BRI Nabire Tegaskan Data Nasabah Aman, Imbau Masyarakat Waspada Modus Penipuan Digital
NABIRE - Menanggapi isu kebocoran data yang beredar luas di awal tahun 2026, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Kantor Cabang Nabire secara tegas menyatakan informasi tersebut adalah hoaks. BRI memastikan seluruh data nasabah dalam kondisi aman dan sistem perlindungan data perbankan tetap bekerja secara optimal tanpa ada gangguan teknis yang berarti.
Pihak manajemen telah melakukan audit keamanan siber secara menyeluruh untuk merespons rumor tersebut. Hasil audit menunjukkan, sistem proteksi berlapis, termasuk enkripsi data tingkat tinggi, tetap solid.
BRI menjamin tidak ada data sensitif yang terekspos ke pihak luar, sekaligus mematahkan spekulasi yang sempat memicu kekhawatiran di ruang digital.
Kepala Cabang BRI Nabire, Mohammad Arief Nur Pratama, menegaskan kualitas infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki perusahaan. Dalam keterangannya, ia menyebut bahwa sistem keamanan IT BRI merupakan salah satu yang terbaik di industri perbankan saat ini, sehingga kecil kemungkinan terjadi kebocoran dari sisi internal sistem.
“Kalau soal masalah IT, BRI adalah salah satu yang terbaik soal keamanan sistemnya. Kami pastikan sistem keamanan kami sangat bagus dan terus dipantau selama 24 jam untuk menjaga privasi nasabah,” ujar Arief saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/01/2026).
Mengenai keluhan kehilangan saldo atau akses akun yang sering dianggap sebagai kebocoran data, Arief menjelaskan bahwa fenomena tersebut mayoritas disebabkan oleh faktor eksternal atau social engineering. Para pelaku kriminal siber kini semakin canggih dalam mengadaptasi teknologi untuk mengelabui korban secara psikologis.
Kriminalitas digital saat ini banyak menyasar kelalaian pengguna melalui metode phishing atau pengiriman tautan palsu. Arief menekankan, pelaku penipuan terus memperbarui taktik mereka agar terlihat meyakinkan, sehingga nasabah seringkali tidak sadar telah memberikan akses pribadi kepada pihak yang salah.
“Masalah utamanya seringkali datang dari sisi nasabah karena tindak kriminal sekarang makin canggih. Ada banyak link atau telepon tidak dikenal yang masuk ke ponsel. Jika nasabah tidak sengaja mengklik tautan tersebut, akun WhatsApp atau internet banking bisa diambil alih oleh pelaku,” tambahnya.
Sebagai langkah preventif di tahun 2026, BRI terus memperkuat benteng digitalnya dengan teknologi deteksi ancaman berbasis Artificial Intelligence (AI). Selain itu, prosedur autentikasi seperti verifikasi biometrik dan sistem OTP (One-Time Password) yang lebih ketat terus diperbarui guna menangkal upaya scamming yang kian marak.
BRI juga secara rutin melakukan evaluasi dan pembinaan kepada para nasabah agar lebih terliterasi secara digital. Nasabah diingatkan untuk tidak pernah mengklik tautan apa pun yang mengatasnamakan BRI dari sumber yang tidak resmi, terutama melalui pesan singkat atau aplikasi percakapan pribadi.
Menutup keterangannya, Arief menegaskan BRI tidak pernah memberikan informasi mengenai hadiah atau undian melalui pesan WhatsApp atau SMS berisi tautan. Segala bentuk pengumuman resmi akan dilakukan melalui kantor cabang atau unit kerja terdekat untuk menjamin keamanan dan validitas informasi bagi seluruh nasabah.(sam)
Bagikan artikel ini


