Kajian Ilmiah Pers (37) Pers Sebagai Proposisi dan Bagian dari Nilai Pengetahuan
NABIRE - Ketika kata press (tekan) diambil dari profil fisik mesin cetak, yakni kertas ditekan oleh silinder dan plat lalu muncul tulisan tercetak, telah berganti ke mesin pencari platform (medium) digital maka banyak perubahan yang disebabkan oleh perbedaan karakter kedua platform itu.

NABIRE - Ketika kata press (tekan) diambil dari profil fisik mesin cetak, yakni kertas ditekan oleh silinder dan plat lalu muncul tulisan tercetak, telah berganti ke mesin pencari platform (medium) digital maka banyak perubahan yang disebabkan oleh perbedaan karakter kedua platform itu.
Platform cetak menitikberatkan pada kata-kata dengan fotografi sebagai pendukungnya. Sedangkan karakter platform digital menitikberatkan pada video dan desain grafis, dengan kata-kata tertulis atau lisan diucapkan oleh pembaca narasi atau Artificial Intelijen sebagai pengantarnya.
Sehingga unsur penulisan berita dalam pers digital semakin menipis. Karena penonjolannya dalam unsur materi video dan grafis, maka posisi kata-kata hanya pendukung semata. Karena itulah maka, ancaman paling serius platform digital adalah menghilangnya tradisi tulis wartawan yang dulu kaya ragam tulisan di era cetak. Sehingga kumpulan catatan dari serial kajian ilmiah pers yang digelar di jantung Redaksi Papuapos Nabire ini, adalah catatan senjahari tradisi tulsan jurnalistik yang pernah dialami langsung oleh penanggung jawabnya, Haji Abdul Munib selama 31 tahun mengawal narasi pers di Papua.
Pertanyaannya, apakah kemudian Pers ini dapat dinyatakan telah mati akibat pergantian platform dari mesin cetak ke mesin pencari ? Tentu untuk menjawab ya atau tidak membutuhkan suatu uraian panjang tersendiri yang melibatkan sejarah pers di Indonesia. Sekian lama menafsir suatu peristiwa, masalah, fenomena, pers nasional menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya penetapan proposisi dan nilai pengetahuan.
Pada sisi ini lah Pers sesingkat apapun pesan yang disampaikannya, harus merupakan sebuah upaya konstan dari sang pencari nilai pengetahuan. Dimana teori pengetahuan berasal dari memahami konsepsi subjek, dan memberi justifikasi apirmasi predikat setelah sekian upaya reportase yang bernas.
Dalam kasus Vina Cirebon misalnya, sang ratu dunia (anggapan umum) bukan lagi berada di tangan pena wartawan (Pers) . Melainkan anggapan umum itu berada di tangan Nitizen. Boleh jadi para Nitizen lah yang kini menduduki posisi Sang Ratu Dunia yang dulu mahkotanya dipakai oleh Pers. Masalahnya Nitizen bukan sebuah lembaga Pers atau lembaga usaha Pers. Dia adalah individu-individu yang bergerak sendiri-sendiri membongkar data-data yang berserak di jejak digital. Ketika makna itu yang terdefinisikan, seperti dalam buku Filsafat Ratu Dunia Adi Negoro, maka Pers sudah mati. Peranannya digantikan Nitizen, sebagai Ratu Dunia yang mengendalikan opini publik.
Namun jika kita kembali kepada definisi keterampilan atau ahli dalam interepestasi terhadap fakta, maka wartawan tidak ada matinya. Meskipun untuk sementara ini masih bergantung kepada institusi-institusi yang memakai jasa keahliannya.
Meski memiliki Undang-Undang, yakni UU nomor 40 tahun 1999 tentang Pers, selama ini Pers membiayai dirinya sendiri. Profesi lain seperti tentara, polisi dan ASN sama-sama punya Undang-Undang. Sekalpun terbiasa disebut pilar ke empat demokrasi setelah Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif yang kesemuanya dibiayai APBN, Pers selama ini disuruh hidup di pasar untuk membiayai dirinya sendiri. Persoalannya karya jurnalistik tak dapat terkapitalisasi dengan baik di era platform digital. Dari sisi pengemban amanat Undang-undang, profesi wartawan tetap tegak berdiri sebagai mengemban konstitusi. Meski dalam keadaan berdarah-darah.
Menurut, Abdul Munib, situasi pasang surut bagi Pers di pasar tempat dulunya menemukan lahan suburnya di era cetak dan frekuensi televisi, dan kini kehilangan unsur ekonomisnya di era digital dirasakan oleh semua insan pers Indonesia. Di ibu kota Jakarta yang mau dipindah satu orang masih kelihatan menjajakan koran nasional yang tersisa enam belas halaman. Sementara media-media online pun menggigil kedinginan di dunia maya.
Walhasil ujarnya, apapun yang masih tersisa dari perjalanan Pers sejak adanya teknologi cetak, hingga kini era mesin pencari, kebenaran harus terus dirindukan untuk ditemukan, meskipun kemutlakannya bukanlah milik kita. Barangkali juga komitmen berbangsa harus tetap diingatkan. Dan jati diri bangsa adalah Falsafah Pancasila, maknanya harus tetap ditaburkan di pelataran kebangsaan Sabang Merauke oleh Pers Nasional kedepan.(amd)
Bagikan artikel ini



