SUGAPA - Di tengah keterbatasan gedung dan ruang kelas, ratusan anak di sekolah-sekolah Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, tetap berusaha mendapatkan hak mereka untuk belajar.

Salah satunya terlihat di SD YPPK Bilogai. Sekolah yang kini menampung lebih dari 600 siswa itu masih harus berhadapan dengan keterbatasan ruang belajar. Sejumlah guru bahkan terpaksa menggunakan ruangan kepala sekolah dan kantor untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua PSW YPPK Tillemans Intan Jaya, Pastor Yance Yogi, Pr. Ia berharap dukungan pemerintah terhadap dunia pendidikan di Intan Jaya tidak berhenti pada program pemenuhan kebutuhan siswa, tetapi juga menyentuh pembangunan sarana dan prasarana sekolah.

Kendati demikian, Pastor Yance memberikan apresiasi terhadap dukungan Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa melalui program Sekolah Sepanjang Hari (SSH).

Menurut Pastor Yance, program tersebut telah berjalan sekitar satu tahun melalui kerja sama YPPK, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya, dan pihak terkait. Hingga kini, program SSH dinilai berjalan baik dan memberikan dukungan terhadap kebutuhan siswa selama mengikuti kegiatan pendidikan.

“Terima kasih Pak Gubernur telah membantu kami melalui program SSH. Ini merupakan kerja sama dengan Pastor Dekan dan Bupati Kabupaten Intan Jaya. Bupati Intan Jaya telah membuka launching setahun lalu dan program SSH sampai hari ini berjalan baik,” ujar Pastor Yance kepada media, Kamis (17/9/2026).

Pastor Yance yang juga menjabat sebagai Pastor Dekan Dekenat Moni Puncak Jaya Keuskupan Timika menjelaskan, salah satu penopang utama program SSH adalah keberadaan dapur yang menyediakan makanan dan minuman bagi para siswa.

Menariknya, kebutuhan konsumsi tersebut juga memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di wilayah setempat. Keladi, pepaya, singkong, sayur-mayur, beras, ayam, dan berbagai jenis lauk lainnya menjadi bagian dari menu yang disiapkan untuk para siswa.

Pengelolaan dapur dilakukan dalam dua tahap guna memenuhi kebutuhan makanan siswa sepanjang kegiatan pendidikan.

Program SSH sendiri tidak hanya berjalan di SD YPPK Bilogai. Program tersebut juga menjangkau sejumlah sekolah YPPK lainnya, di antaranya SD YPPK Jalai, Titigi, Bilai, dan Sanepa.

Dukungan program juga mencakup penempatan serta akomodasi guru. Bagi Pastor Yance, keberadaan tenaga pendidik yang dapat tinggal dan menjalankan tugas di lokasi sekolah merupakan bagian penting agar proses pendidikan di wilayah tersebut tetap berjalan.

Namun, di balik berjalannya program SSH, persoalan lain masih menunggu perhatian.

Jumlah siswa yang terus membutuhkan ruang belajar belum sebanding dengan fasilitas yang tersedia. Di SD YPPK Bilogai, misalnya, lebih dari 600 siswa harus belajar dengan kondisi gedung yang terbatas.

“Di SD YPPK Bilogai ini jumlah siswa sudah lebih dari 600 orang. Karena itu, kami sangat membutuhkan tambahan gedung dan ruang kelas. Ada guru yang mengajar di ruangan kepala sekolah, bahkan ada juga yang menggunakan kantor PSW untuk kegiatan belajar-mengajar,” jelasnya.

Bagi Pastor Yance, keterbatasan tersebut bukan sekadar persoalan bangunan fisik. Ruang kelas yang memadai merupakan bagian dari upaya memastikan anak-anak di Intan Jaya memperoleh proses belajar yang layak.

Karena itu, pihak YPPK telah menyampaikan kebutuhan pembangunan gedung dan berbagai fasilitas sekolah kepada pemerintah.

Ia berharap Gubernur Papua Tengah, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, dan Bupati Intan Jaya dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan tersebut.

“Kami sudah menyampaikan kebutuhan pembangunan gedung dan fasilitas sekolah. Kami berharap Bapak Gubernur, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Tengah, dan Bupati Intan Jaya dapat melihat kebutuhan ini dan membantu kami,” katanya.

Selain pembangunan gedung sekolah, kebutuhan lain yang dinilai mendesak adalah fasilitas asrama bagi siswa SD dan SMP.

Menurut Pastor Yance, asrama akan sangat membantu anak-anak yang berasal dari wilayah yang jauh. Dengan adanya tempat tinggal yang memadai, mereka diharapkan dapat mengakses pendidikan secara lebih baik tanpa terkendala jarak dan kondisi geografis.

Harapan itu sekaligus menjadi bagian dari cita-cita yang lebih besar: menjadikan Intan Jaya sebagai salah satu pusat pendidikan di Papua Tengah.

Untuk mewujudkannya, kata Pastor Yance, diperlukan dukungan yang berjalan beriringan—mulai dari gedung sekolah dan ruang kelas, fasilitas asrama, hingga ketersediaan tenaga pendidik yang memadai.

Program SSH telah memberikan gambaran bahwa kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan dapat membantu menjawab sebagian kebutuhan anak-anak di daerah.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan tersebut juga hadir dalam bentuk infrastruktur pendidikan yang mampu menampung pertumbuhan jumlah siswa.

Di tengah keterbatasan itu, sekolah-sekolah YPPK di Intan Jaya terus membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar. Dan di balik ruang kelas yang belum mencukupi, tersimpan harapan agar pendidikan di wilayah pegunungan Papua Tengah terus tumbuh, menjadi jalan bagi generasi muda untuk menatap masa depan yang lebih baik. (ist)