NABIRE - Tahun 2019 mulai membangun Yayasan Difabel di putaran dua, dan dulu dikenal dengan panti seng bekas, dikarenakan waktu itu hanya mampu membangun dari seng bekas, dari dinding, atap memakai seng bekas, mulai dari dua anak angkat dan menjadi 15, 36 dan menjadi 65 anak.

Hal tersebut dikatakan Ketua Yayasan Peduli Difabel Nabire, Maria Yeti Saputri Kapitarauw, S.Sos.,MM,AWP, dalam PapuaposTV Podcast, Kamis (17/4/2025) lalu.

"Secara resmi muncul dari tahun 2019 dengan TKBM dan PAUD, yang didirikan di Yayasan tersebut," ujarnya.

Untuk inklusi yang secara administratif, sekolah inklusi ini yang pertama dan satu-satunya di Nabire dan bahkan waktu itu ketika mengikuti pelatihan di Jayapura dirinya kaget karena pertama dan satu-satunya yang menerapkan administratif secara legal untuk inklusi.

"Tenaga pengajar di Yayasan peduli difabel Nabire terdapat 18 orang," kata Maria Yeti Saputri ketika hadir di PapuaposTV Podcast.

"Memberikan ruang yang sangat leluasa juga untuk teman-teman difabel untuk bisa berkarya, walaupun faktanya belum banyak teman-teman difabel, yang bekerja di sebuah instansi tertentu agar bisa memberikan mereka pekerjaan juga, sehingga mereka tidak mengharap belas kasihan orang," ucapnya.

Dirinya menambahkan, mereka punya harga diri untuk survive atau bertahan hidup, dua ribu dengan cara berjualan kacang sangat indah dari pada dua ribu yang didapatkan dari mengemis.

Maria Yeti Saputri berharap agar bisa dirangkul, dan program-program apa yang bisa sinergikan dengan pemerintah setempat. Dirinya juga berharap nanti untuk Papua Tengah bisa aman, dan jangan ada palang lagi, misalkan hadiah 17 Agustusan hadiah utama dari Nabire, cemilannya dari Dogiyai, dan berharap semua kabupaten di Papua Tengah ini bisa membuka cabang layanan dan bersinergi dengan dinas terkait.(edi)