NABIRE - Menulis features dilakukan oleh seorang wartawan. Seseorang artinya subjektif, walhasil sebagai pelaku perbuatan menulis. Ini kebalikan dari tulisan kemarin, berjudul Melukis Sang Jiwa. Dimana, disana manusia dan seluruh relasinya baik dengan alam dan Tuhan sebagai objek tulisan. Kini kita meninjau manusia dari sisi si penulis features. Atau Sang Jiwa yang melukis.

Seorang wartawan yang menulis features, adalah seorang manusia yang objek tulisannya adalah tentang manusia dan semua relasinya. Dalam tulisan features selalu ingin menakar segalanya sesuatu dengan pandangan jernih kemanusiaan yang tak boleh menghegemoni manusia lainnya.

Misalnya ada peristiwa atau kejadian ikan hiu Gurano Bintang terdampar di pantai kita. Yang terdampar memang ikan hanya hiu, tak ada keluarganya dari kalangan manusia yang menangis tersedu. Tapi ada relasinya antara manusia dan alam, termasuk hiu terdampar tadi. Apa relasinya? Hiu terkait mata rantai makanan di laut. Kita juga pemakan ikan setiap hari. Kalau di laut ada pencemaran, selain hiu akan mati kita juga kesehatannya terancam.

Manusia tidak hidup sendirian di atas bumi dan di kolong langit ini. Telapak kakinya harus berpijak di atas tanah. Paru-parunya masih harus menghidup udara gratis. Udara yang dirinya dan nenek moyangnya tidak pernah bikin atau buat pabrik udara. Untuk itu manusia perlu tulisan features yang terus menginginkan selalu kepada fitrah untuk apa dia diciptakan. Dengan satu koin rasionalitas, yang dirinya terbedakan dari hewan. Koin yang punya dua sisi, yakni kemerdekaan di satu sisi, dan di sisi lainnya tanggung jawab.

Sebagai manusia seorang wartawan tidak bisa lepas dari koin rasionalitas itu. Kemerdekaan purba dan tanggung jawab purba, sebelum datang aturan-aturan yang diciptakan boleh manusia tentang kemerdekaan pers. Boleh dikata bahwa kemanusiaan, rasionalitas dan kemerdekaan bertanggung jawab adalah satu keidentikan. Yang digambarkan sebagai makna fitrah atau cetakan awal manusia. Dengan energi cetakan awal inilah seorang wartawan menulis atau melukis realitas ruang terhampar di depan benaknya dan dirasakan kehadirannya dalam subjektivitas seorang penulis.

Sang jiwa tidak masuk ke dalam konsep kebhinekaan, sebab jiwa berasal dari Nafsa Wahidah (Satu Jiwa). Dalam mafhum eksistensi, yang eksis hanya realitas tunggal. Adapun cara menjelaskan eksistensi alami, adalah melalui pemahaman bahwa alam adalah Faid Al-aqdas (pemberian/limpahan/karunia) dari Sang Suci.

Tulisan features dihasilkan dari manusia wartawan yang merenung menghayati kemanusiaannya. Melly kebelakang pasangan sejarah, membaca trend kekinian dan menerawang masa depan manusia menunggu Ratu Adil.

Menurut Abdul Munib, setiap wartawan Indonesia perlu merutinkan diri menulis features, sebagai sebuah perjalanan makrifat jiwa melalui pekerjaan pers. Bahwa jiwa kita terbentuk dari bahan asal maddah (materi nutfah) yang kepadanya ditiupkan ruh, sejak itu dua adonan itu jumbuh dalam satu maqamat (capaian akhir) yang datang menyendiri kepada Sang Maha Esa membawa pertanggungjawaban total. Seraya selalu tak putus-putus membangun seluruh prasangka baik yang pernah ada dalam benak dan tindakan manusia sepanjang mereka pernah ada atau jika terus diadakan. Atau kepada entitas beraksi siapapun yang Tuhan kehendaki.

Maka tulisan features juga akan menulis objek ketidak-adilan. Dunia gelap penuh topeng kemunafikan, penuh jiwa gelap yang kalah, mereka mencari Sang Pemimpin sambil menutup matanya dengan kain ego yang diwariskan turun temurun. Tulisan features akan membongkar dimensi kejahatan manusia dan kenabian manusia. (amd)