NABIRE - Dua Rasul pembawa kebenaran Injil Tuhan, C.W. Ottouw dan J.G. Geissler ketika menginjakan kaki di tanah Papua pada tanggal 5 Februari 1855 bukan saja serta merta membawa pemberitaan injil bagi masyarakat Papua yang mula-mula dimulai dari Teluk Doreri. Akan tetapi, pada tahun 1856 atau satu tahun kemudian kedua rasul ini sudah mencari solusi untuk dapat memisakan Injil dan pengajaran, pada sebuah model pembelajaran untuk melatih dan membina anak-anak didik secara sederhana untuk bisa cakap membaca, menulis dan menghitung dan inilah sekolah pertama sebagai pintu masuk peradaban di tanah Papua kala itu. Sehingga pada tahun 1856 dibuka sekolah Putra di Mansinam yang peserta didiknya diambil dari anak-anak peliharaan J.G. Geissler dan selain itu melatih untuk membaca, menulis dan menghitung juga dilatih secara khusus dengan pengetahuan sederhana kerajinan tangan di bidang pertanian, pertukangan dan pelayanan kesehatan secara manual. Sementara pada tahun 1857 kedua Rasul ini membangun Sekolah Putri yang peserta didiknya terdiri dari anak-anak gadis yang dipelihara keluarga C.W. Ottouw dan sekolah tersebut dibangun di Kwawi dibilik rumah Ottouw dengan metode pembelajaran lebih spesifik pelatihan jahit-menjahit, menyulam /brei dan latihan memasak dengan menggunakan bahan baku yang ada di wilayah Doreri Manokwari, Teluk Wondama dan daerah lain di Irian Barat yang dianggap strategis bagi pekabaran injil. Namun, dimasa sekarang ini, guru hanya bisa melayani anak-anak dalam kelas untuk melaksakan tugas mengajar, sementara kita ketahui bahwa tugas mengajar itu bagian yang terakhir sesudah guru memberikan pendampingan, bimbingan dan lainnya kepada anak atau murid sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Di masa sekarang atau zaman nauw ini tugas seorang guru sudah tidak lagi dihargai oleh murid apalagi orang tuanya, sehingga lahir persoalan sekecil apapun di lingkungan pendidikan atau sekolah, guru yang selalu lebih dahulu dapat disalahkan dan bahkan diancam dengan mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan dan pantas bagi seorang guru. Bahkan dari catatan wartawan media ini sepanjang dua tahun belakangan ini, ada guru yang diancam oleh orangtua murid hingga masuk penjara walaupun cuma satu malam, bahkan ada guru yang langsung dipukul oleh orang tua tanpa bertanya letak persoalannya, akibat orang tua lebih percaya pada aduan mulut anaknya dengan menyalahkan pihak sekolah atau guru. Dengan demikian budaya pendidikan yang telah ditanamkan oleh Ottouw dan Geissler di atas tanah Papua telah hilang dan anak bersama orang tua murid lebih memilih mengikuti arus globalisasi zaman nauw dan tidak kembali melihat dan mempelajari tujuan masuknya pendidikan sebagai pintu peradaban pada tahun 1856 dan tahun 1857.(des)