NABIRE – Masyarakat melalui Pelaksana tugas (Plt) Kepala Distrik Siriwo, Anselmus Degey mengusulkan kepada pemerintah Kabupaten Nabire untuk membangun jembatan dan membuka jalan ke empat kampung sebelah kali Degeuwo. Usulan tersebut disampaikan melalui Musyawarah Rencana Pembangunan Daerah (Musrenbangda) Kabupaten Nabire.

Plt Kepala Distrik Siriwo, Anselmus Degey kepada media ini di Nabire, Kamis (16/3) masyarakat Siriwo meminta kepada pemerintah supaya membangun jembatan ke Kampung Aibore. Karena, jembatan gantung di kali Degeuwo, mata jalan Kampung Aibore yang dibangun dengan dana kampung beberapa tahun silam, ringnya sudaj jatuh sampai kena air.

Oleh sebab itu, masyarakat melalui musyawarah kampung mengusulkan agar  pemerintah membangun jembatan permanen menuju Kampung Aibore.

Menurut Plt Kepala Distrik, Anselmus, usulan tersebut sudah diusulkan melalui Musrenbangda di tingkat kabupaten agar kebutuhan masyarakat kampung di Siriwo diakomodir oleh pemerintah Kabupaten Nabire.

Selain jembatan, masyarakat Siriwo juga meminta pemerintah untuk membuka jalan masuk ke kampung Tibai-Mabou. Karena masyarakat membutuhkan akses masuk dari jalan Trans Papua untuk menunjang akses keluar masuk masyarakat dan lainnya.

Menurut Anselmus, usulan tersebut juga disampaikan melalui Musrenbangda agar bisa diakomodir oleh pemerintah daerah melalui program pembangunan daerah.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire, Udin Mardin meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nabire agar membuka akses khususnya jalan darat ke wilayah-wilayah yang terpencil, terjauh dan terluar (3T) agar akses masyarakat terbuka dan membuka pelayanan pemerintah tingkat dasar lancar.

Udin Mardin menilai dengan terbukanya akses ke daerah-daerah kategori 3 T akan mempermudah pelayanan pemerintah, seperti pelayanan kesehatan, pendidilan, pembinaan dan pengembangan peternakan, pertanian dan sektor ekonomi lainnya juga bisa dijangkau. Selama pemerintah tidak membuka akses ke daerah 3T, pembangunan hanya terpusat di kota sehingga kampung bisa mati akibat warga lebih cenderung ke kota. Tetapi dengan terbukanya akses, masyarakat di daerah 3T juga menikmati pembangunan, sekalipun pelan tetapi pasti. (ans)