NABIRE - Untuk menghindari dan mengurangi jumlah angka lulusan SD yang tidak bisa membaca dan mengeja di tingkat SMP/MTs, guru-guru SD diminta untuk dapat bekerja secara maksimal dengan menerapkan metode Membaca Menulis dan Menghitung (3M) semenjak murid duduk di kelas III SD/Mi. Sebab, dengan penerapan tes masuk SMP/MTs yang kini sedang giat dilaksanakan semenjak awal tahun pelajaran 2018/2019 di seluruh SMP/MTs dapat merusak citra guru sebagai garda terdepan dalam kemajuan dan kecerdasan anak-anak bangsa di daerah ini. Karena berdasarkan data Sidak atau turun lapangan yang giat dilakukan oleh Kepala Bidang (Kabid) SD/MTs Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire Melkias Pekey, S.Pd,S.Ip.,MM di sejumlah sekolah telah ditemukan ada anak lulusan SD yang tamat diakhir tahun pelajaran 2017/2018 tidak bisa membaca. Kepala Bidang SMP/MTs Dinas Pendidikan Melkias Pekey kepada Papuapos Nabire belum lama ini menambahkan, anak tidak bisa membaca merupakan tanggung jawab kita semua atau guru, orang tua murid dan pemerintah. Namun dalam hal membaca menulis dan menghitung dalam rangka membangun Sumber Daya Manusia (SDM) telah menjadi tanggung jawab guru di kelas atau sekolah, sehingga kepada semua guru diharapkan untuk menjaga nama baik organisasi profesionalisme guru di mata publik. Dan perlu diingat guru di sekolah menjadi contoh didepan bagi murid menjadi dorongan dari belakang bagi murid, sementara di masyarakat guru hadir sebagai panutan bagi masyarakat dimana guru itu tinggal atau bertugas, sehingga tugas guru itu sangat mulia. Karena berdasarkan data sidak diawal tahun pelajaran 2017/2018 lalu telah ditemukan puluhan anak-anak lulusan SD yang tidak bisa membaca dan mengeja di SMP, namun diawal tahun pelajaran 2018/2019 dari hasil sidak angka tersebut menurun jumlahnya. (des)