NABIRE – Pemuda Kristen tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pembangunan Papua Tengah. Mereka harus tampil sebagai kekuatan perubahan, mitra kritis pemerintah, sekaligus penggerak persatuan, toleransi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Tanah Papua.

Pesan itu mengemuka dalam Konferensi Daerah (Konferda) I Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Papua Tengah yang dirangkaikan dengan Konferensi Cabang (Konfercab) serentak di delapan kabupaten se-Papua Tengah, di Nabire, Jumat (9/10/2026).

Mengusung tema nasional “Pulihkan Bangsa Kami” yang bersumber dari Mazmur 80, serta subtema “Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transformatif dan Inovatif”, agenda ini menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan komitmen GAMKI untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Ketua DPD GAMKI Papua Tengah, Anis Labene, menegaskan bahwa Konferda I tidak boleh berhenti sebagai agenda pembentukan atau pergantian kepengurusan. Forum tersebut harus menjadi titik awal lahirnya gerakan pemuda Kristen yang solid, profesional, dan mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Anis memaparkan lima komitmen strategis GAMKI Papua Tengah, yakni memperkuat persatuan pemuda Kristen lintas denominasi, menempatkan persaudaraan di atas kepentingan politik, membangun kemitraan kritis dan strategis dengan pemerintah, memperjuangkan toleransi serta kebebasan beribadah, dan menyiapkan SDM pemuda yang profesional.

Menurutnya, persatuan pemuda Kristen harus dibangun tanpa sekat sinode, profesi, maupun pilihan politik. Soliditas organisasi menjadi modal penting untuk menyatukan potensi, gagasan, dan kemampuan kader dalam menjawab tantangan pembangunan di Papua Tengah.

Ia juga mengingatkan kader GAMKI agar menyikapi dinamika politik secara bijaksana dan tetap mengutamakan pengabdian kepada Tuhan, bangsa, dan Tanah Papua.

“Konferda I ini harus menjadi titik awal baru. Kita tidak boleh pulang hanya membawa kepengurusan baru, tetapi harus membawa semangat, gagasan, dan tanggung jawab baru untuk menjadi pelaku perubahan nyata di Tanah Papua,” tegas Anis.

GAMKI Bukan Sekadar Pendukung Pemerintah

Dalam hubungan dengan pemerintah daerah, Anis menekankan bahwa GAMKI harus mengambil posisi sebagai mitra yang kritis sekaligus strategis. Artinya, organisasi kepemudaan ini tidak hanya mendukung program pemerintah, tetapi juga berani memberikan masukan, mengoreksi kebijakan yang perlu diperbaiki, serta menawarkan solusi konstruktif demi kepentingan masyarakat.

Ia mendorong seluruh DPC GAMKI di delapan kabupaten menyusun program kerja yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah.

Anis juga menegaskan pentingnya perlindungan terhadap toleransi dan kebebasan beragama. Menurutnya, tidak boleh ada diskriminasi maupun pembatasan terhadap warga negara yang menjalankan ibadah sesuai keyakinannya.

Negara, kata dia, memiliki kewajiban menjamin keamanan dan kebebasan setiap warga dalam menjalankan ibadah. Karena itu, GAMKI perlu terus memperjuangkan kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan saling menghormati.

Di sisi lain, peningkatan kualitas SDM pemuda menjadi perhatian penting. Anis menyebut GAMKI memiliki kader dari berbagai latar belakang profesional, mulai dari dokter, sarjana hukum, ekonom, teknokrat hingga aktivis yang dapat dilibatkan dalam berbagai sektor pembangunan.

Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikelola melalui program pembinaan dan kerja sama yang terarah agar pemuda Kristen tidak hanya memiliki semangat berorganisasi, tetapi juga kompetensi untuk berkontribusi secara profesional.

DPP GAMKI: Jangan Jadikan Pemuda Anak Tiri Pembangunan

Sementara itu, Sekretaris Umum DPP GAMKI, Alan Christian Singkali, S.E., M.Si., yang hadir mewakili Ketua Umum DPP GAMKI, mengapresiasi semangat konsolidasi pemuda Kristen di Papua Tengah sejak terbentuknya provinsi tersebut.

Alan menilai, kehadiran GAMKI secara formal di Papua Tengah menjadi langkah penting untuk mengawal pembangunan sekaligus mempersiapkan generasi muda agar mampu mengambil peran di berbagai sektor.

“Hampir tiga hingga empat tahun proses pembinaan berjalan seiring hadirnya Provinsi Papua Tengah, dan hari ini kita bersyukur GAMKI hadir secara formal untuk mengawal pembangunan di daerah,” ujar Alan.

Ia menegaskan, GAMKI harus menjadi jembatan komunikasi antara pemuda dan pemerintah, sekaligus fasilitator untuk mengembangkan potensi generasi muda di tingkat provinsi maupun kabupaten.

Menurut Alan, organisasi kepemudaan juga harus menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan peningkatan keterampilan atau soft skills. Dengan pembinaan yang tepat, kader GAMKI diharapkan memiliki kemampuan dan profesionalisme untuk terlibat dalam pembangunan, bukan hanya aktif dalam kegiatan organisasi.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan memberikan ruang yang lebih luas bagi pemuda untuk terlibat dalam perencanaan maupun pelaksanaan program pembangunan.

“Jangan jadikan GAMKI anak tiri, tetapi jadikanlah anak kandung pembangunan Papua Tengah. Pembinaan pemuda hari ini adalah investasi masa depan daerah,” tegasnya.

Konsolidasi Menuju Kongres Nasional

Alan menjelaskan, pelaksanaan Konfercab serentak di delapan kabupaten merupakan bagian dari konsolidasi organisasi menuju Kongres Nasional GAMKI ke-13 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 di Makassar.

Melalui forum tersebut, kader GAMKI Papua Tengah diharapkan mampu merumuskan aspirasi dan kepentingan pemuda daerah untuk diperjuangkan di tingkat nasional.

Pembukaan Konferda I dan Konfercab serentak ini dihadiri Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, S.Sos., M.Si., Dir Intelkam Polda Papua Tengah Kombes Pol. Supriyagung, S.I.K., M.H., Wakil Ketua I DPR Papua Tengah Diben Elaby, serta anggota DPR Papua Tengah Naomi Kotouki, Jemi Patabang yang juga menjabat Sekretaris DPD GAMKI Papua Tengah, dan Nancy Natalia Raweyai.

Turut hadir jajaran pengurus DPD GAMKI Papua Tengah, ketua dan sekretaris DPC GAMKI dari delapan kabupaten, perwakilan organisasi kepemudaan seperti KNPI, Pemuda Katolik dan GMKI, tokoh gereja, mahasiswa, serta insan pers.

Melalui konsolidasi ini, GAMKI Papua Tengah diharapkan mampu memperkuat soliditas organisasi, menertibkan administrasi kepengurusan, dan membangun koordinasi yang lebih efektif di seluruh kabupaten.

Lebih dari itu, Konferda I dan Konfercab serentak diharapkan melahirkan kepemimpinan pemuda Kristen yang transformatif, program kerja yang konkret, serta gerakan kolaboratif yang memberikan manfaat nyata bagi gereja, masyarakat, dan pembangunan Papua Tengah. (Luk)