Aspek Kemerdekaan Pers Harus Identik dengan Aspek Tanggung-jawabnya
Oleh : Abdul Munib

Oleh : Abdul Munib
Pekerjaan Pers adalah pekerjaan berpikir melalui membuat suatu pernyataan atau penilaian yang faktual terhadap suatu realitas. Dan berpikir adalah sesuatu atau bahkan satu-satunya pembeda manusia dari binatang, pohon atau batu. Dari sudut wahyu Ilahi, rasionalitas manusia dapat disimbolkan dalam dua sisi dalam satu koin, yakni sisi kemerdekaan dan sisi tanggung-jawab.
Walhasil sistem Ilahi atau biasa di kalangan umat muslim dikenal Sunatullah pada kehidupan manusia, berupa pola kemerdekaan dan tanggung-jawab inilah yang menjadi dasar pada seluruh aspek kehidupannya di alam dunia ini. Termasuk juga pada kehidupan berbangsa, bernegara dan dalam kehidupan Pers yang sedang kita bahas pada tulisan ini.
Disini penulis memilih kata Kemerdekaan Pers daripada menggunakan kata Kebebasan Pers. Karena kata Kebebasan terasosiasi pada pengertian kebablasan dan minimnya tanggung jawab. Kebebasan Pers yang diteriakan dari Barat ditelan mentah-nentah oleh tokoh-tokoh Pers kita sebagai anjuran suci, tanpa menghayati bahwa hakikatnya Pers Barat lah yang hari ini pro Genosida Gaza yang ditolak masyarakat dunia. Menurut hemat penulis, sebagai mana kita menerima demokrasi harus sesuai keadaan kita di Indonesia begitu pula dalam menerapkan pers di negara kita.
Makna Pers dulu sebagai Ratu Dunia atau cermin anggapan umum sudah tak ditemukan di jaman sekarang ini pada Pers Barat. Pers Barat kini sudah mutlak menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan hegemoni bangsanya.
Sekarang media-media bermerek yang punya branding terkenal di dunia telah jatuh ke tangan Oligarki Global dan hidup sebagai anjing penjilatnya tanpa menghiraukan kaidah publisistik yang mereka definisikan pada awalnya.
Sebelumnya para jurnalis Barat mengajarkan pada jurnalis kita bahwa Pers itu Anjing Penjaga (Watch Dog). Julukan lama yang lumayan terhormat. Atau disebut Nyamuk Pers (Pers Mosquito), yang dengungannya dinilai sebagai pengingat bagi pemangku Otoritas atau masyarakat luas. Setidaknya sebagai pengganggu kenyamanan stagnasi stagnasi berpikir.
Oleh karena itu kita tak bisa mengatakan kemerdekaan Pers tanpa menyertakan tanggung-jawab Pers. Keduanya melekat dalam satu kesatuan, - persis seperti pola sistim Ilahi pada kehidupan manusia, si binatang berakal yang diseru wahyu. Kemerdekaan dan tanggung jawab yang diucapkan dalam satu tarikan nafas.
Dalam ketentuan Bangsa Indonesia yang terikat oleh nilai falsafah Pancasila, tentu Pers sebagai pihak yang hidupnya senantiasa bersama publik diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas bagaimana ber-indonesia yang baik dan benar. Sebagai suatu bangsa tentu kita terikat oleh batasan : entah itu karakter, kesepakatan bersama, tujuan bersama, sebab-akibat bersama maupun kesamaan DNA Bangsa, yang telah dilebur oleh darah pengorbanan perjuangan rakyat Indonesia.
Yang berikut adalah tentang kewajiban beragama. Sebagai konsekuensi dari sila pertama. Sebab Tuhan tidak sekedar cukup begitu saja dia itu ada atau diyakini ada, melainkan dia sekehendaknya membuat suatu role atau game, yang berpola kemerdekaan dan tanggung jawab seperti dijelaskan diatas tadi. Untuk itu agar terus ditanamkan kepada publik suatu pemahaman dan kesadaran utuh bahwa ber-agama dan ber-Pancasila adalah bukan dikotomis. Melainkan satu tarikan nafas bagaimana bangsa Indonesia melakukan tafsir dan menjatuhkan pilihan cara berpolitik sebagai sarana tolong-menolong - suatu keharusan di sisi sosialnya..
Dimana sisi beragama personal tak dapat berdiri sendiri untuk disebut sebagai beragama. Artinya beragama dengan membiarkan anak yatim keleleran tak digubris atau makanan orang miskin tak diurus, itu dusta belaka. Beragama omon-omon. Dikatakan pula Wailul Lil Musholiin, celakalah orang shalat tapi dia tak memiliki makna. Yang dimaksud makna disini meliputi niat atau motifasi murni karena Allah dan harus melakukan tolong menolong di kehidupan sosial. Dan berpolitik dengan mempunyai bangsa dan negara sendiri, menumpas penjajahan, adalah kehidupan agamis di ranah sosial yang paling strategis.
Dalam hidup kita di atas planet bumi bersama-sama bangsa lain, baik itu negara tetangga, kawasan ASEAN, kesamaan dunia ketiga, kesamaan negara berpenduduk muslim, atau pun bahkan pergaulan bersama negara hegemoni, kita punya simbol Internasionalisasi pada rante lambang sila kedua. Itu rante multipolar, cita-cita dunia adil, makmur dan bermartabat yang sudah dicanangkan para pendiri bangsa.
Pilihan-Pilihan yang tersedia
Lalu pilihan-pilihan apa saja yang tersedia bagi pers kita hari ini untuk menentukan langkah barunya ke depan ? Disini kita perlu melihat kembali ke belakang pada Pers Perlawanan yang dipelopori oleh Medan Prijaji besutan Tirto Adi Suryo (1907-1911) dan berdiri Persatuan Wartawan Indonesia (1946, 9 Februari).
Pada era sebelum kemerdekaan Pers kita berperan sebagai Rahim yang mengandung gagasan-gagasan Indonesia Merdeka. Pers Indonesia adalah ibu kandung bangsa ini. Dan sudah barang tentu sebagai seorang ibu dia akan membela putranya, yakni ketika bangsa ini lahir dan akan dimangsa oleh rubah penjajah yang datang kembali. Di era ini penjajahan masih tampak, dengan tentara asing berseliweran di depan mata di tanah air Indonesia.
Selanjutnya pada era 50-an, ketika dunia sedang Perang Dingin dan Indonesia masih menganut sistem Parlementer, Pers Indonesia terpolarisasi oleh partai politik. Hampir pasti setiap partai politik pada waktu itu mendirikan media. Ada yang menamakan era Pers Liberal. Keadaan seperti ini berlangsung dan berujung pada peristiwa G30S PKI tahun 1965. Selanjutnya setelah Suharto berkuasa Pers Kita bercorak sebagai komoditas atau merek jualan. Dengan definisi Pers yang baik adalah Imperium Pers.
Banyak pengusaha besar pada saat itu berinvestasi pada bidang usaha ini. Di era digital sekarang ini, Pers Indonesia masih gamang di pinggir jurang. Karena karya jurnalistik tidak dapat dikapitalisasi sebagaimana terjadi di era mesin cetak. Logistik hari ini di tangan 'Dajjal', harus berpihak padanya terlebih dahulu untuk dapat menerima uang darinya.
Dari gambaran diatas maka tersisa dua pilihan bagi Pers Indonesia pada hari ini. Kembali menjadi ibu kandung bangsa dan tetap menjadi pembelanya dalam keadaan apapun. Atau menjadi perempuan nakal yang menjual diri kepada pihak berduit, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Menjajakan diri dengan muka keriput yang ditutup gincu dan lipstik tebal bersaing dengan konten kreator, podcast, video grafis yang dikelola generasi Gen Z, mereka yang menguasai Malaikat Pencatat bernama Algoritma.
Tentunya kembali kepada peran awalnya menjadi ibu kandung bangsa ini dan membentang dalam keadaan apapun. Mengawal atau menuntunnya mencapai tujuan. Mengingatkan apabila melenceng. Memberi gambaran jelas siapa kita, mau kemana tujuannya, dengan cara bagaimana, bersama petunjuk siapa. Sederet pertanyaan untuk bangsa ini bisa menjawab, tentu akan membutuhkan pandangan dari ibu yang melahirkannya. ##
Bagikan artikel ini



