatan besar salam jagad mahan luas ini adalah algoritma, pesona dan dana. Tanpa memiliki itu siapapun akan bernasib seperti planet Pluto yang hilang-hilang keluar dari orbit. Sejago apapun seorang wartawan menulis karya jurnalistik di media digital, karyanya hanya sebuah titik noktah yang kesepian di luas dan riuhnya dunia maya digital.
Sehingga dapatkah, dengan uraian kondisi metamorfosis Pers Nasional dalam perjalanan sejarahnya diatas, kita membuat pertanyaan. Masih mungkinkah industri Pers akan bisa dapat hidup layak seperti di era platform cetak ? Di platform digital, tak ada lagi loper koran yang menyetor hasil jual koran dan para pengiklan datang. Uang loper digantikan biaya kouta data internet, dan para biro iklan sudah diiwakili adsense.
Disrupsi yang ditimbulkan oleh era digital telah merobohkan banyak platform bisnis lama, termasuk percetakan. Era Industri Pers telah terkoreksi dengan sangat kuat oleh disrupsi digital. Dengan menghilangnya pasar Pers di platform digital, posisi wartawan sebagai pemilik skill tulisan jurnalistik berubah ke dalam barisan Humas atau juru bicara segala institusi dan segala cuaca untuk tetap ada pemasukan. Tapi pertanyaannya apakah Humas itu Pers ?
Segala teori pelestarian Pers Nasional melalui Ekosistem Pers Digital atau fungsi penting Pers sebagai penyebar informasi yang layak anti hoax, hanya teori-teori lemah yang belum bisa menjawab kiamat disrupsi Industri Pers. Terkesan Industri Pers dipaksakan hidup hanya karena Undang-undangnya ada, Dewan Pers-nya ada, sementara barisan wartawannya telah menjadi Humas segala institusi dan segala cuaca. Realitas berita wartawan tak dapat terkapitalisasi pada era digital, yang berujung mengasong tarif pemberitaan atau mengusung jagoannya agar dapat numpang hidup darinya.
Sebuah ironi besar Pers Nasional yang kehilangan pasar, namun dipaksakan harus membuat PT (Perseroan Terbatas). Prakteknya untuk biaya hidup dengan cara mengasong dan mengusung yang itu sama-sekali itu bukan lah pers. Pers jadi kehilangan maknanya, pertama dipukul oleh ancaman dirinya sebagai komoditi di era industri pers dan yang kedua ketika habisnya metafisika independensi lantaran hilangnya potensi pasar pers di era digital sebagai fisika realitasnya.
Ada baiknya keadaan ini secara jujur dibahas dalam sebuah Kongres Pers Nasional yang diprakarsai Dewan Pers dan semua konstituen Dewan Pers untuk menyikapi keadaan ini semua. Semua pekerjaan di muka bumi ini tak ada yang bisa dilakukan dengan keadaan perut kosong, termasuk pekerjaan wartawan. Sehingga upaya untuk melestarikan Pena Suci di era yang dikurung tekanan provansi yang serba materiil dan melemahnya nafas independensi terkait Pers numpang di kamar Humas.
Barangkali bapak tilas Pers Sebagai Rahim Kebangsaan Indonesia, sebagai patriot Proklamasi bagian tak terpisahkan dari lima tahun era perang Revolusi 1945. Sebagai pengelola ide-ide besar terkait norma sistem kekuasaan Indonesia yang hendak diantut untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia.
Bangsa ini banyak terpuruk karena mengkapitalisasi hal-hal yang sakral seperti agama, pendidikan, kesehatan, pertahanan, keamanan, termasuk juga Pers. Pers sebagai Rahim tempat inkubasi Kebangsaan Indonesia, harus berjenak-jenak merenungkan kenapa kita setelah 80 tahun kemerdekaan jadi se-Barat ini.
Abdul Munib menjelaskan dalam Kajian Ilmiah Pers gelombang pertama, dengan menyatakan bahwa hakikat Pers dan hakikat Manusia adalah sama, yaitu sama-sama berpikir. Di era yang pikiran ini sudah terbelenggu oleh framing dan tumpukan sampah berita hoax, peradaban manusia otomatis mengalami keterpurukan. Ketika manusia adalah pemakan daging selamanya.(amd)
Bagikan artikel ini



