NABIRE - Di era pers digital, walhasil era pers yang tidak dalam platform atau medium cetak, tulisan Tajuk yang mewakili opini redaksi semakin ditinggalkan. Masing-masing Pers Dotkom berlomba kecepatan dengan media sosial. Sehingga pers pada era digital, dalam plat form mesin pencari, hampir seluruhnya didominasi model penulisan spotnews. Sehingga tulisan tajuk makin jarang dijumpai kecuali di pers mesin cetak.

Tapi tajuk adalah politik redaksi. Biasa disebut juga pendapat redaksi atau opini redaksi. Biasa ditulis oleh seorang Pemimpin Redaksi (Pempred), wakil pemimpin redaksi atau minimal seorang redaktur pelaksana (Redpel).

Hal ini seiring dengan falsafah pers, dimana menurut Adinegoro dalam bukunya Falsafah Ratu Dunia, bahwa pers itu tidak lain dan tidak bukan adalah anggapan umum itu sendiri.

Barangkali benar tajuk atau opini redaksi ini yang berangkat dari anggapan umum, sehingga di kampus-kampus besar di Eropa dan Amerika kini gelombang besar pro Palestina berbulan-bulan tak juga bisa dipadamkan walaupun sudah ditekan begitu rupa oleh polisi setempat. Dunia Barat yang notabene Kristen justru masyarakatnya bukan pro Israel lagi. Melainkan demonstrasi besar-besaran sebagai anggapan umum mereka. Anggapan redaksi berupa tajuk adalah suara kuat dari kecenderungan publik yang tersadarkan.

Dalam pers yang menyediakan informasi umum dari banyak hal, peristiwa, fenomena, perspektif atau hipotesa, tentu segalanya serba terbatas atau serba dangkal. Dulu, dalam mesin cetak, terbatas ruang atau kolom yang tersedia. Sekarang di era pers digital, tetap dibatasi boleh kelayakan orang jaman sekarang bertahan membaca teks. Tulisan panjang, jaman sekarang, akan kurang peminatnya dari masyarakat umum.

Dalam sebuah perdebatan di televisi antara Rocky Gerung yang filsuf, Aiman Wicsksono yang wartawan atau host acara dialog dan Imanuel Ebenezer yang politisi, ketiganya bertolak dari titik start yang berbeda ketika membahas putusan MK seputar usia kandidar Capres. Rocky bicara pikiran, bagaimana pikiran bekerja secara filosofis. Aiman bicara fakta dan data, sebagai suatu hal yang sering disebut fakta itu suci. Dan Ebenezer yang bertolak dari moral yang dipahaminya. Mereka dalam satu ruang debat, suasananya seperti disekat dalam dinding kaca yang kokoh. Pemirsa tak melihat dinding transparan yang melilit kuat di masing-masing dari ketiganya. Tak saling dapat memahami masing-masing. Mereka tetap berdiri dipijakan sudut pandang atau paradigmanya masing-masing.

Menara gading di ketinggian akademis tempat Rocky Gerung berdiri memaparkan teori filsafat Baratnya, fakta suci yang digenggam Aiman sebagai basisnya, dan moral baik buruk sebagai alat ukur Ebenezer, menggambarkan bahwa semakin kuatnya alat pemecah. Dan semakin melemahkan kekuatan kita dalam memahami kesatuan memikirkan bersama seperti Falsafah Pancasila.

Tajuk tetap berdiri pada fakta yang sudah disajikan wartawan dalam sebuah proposisi interpretasif berupa berita kemarin. Lalu redaksi menariknya secara deduktif menjadi sesuatu yang bercorak proposisi ilmiah terminologis publisistik.

Dalam perang Ukraina dan Perang Gaza, terdapat perang media yang sangat dahsyat. Tajuk tidak masuk kedalam kelompok tulisan kronika berupa peristiwa yang terikat waktu dan tempat. Tajuk memotret realitas yang difahaminya dan memunculkannya dalam suatu fenomena yang diidentikkan dengan anggapan umum. Kalau mau melihat Ratu Dunia atau anggapan umum bacalah tajuk suatu penerbitan pers, karena seorang Pemred dapat dikatakan selalu berpijak pada potret anggapan umum.

Menurut Abdul Munib, seorang wartawan utama harus mahir menulis tajuk. Bekalnya adalah keluasan wawasan. Memaksakan diri secara keras dengan latihan-latihan yang terus menerus. Seorang wartawan yang belum menguasai penulisan tajuk tak akan merasakan denyutan tarikan dan hembusan nafas pers. Dalam berita kronika berupa peristiwa terikat ruang waktu kita menuju kepada khusus partikularitas. Ia bertumpu pada subjek bernas (tidak ambigu) dan penilaian afirmatif yang terang benderang secara baik dan benar- benar terverifikasi. Itu hembusan nafas keluar mencari realitas fisika di alam. Sedangkan tulisan Tajuk adalah tarikan nafas Sang Wartawan dimana dirinya adalah bagian dari realitas yang menafsir fakta verbal tulisan pers yang ada.

Dikatakannya bahwa, disamping menarik konklusi atau kesimpulan dari berita yang beredar dari sudut pandang anggapan umum, tulisan tajuk selalu berorientasi kepada kebaikan bersama. Tulisan Tajuk adalah hadiah besar dari kemerdekaan berpendapat.

Mudah dan murahnya membuat media di era digital menghancurkan bangunan struktur redaksi mulai dari bawah, wartawan, redaktur atau editor, redaktur pelaksana dan pemimpin redaksi. Realitas dan mayoritas setiap wartawan punya satu media digital. Tak bisa tidak, di era pers digital ini satu orang wartawan harus dapat mencapai kemampuan menulis tajuk.(amd)