NABIRE - Seluruh guru SMP N 4 Nabire pada setiap saat menginginkan adanya suasana perubahan yang lebih baik dari hari kemarin. Untuk itu selaku guru di SMP N 4 Nabire, pada era moderen ingin memberikan pelayanan sesuai dengan tuntutan zaman teknologi. Sehingga para guru ingin untuk melangkah hingga 5 langkah kedepan dari sekolah lain. Sehingga dalam sistim pembelajaran yang ditargetkan, bukanlah nilai yang menjadi ukuran. Tetapi bagaimana guru bisa memberikan pendidikan karakter sebagai hal utama.

Demikian dikatakan Kepala sekolah SMP N 4 Nabire, H.Suwandi, S.Pd, saat memberikan sambutan pada acara pengembalian murid kelas IX yang baru dengar hasil lulusan tingkat SMP/MTs di akhir tahun pelajaran 2021/2022, Sabtu (28/5/22).

Kata dia, selama 2 tahun lalu dunia ini dilanda Pandemi Covid-19. Dengan demikian telah terjadi penurunan tingkat belajar. Namun pada bulan Februari hingga April 2022, ‘para guru dapat bekali anak-anak dan waktu belajarnya pun hingga jam 3 sore. Dari waktu yang sangat singkat itu, ternyata hasilnya lebih baik bagi anak–anak yang rajin belajar. Sementara bagi anak-anak yang malas belajar pasti hasil nilainya juga kurang baik.

Selain itu dalam menunjang program pendidikan di SMP N 4 Nabire juga telah menyiapkan 14 program ekstra kurikuler dengan tujuan dapat merubah pikiran anak-anak.

Sehingga pihak sekolah dalam menjalankan tugas utama mengajar, mendidik dan membina, ingin merubah cara berpikir anak dalam menggunakan HP. Karena kedepan dalam era teknologi kita akan berhadapan dengan orang luar.

Dan kedepan dalam tugas mengajar, tidak lagi menggunakan cara–cara mengajar lama. Tetapi guru akan mengajar anak dengan menggunakan teknologi. Karena saat ini SMP N 4 memiliki Pustaka Digital yang dapat digunakan secara gratis tanpa pulsa data.

Untuk itu selaku kepala sekolah dan dewan guru memohon kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, dimana SMP N 4 pasti akan melompat jauh sehingga mohon agar guru diberikan mativasi yang tinggi. Karena untuk saat imi jumlah guru yang ada di SMP N 4 Nabire telah cukup bahkan lebih. Maka kedepan pengembangan secara fisik perlu diperhatikan oleh pemerintah daerah.

“Sebab pada awalnya kami berpikir dengan pembangunan 2 lantai sudah cukup, ternyata setiap awal tahun pelajaran pasti ada 200 murid baru yang mendaftar ditolak, karena terbatasnya jumlah ruangan kelas belajar,” tuturnya. (des)