NABIRE – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Dogiyai meminta pemerintah pusat (Pempus) segera menahan dan memproses Ambrosius Nababan yang menyebarkan rasis kepada Natalius Pigay lewat media sosial (Medsos) diakun facebook.

Karena orang Papua bukan gorila dan monyet seperti yang disebarkan Nababan melalui akunnya.

Di tanah Papua tidak ada gorila sejak nenek moyang hingga kini, sehingga orang Papua tidak mengenal gorila yang disandingkan Nababan.

Kalau orang Papua gorila, mengapa Nababan ada di Papua.

Manusia tidak bisa hidup sama-sama dengan gorila.

Di Papua tidak ada gorila, yang ada gorila hanya di Pulau Jawa dan Sumatera.

DPRD Kabupaten Dogiyai melalui Wakil Ketua Komisi A, Yoseph Minai di Nabire, Selasa (26/1) mengatakan Ambrosius Nababan melalui akunnya mengidentikkan Natalius Pigay dengan gorila merupakan ujaran rasis sehingga yang bersangkutan harus ditahan dan diproses hukum.

DPRD Dogiyai meminta agar segera menahan Ambrosius Nababan dan memproses hukum sesuai dengan ujarannya.

Minai menambahkan, masyarakat Papua khususnya di wilayah Meepago menunggu tindakan pemerintah pusat, berani tahan dan proses hukum atau tidak.

Karena, bukan hanya kali ini rasis terhadap orang Papua, sudah beberapa kali ujaran rasis kepada orang Papua.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah pusat tidak menahan dan memproses hukum Ambrosius Nababan, masyarakat di Meepago siap turun ke jalan menuntut kepada pemerintah pusat untuk mempidanakan Ambrosius Nababan.

Apalagi, Natalius Pigay ini tokoh dari Papua yang bisa bicara kritis dan terbuka, sebagai pegiat masalah Hak Asazi Manusia (HAM) sehingga ujaran Ambrosius Nababan yang menyandingkan Natalius Pigay dengan gorila sebagai tindakan melecehkan orang Papua dan rasis kepada orang Papua seluruhnya.

Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan ini menambahkan, apabila Nababan menyandingkan orang Papua sebagai gorila, mengapa keluarga Nababan ada di Papua.

Sebaiknya kosongkan Papua, karena manusia tidak mungkin hidup dan tinggal bersama gorila.

Minai menilai ujaran rasis yang disebarkan Ambrosius Nababan sebagai langkah pemerintah pusat untuk melemahkan Natalius Pigay agar bicara lagi masalah pelanggaran HAM di Papua, karena selama ini Natalius pigay yang berani berbicara masalah HAM Papua di tingkat nasional.

Oleh karena itu, Minai menduga ujaran rasis ini sebagai sebuah strategi dari pemerintah pusat untuk melemahkan karakter Pigay yang berani dan vokal.

Disamping itu, anggota legislataif Dogiyai ini menilai ujaran rasis yang disebarkan Ambrosius Nababan juga sebagai ujian bagi Kapolri baru.

Ada strategi lain untuk menguji Kapolri baru, apakah mampu menyelesaikan persoalan Papua atau tidak.(ans)