Kajian Ilmiah Pers (36) Tulisan Pers Sastrawi Rintisan Gunawan Mohamad
NABIRE - Ada dua hal yang tak diragukan dari seorang Gunawan Mohamad, pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu. Dua yang tak diragukan darinya itu: satu kepenyairannya dan yang kedua kewartawanannya.

NABIRE - Ada dua hal yang tak diragukan dari seorang Gunawan Mohamad, pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Tempo itu. Dua yang tak diragukan darinya itu: satu kepenyairannya dan yang kedua kewartawanannya. Bahkan dua hal yang niscaya dari dirinya itu bersenyawa kedalam sebuah gaya baru dalam penulisan, yakni jurnalistik sastrawi atau pers sastrawi.
Walhasil Gunawan Mohamad memberi ketegasan pada sastra modern Indonesia yang dipelopori Chairil Anwar. Juga memberi genre baru pada penulisan pers sastrawi di Indonesia. Bahkan mungkin dunia. Setidaknya Majalah Mingguan Tempo tumbuh awalnya seperti itu dalam gendongan pengasuhnya yang penyair wartawan.
Manifestasi dari teori perkawinan dunia sastrawi dan dunia Pers ada dalam perjalanan Majalah Tempo pada awalnya. Tapi tidak semua wartawan Tempo harus sastrawan, atau tidak setiap wartawan harus bergaya Tempo. Melainkan pertemuan dua talenta kuat pada diri seorang Gunawan Mohamad ini telah melahirkan fenomena baru dalam ragam tulis Pers Nasional, yang dimasukan kedalam tujuh model penulisan dalam sejarah tradisi penulisan Pers kita.
Tulisan Pers bercorak sastrawi selain kental dengan platform majalah mingguan atau bulanan, juga melekat pada tulisan khusus seseorang baik dari kalangan wartawan, seniman atau budayawan. Para penulisan kolom Majalah Mingguan Tempo seperti Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, Abdurrahman Wahid, Mahbub Junaidi atau Mohamad Sobari memiliki kekuatan tulisannya yang enak. Penulisan sastrawi di era Pers mesin cetak mungkin tak semuanya akan dapat terkoneksi atau dapat hidup di Pers digital yang super cepat dan serba visualis.
Mesin pencari memiliki karakter yang jauh berbeda dari mesin cetak. Sehingga Pers Sastrawi perlu komunitas khusus yang dapat mengembangkannya di situasi sosial yang serba instan. Dengan pers sastrawi literasi nasional masih bisa diperjuangkan. Pers sastrawi harus tetap hidup di sela-sela karakter pers digital yang sangat full kecepatan dan semakin singkat.
Independensi dalam etika pers dan suara nurani yang ada pada diri seorang penyair, gabungan keduannya merupakan substansi Pers Nasional. Sehingga keberpihakan narasi akan berpihak pada keadilan, kebenaran, kesetaraan dan membela pihak yang terzalimi. Kekuatan berargumentasi dalam sikap redaksi juga harus mampu mempertahankan Pers Nasional sebagai suatu peran Kepala Suku Pikiran dalam masyarakat bangsa Indonesia.
Sedangkan menurut Dahlan Iskan, pada sebuah Podcast dengan Pemred Kompas. Com, menjelaskan tentang tulisan sastra seperti novel sama rulisan jurnalistik, bedanya pada sastra tokoh dan plotnya dibuat terlebih dahulu untuk membuat perumpamaan atau tamsil dari sebuah peristiwa. Sedangkan tulisan pers tokoh dan plotnya sudah ada, tinggal langsung menuliskan saja.
Dalam era Pers Digital, menurut Abdul Munib, pers nasional harus menguasai secara mendalam asas-asas logika dan filsafat transenden. Orang zaman sekarang kurang memiliki kemampuan untuk membaca panjang, seperti di era cetak lalu. Satu contoh pada kasus Vina Cirebon, investigasi Kang Dedi Mulyadi menemui sejumlah sumber dan menelusuri cerita delapan tahun lalu. Apa yang hendak dia sampaikan adalah kuatnya indikasi peradilan sesat. Novum baru harus ditemukan untuk mengkonstruksi sebuah alibi yang kokoh. Peradilan sesat sudah ada cara contohnya dulu pada kasus Sengkon dan Karta. Pers Cetak sudah senjakala, Pers televisi hanya mengumbar dialog yang sengkarut penuh debat kusir.
Seharusnya ada jurnalistik sastrawi yang bisa menulis lengkap perkara Vina Cirebon ini. Ini terkait alat-alat penegakan hukum yang rusak pada akhir akan menghasilkan vonis yang rusak. Lalu siapa yang akan menolong rakyat kita. Sementara proposisi yang dibuat setiap hari oleh Pers tidak mampu membuatmu simpulan konklusi atas masalah-nasalah netbangsa dan bernegara antara kita.
Pers kita penuh dengan kebenaran verbal. Kebenaran yang dangkal sekali, karena hanya memverifikasi adanya orang bicara. Belum memverifikasi apakah yang dibicarakan itu sudah benar atau tidak. Sekuat mungkin reportase harus menjadi verifikasi yang disposesif : faktual, logis dan ontologis. Sehingga semua sebaran konten kreator dan video grafer dalam plat form (medium) digital tidak bisa lari dari substanai sebuah informasi yakni adanya nilai pengetahuan yang kayak.(amd)
Bagikan artikel ini



