NABIRE - Bertempat aula pertemuan Taman Kanak-kanak (TK) Santo Antonius Bumiwonorejo Nabire, pada hari Jumat (31/7/2020), Kepala Dinas Kabupaten Nabire,Yulianus Pasang membuka secara resmi kegiatan pelatihan sosialisasi dan pendidikan keluarga.

Pantauan di lapangan, sebelum membuka kegiatan dimaksud Pastor Yohanis Agus Setiyono, SJ Pastor Paroki Kristus Sahabat Kita dan Kuasi Paroki St. Antonius.

Dalam uraiannya Pastor menegaskan, sesulit apapun komunikasi cinta kasih dalam rumah wajib terjadi dan jaga.

Tidak terjadi bercerai berai.

Bapak dan mama harus sepaham sebagaimana janji perkawinan dihadapan Allah di gereja agar pendidikan yang baik,cintai damai sungguh-sungguh subur dalam mendampingi dan mengantar anak-anak yang diberikan Tuhan mencapai masa depan yang baik. 

Pendidikan keluarga adalah pondasinya pendidikan, seperti bangun rumah itu pasti kokoh dan kuat.

Seperti itulah pendidikan dalam keluarga.

Pastor mengharapkan melalui Ketua Dewan Kuasi St. Antonius agar kegiatan serupa dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak umat tidak hanya orang tua TK St. Antonius. 

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire,Yulianus Pasang mengatakan selaku Kepala Dinas Pendidikan Nabire mengapresiasi  TK.

St Antonius yang telah melaksanakan pelatihan dan sosialisasi pendidikan keluarga bagi orangtua sebelum anak-anak berektifitas sekolah karena pendidikan keluarga saat ini amat dibutuhkan untuk masa depan anak yang cerdas, pintar, disiplin dan ceria.

Apresiasi juga disampaikan kepada para fasilitator pendidikan keluarga kabupaten, Sekretaris Dinas Pendidikan Victor Tebai, Ketua IGTK Jequlince H.L. Korwa dan Akademisi Uswim Nabire Petrus Tekege, yang selama ini melakukan sosialisasi dan pelatihan di sekolah-sekolah.

Ibu Korwa sebagai fasilitator dalam materinya tentang perilaku yang baik dalam keluarga dan pengasuhan positif menjelaskan akan menjadi jembatan emas bagi anak, manakalah perilaku kita orang tua di rumah menjadi baik.

Itu artinya, jika anak diajak berdoa, disiplin, berkata dan bersikap sopan santun, jujur saling menghargai, dampingi anak belajar, tidak ada kekerasan fisik dan non fisik, menghormati, bertanggungjawab maka yakinlah anak kita juga akan berperilaku sama dikemudian hari. 

Jika sebaliknya, maka itulah yang bisa saja terjadi, pintasnya Ibu Korwa yang juga selaku Kepsek TK Imanuel ini, anak adalah masa depan bersama untuk bapak, mama dan keluarga karena itu kita bentuk anak demi masa depan Papua yang lebih mantap.

Di kesempatan yang sama, selaku fasilitator Petrus Tekege, memberi ketegasan tumbuh kembang anak tidak hanya cemerlang ditentukan setelah anak lahir tetapi sebelumnya.

Mulai dari (0) bulan mama dinyatakan hamil dan itu sudah mulai melukis masa depan yang baik. 

Karena itu, Tekege menegaskan anak memiliki hak dasar untuk hidup sehat, pintar, ceria masa depannya.

Orang tua wajib melakukan tiga hal, pertama gizi yang harus benar dan maksimal sesuai pola hidup sehat, kedua stimulasi praktik-praktik sederhana untuk rangsang janin atau bayi minimal 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Yang ketiga, perilaku orang tua yang harus benar, seperti banyak baca buku, kerja keras, menghindari tindakan-tindakan kekerasan, bertanggung jawab, disiplin,rajin berdoa atau ke gereja sehingga mulai saat janin didalam rahim, setelah lahir dalam pertumbuhannya anak ikuti terjaga.

“Jangan seperti perilaku mabuk, judi, malas kerja dan urus-urus sesuatu yang tidak penting.

Hidup ketergantungan dan lain sebagainya,” pungkasnya.(modes)