NABIRE – Budaya Badawei akan memeriahkan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-73 di Kabupaten Dogiyai yang akan dipusatkan di Moanemani. Atraksi tradisional, Badawei, dari dataran Mapia di Kabupaten Dogiyai ini akan dipentas pada tanggal 17 Agustus 2018 usai upacara bendera. Ketua Panitia HUT RI ke-73 Tingkat Kabupaten Dogiyai, Thobias F Bunapa di Nabire, Minggu (22/7) mengatakan atraksi badawei ini dimasukan sebagai acara tambahan pada ucapara perayaan Kemerdekaan Bangsa Indonesia untuk menghibur peserta upacara. Karena atrasi ini akan mampu menghibur dan memancing peserta upacara untuk tertawa, melepas lelah setelah mengikuti upacara. Thobias Bunapa mengatakan, badawei menurut tradisi orang di kawasan Mapia hanya diikuti oleh kaum lelaki. Kaum hawa tidak. Oleh sebab itu, peserta atraksi dibatasi kaum laki-laki betas usia 25 tahun ke bawah. Dan salah satu syaratnya, tidak sakit lutut. Asisten II Setda Kabupaten Dogiyai ini menambahkan, peserta tidak pernah sakit lutut karena dalam atraksi ini lawan tanding dipantat sehingga kalau lutut tidak mampu menahan tendangan, lawan bisa jatuh. Ia menambahkan, karena saling tantang di pantat, panitia akan menyediakan areal badawei 10 meter dengan perhitungan setiap pasangan hanya bisa badawei di dalam 1x1 meter. Peserta yang akan jatuh dinyatakan kalah. Ketua Panitia HUT RI ini meyakini atraksi yang dikenal di dalam kehidupan masyarakat Suku Mee di kawasan dataran Mapia ini baru pertama kali dipentaskan untuk memperkenalkan budaya adu kekuatan lulut diantara sesama kaum lelaki. Oleh sebab itu, kata Thobias Bunapa, panitia akan menyiapkan seragam bagi peserta sesuai dengan kemampuan dana yang tersedia di panitia HUT RI Kabupaten Dogiyai. Ia mengungkap, adanya ide agar badawei ditampilkan dengan busana adat, koteka, tetapi ditolak. Karena, kalau dipaksakan menggunakan koteka bagi peserta, justru akan menjurus ke hal-hal yang negatif sehingga untuk mencegah hal yang tidak etis, sebaiknya peserta dengan busana nasional. (ans)