NABIRE - Pada tahun 2018 silam, Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas Pendidikan membangun satu ruangan gedung perpustakaan bagi SMP PGRI Nabire. Namun semenjak dibangun hingga saat ini gedung tersebut tidak digunakan. Sebab sebagian besar bahan kayu yang digunakan untuk pembangunan gedung perpustakaan diambil dari bahan kayu putih yang tidak berkwalitas. Sehingga dalam hitung bulan setelah dibangun, terlihat sudah ada bagian bangun yang mengalami kerusakan.

Pihak sekolah mengambil keputusan untuk gedung perpustakaan yang telah dibangun itu hanya bisa digunakan sebagai gudang penyimpangan kursi dan meja yang sudah rusak. Karena tidak bisa digunakan untuk tempat penyimpangan buku-buku bacaan sekolah.

”Kalau mau dibilang pembangunan gedung perpustakaan ini baru dibangun, tetapi kayu yang dipakai tak berkwalitas. Sehingga cepat rusak berat dibangunan bagian atas hingga di dasar atau tehel,” ujar Kepala Sekolah SMP PGRI Nabire, Yuliana Tenouye, S.Sos kepada Papuapso Nabire, Kamis (13/4/23).

Kepala sekolah dan seluruh dewan guru hanya meminta perhatian yang serius dari pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire. Agar ada bantuan dana rehab gedung perpustakaan SMP PGRI Nabire yang saat ini rusak berat.

Karena dengan rusaknya gedung perpustakaan ini, buku-buku bacaan murid maupun buku–buku modul pelajaran milik sekolah terpaksa disimpan pada ruangan dewan guru. Karena para guru takut buku-buku tersebuat akan basah dan rusak.

Bukan saja gedung perpustakaan yang rusak, tetapi ruangan laboratorium sekolah juga rusak. Pihaknya mengharapkan adanya keseriusan dan perhatian dari dinas agar dua gedung yang rusak ini bisa direhab demi kesuksesan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMP PGRI Nabire.

“Harapan kami bukan saja dua gedung itu yang diperhatikan, tetapi juga diharapkan ada pembangunan pagar yang layak di SMP PGRI Nabire. Sebab banyak aset sekolah yang hilang dicuri oleh oknum–oknum tidak bertanggung jawab akibat tidak ada pagar yang memadai,” ujarnya. (des)