Inovasi Pengelolaan Limbah Medis: IPAL RSUD Nabire Berbasis Teknologi Elektro

NABIRE - Pengelolaan limbah medis kini menjadi tantangan mendesak di era modern, terutama bagi rumah sakit sebagai produsen limbah terbesar. Namun, seiring berkembangnya teknologi dan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, transformasi besar mulai terlihat pada cara Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) rumah sakit diatur dan dioperasikan agar lebih ramah lingkungan.
Limbah medis yang dihasilkan rumah sakit memiliki karakteristik yang sangat kompleks dan beragam. Limbah ini mencakup bahan-bahan berbahaya mulai dari sisa darah, bahan kimia pembersihan, obat-obatan kedaluwarsa, hingga limbah infeksius lainnya yang memerlukan penanganan khusus agar tidak menjadi sumber penyakit baru.
Jika tidak dikelola dengan sistem yang mumpuni, limbah medis tersebut berpotensi besar mencemari lingkungan di sekitar rumah sakit. Hal ini tentu mengancam keberlanjutan ekosistem serta kesehatan masyarakat luas, sehingga diperlukan inovasi teknologi yang mampu menetralisir dampak negatif tersebut secara efektif.
Salah satu inovasi terkini yang diterapkan adalah pengembangan teknologi pemisahan yang lebih canggih dan selektif. Teknologi ini memungkinkan limbah medis dipisahkan menjadi fraksi-fraksi tertentu, sehingga proses pengolahannya menjadi jauh lebih efisien.
Ketua Komite K3RS, Hesty Paula, S.Kep. Ns. MA, saat ditemui di Kantor Humas BLUD RSUD Nabire, Senin (12/01/2026), menjelaskan pihaknya kini menggunakan teknologi IPAL canggih. Fasilitas ini merupakan bantuan dari Provinsi Papua Tengah yang tidak lagi mengandalkan sistem biologi atau bakteri.
Menurut Hesty, sistem lama yang menggunakan bakteri memiliki risiko tinggi karena petugas harus menjaga agar bakteri pengurai tetap hidup. Jika bakteri mati, proses penguraian limbah akan terhenti total. Oleh karena itu, RSUD Nabire beralih ke teknologi berbasis elektro yang dinilai lebih stabil dan modern dalam menetralisir limbah cair.
Meski telah menggunakan teknologi canggih, operasional di lapangan masih menemui beberapa kendala teknis, terutama pada konstruksi pipa yang kurang ideal. Idealnya, pipa IPAL dibangun dengan sistem gravitasi atau menurun, namun di RSUD Nabire kondisi pipa cenderung datar sehingga aliran limbah tidak lancar.
Untuk mengatasi hambatan aliran tersebut, pihak manajemen RSUD mengambil langkah inisiatif dengan menyediakan pompa khusus. Pompa ini berfungsi untuk membantu menghisap limbah cair yang tertahan di dalam pipa agar dapat mengalir menuju pusat pengolahan dengan maksimal dan mencegah penyumbatan.
Masalah lain yang muncul justru berasal dari perilaku pengguna fasilitas, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan ke dalam kloset. Akibatnya, saluran air seringkali tersumbat dan petugas harus melakukan pembongkaran pipa terlebih dahulu untuk melancarkan kembali aliran limbah rumah sakit.
Hesty Paula sangat berharap adanya kesadaran dari masyarakat, baik pasien maupun pengunjung, untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ia mengimbau agar sampah dibuang pada tempat yang telah disediakan demi memastikan seluruh sistem sanitasi dan lingkungan rumah sakit tetap terjaga kebersihannya.
Terkait sampah non-medis, RSUD Nabire menjalin kerja sama dengan pihak swasta guna mempercepat pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Langkah ini diambil untuk memastikan sampah tidak menumpuk terlalu lama di area rumah sakit sembari menunggu jadwal pengangkutan rutin dari dinas terkait.
Dalam hal pemilahan, RSUD Nabire menerapkan standar ketat dengan pemisahan warna kantong plastik: kuning untuk sampah medis dan hitam untuk non-medis. Khusus untuk sampah medis tajam seperti jarum suntik, disediakan safety box khusus sebelum akhirnya seluruh limbah medis tersebut dimusnahkan menggunakan alat insinerator dengan suhu tinggi.(amd)
Bagikan artikel ini



