NABIRE - Bupati dari periode ke periode, pemerintah daerah dan pimpinan gereja belum merangkul anak-anak jalanan (anak Aibon, red) yang ada di Kabupaten Nabire. Sejauh ini hanya mengurus pembangunan kota, proyek dan lain sebagainya. Sementara generasi muda Papua khususnya Kabupaten Nabire moralitasnya rusak dengan terkontaminasi dan terjerumum ke dalam anak-anak jalanan. Yakni menjadi anak Aibon, Miras, Narkoba, seks bebas dan obat-obat terlarang lainnya.  

Kenyataan dan fakta di lapangan kita tidak bisa dipunggiri lagi. Bupati dari periode ke periode, pemerintah daerah dan pimpinan gereja siapa dan mana yang pernah merangkul anak-anak jalanan. Dengan membuka lapangan pekerjaan buat mereka, membangun rumah singgah atau asrama bagi mereka.

Sebenarnya untuk memutus mata rantai ini, pemerintah daerah dan pimpinan gereja berpikir yang arif dan bijaksana. Seharusnya sejak dulu sudah bisa mengatasi, tetapi ternyata masih disibukkan dengan urusan pembangunan. Membangun bangunan mewah, kokoh, megah serta urus proyek dan lain sebagainya. Sementara untuk menyelamatkan nyawa orang lain, dilalaikan. Padahal ini merupakan tugas utama yang harus dilaksanakan karena kita adalah pelayan publik. 

Menangani hal itu pemerintah daerah, DPRD, pimpinan gereja diharapkan duduk bersama merumuskan Peraturan Daerah (Perda) terkait persoalan itu. Pemerintah daerah dan pimpinan gereja lebih memilih mengurus manusia atau mengurus pembangunan. 

Yang masih menjadi pertanyaan, kita melihat kembali latar belakang kehidupan bermasyarakat. Penyakit sosial yang merajalela ditengah-tengah masyarakat.

“Diharapkan kepada bupati definitive baru yang akan dilantik nantinya, melihat hal ini,” ujar Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat, Pastor Injonito Gerry Da Krus SCH.P. 

Pastor Gerry hingga kini mampu merangkul anak-anak jalanan aibon di Parokinya. Setiap saat mereka tinggal, makan, tidur bersama-sama di Paroki berkisar 50 orang lebih merangkum menjadi satu tujuan ini hal nyata dan fakta.

Begitu meranggum anak-anak jalanan Pastor Paroki membuka lapangan pekerjaan bagi anak-anak jalanan. Membangun sebuah rumah singgah disitu mereka akan kerja ada yang cetak batu batako, ada yang kerja potong besi las jendela, pintu pagar dan lain sebagainya. Tetapi selama ini pemerintah daerah tutup mata tidak mendukung program binaan anak-anak yang dibuat oleh Pastor Gerry ini.

Apalagi bantuan dana atau usahakan tempat buat asrama binaan anak-anak jalanan disitu belum pernah hingga kini pada hal program ini  pemerintah daerah melalui dinas sosial. Kenyataan pemerintah daerah tidak peduli Paroki maupun gereja-gereja yang jauh dari perkotaan tutup mata alias tidak peduli yang biasa terjadi selama ini. (modes)