Bupati Intan Jaya Murka Usai Warga Sipil Ditemukan Tewas, Minta Presiden dan Panglima TNI Evaluasi Penanganan Keamanan

SUGAPA – Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, S.Kom., SH., MH., meluapkan kemarahannya setelah seorang warga sipil ditemukan meninggal dunia dengan sejumlah luka tembak dan dugaan tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Peristiwa itu kembali menambah daftar korban sipil di tengah situasi keamanan yang masih bergejolak di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
Korban diketahui bernama Octo Tigau (18). Berdasarkan informasi yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, korban sebelumnya sempat ditahan oleh Satgas TNI pada Senin (29/6/2026) saat berlangsung operasi penindakan yang menyasar kelompok kriminal bersenjata (KKB). Dua hari kemudian, Rabu (1/7/2026), korban ditemukan warga dalam kondisi meninggal dunia di belakang Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya, Kampung Mamba, Distrik Sugapa.
Menurut keterangan yang disampaikan pemerintah daerah, jasad korban ditemukan dengan lima luka tembak di tubuh, telinga terpotong, serta terdapat bekas sayatan di bagian dahi. Hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi dari pihak TNI mengenai penyebab kematian korban maupun kronologi lengkap peristiwa tersebut.
Mendengar kabar penemuan jasad tersebut, Bupati Aner Maisini bersama sejumlah pejabat daerah langsung menuju lokasi untuk mengikuti proses evakuasi. Di tengah suasana duka yang diselimuti tangis keluarga dan warga, bupati tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya atas kembali jatuhnya korban dari kalangan masyarakat sipil.
Dengan nada tegas, Aner mengutuk setiap tindakan yang menyebabkan hilangnya nyawa warga sipil. Ia menilai peristiwa tersebut sangat memprihatinkan karena terjadi di ibu kota Kabupaten Intan Jaya, saat pemerintah daerah sedang berupaya membangun situasi keamanan yang lebih kondusif.
"Kita hidup di negara hukum. Semua tindakan harus dilakukan berdasarkan hukum. Bagaimana masyarakat bisa hidup damai kalau masih ada peristiwa seperti ini," ujar Aner di lokasi evakuasi.
Jenazah korban kemudian dievakuasi menggunakan ambulans menuju rumah duka untuk disemayamkan.
Sebut Situasi Darurat Keamanan
Bupati mengungkapkan, selama sekitar satu bulan terakhir Pemerintah Kabupaten Intan Jaya menghadapi kondisi tanggap darurat akibat meningkatnya gangguan keamanan yang menurutnya telah berdampak terhadap masyarakat sipil.
Ia menyebut, sebelum ditemukannya jasad Octo Tigau, pemerintah daerah baru saja menyelesaikan proses evakuasi dan pemakaman seorang gembala jemaat yang juga menjadi korban dalam insiden sebelumnya.
"Kami pemerintah sangat kecewa. Presiden mengarahkan agar penanganan di Papua dilakukan dengan baik, bukan dengan cara yang menimbulkan korban masyarakat. Negara juga harus percaya kepada pemerintah daerah karena kami sudah melakukan pendekatan humanis dan pendekatan kesejahteraan," kata Aner.
Ia menambahkan, pendekatan persuasif yang dilakukan pemerintah daerah selama ini telah membuahkan hasil, termasuk keberhasilan mengembalikan lima anggota KKB ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui ikrar yang dilaksanakan di halaman Kantor Bupati Intan Jaya.
Menurut Aner, kondisi keamanan di Intan Jaya dalam satu tahun terakhir sebenarnya mulai menunjukkan perkembangan positif. Karena itu, ia mempertanyakan munculnya kembali insiden yang menyebabkan warga sipil menjadi korban.
"Saya sebagai bupati sangat kecewa. Hari ini masyarakat kembali berduka. Selama satu tahun situasi keamanan sudah mulai membaik, tetapi sekarang muncul lagi kejadian seperti ini," ujarnya.
Minta Evaluasi Operasi Keamanan
Bupati Intan Jaya meminta perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Panglima TNI, Menteri Pertahanan, hingga Presiden Republik Indonesia agar melakukan evaluasi terhadap pola penanganan kelompok bersenjata di Papua.
Menurutnya, setiap operasi keamanan harus dilakukan secara lebih terukur agar sasaran penindakan benar-benar tepat dan tidak menimbulkan korban dari kalangan masyarakat sipil.
Ia menegaskan, perlindungan terhadap warga harus menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan operasi keamanan.
Dua Pekan Sebelumnya Tiga Warga Sipil Terluka
Peristiwa ini terjadi hanya berselang sekitar dua pekan setelah insiden penindakan aparat keamanan di Kampung Danggoa, Distrik Agisiga, pada Kamis (18/6/2026), yang mengakibatkan tiga warga sipil mengalami luka akibat pecahan mortir.
Saat itu, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya langsung mengaktifkan tim penanganan konflik untuk memberikan pertolongan kepada korban sekaligus melakukan koordinasi di lapangan.
Bupati Aner juga menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban sipil dalam insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah selama ini terus membangun situasi keamanan melalui pendekatan dialog, persuasif, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, berbagai langkah tersebut mulai membuahkan hasil dengan semakin kondusifnya situasi keamanan di Intan Jaya. Namun, insiden yang menimpa warga sipil dikhawatirkan dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap upaya pemerintah dalam menciptakan rasa aman.
"Kami sangat menyesalkan adanya warga sipil yang menjadi korban. Pemerintah terus berupaya membangun kedamaian dan merangkul seluruh lapisan masyarakat agar situasi keamanan semakin kondusif," ujarnya.
Ia berharap aparat keamanan mengedepankan pendekatan persuasif serta memastikan setiap operasi dilakukan secara cermat dengan membedakan secara jelas pihak yang menjadi sasaran penindakan dan warga sipil yang tidak terlibat.
Aner juga mengajak seluruh unsur TNI, Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas keamanan di Kabupaten Intan Jaya.
Hingga berita ini diterbitkan, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya masih melakukan penanganan terhadap keluarga korban melalui tim yang berada di lapangan. Sementara itu, keterangan resmi dari pihak TNI terkait kronologi penahanan, penyebab kematian korban, serta hasil penyelidikan atas peristiwa tersebut masih dinantikan. (ros/Humas Setda Intan Jaya)
Bagikan artikel ini



