NABIRE - Arsip Surat Keputusan (SK) Nomor 001.KPTS/5/1966 tentang penyerahan tanah adat Nabire kepada pemerintah kabupaten Paniai (kini Kabupaten Nabire) yang ditandatangani 44 orang, tertanggal 6 Mei 1966 itu  diserah oleh Agus Waromboni kepada Calon Bupati Nabire Nomor Urut 03, Fransiscus Xaverius Mote. 

Penyerahan SK 66 itu disaksikan oleh warga Suku Wate di Kampung Waharia, perwakilan waga Wate dari Kampung Samabusa, Air Mandidi dan Boratei, pimpinan 3 partai pengusung (Golkar, Demokrat dan NasDem), tim relawan Frans-Bro, serta puluhan konstituen Paslon 03 yang menghadiri acara kampanye tertutup di Gedo, Kampung Waharia, Distrik Teluk Kimi, Rabu (28/10/20) pukul 17.15 waktu setempat.

Agus Waromboni menyerahkan SK 66 kepada FX Mote karena dirinya meyakini Mote FX akan terpilih sebagai Bupati Nabire masa bhakti 2020-2025.

Ia akan membangun Kota Nabire serta memberdayakan suku-suku asli di Kabupaten Nabire. “Saya mau serahkan SK 66 ini bukan karena Frans Mote nya, tapi jabatanya sebagai bupati.

Frans bukan calon bupati tapi dia sudah jadi bupati,” ucapnya yakin.

Selain FX Mote, copian SK 66 sebelumnya Agus menyerahkan kepada Kepala Suku Besar Wate, alm. Didimus Warai ketika itu, Alex Raiki yang kini menjabat sebagai Kepala Suku Besar Wate, Drs. A. P. Youw dan Drs. Ayub Kayame sedangkan aslinya masih disimpan. 

Lebih jauh anak sulung dari Efrain Waromboni ini mengaku arsip SK 66   sebelum ayanda tutup mata serahkan kepada dirinya sebagai anak sulung laki-laki dari keluarnya.

Ia pun bersaksi ketika penyerahan tanah Nabire kepada Pemda Paniai saat itu hanya diberikan paku dua kilo senk 50 lembar oleh pemerintah kepada orang asli Nabire.

“Begitu murah hati orang tua kami menyerahkan tanah ini kepada Pemda, tapi dalam perjalan proses pembangunan dan pemberdayaan pimpinan ganti pimpinan tidak pernah ada kepedulian Pemda kepada kami orang asli Nabire.

Dikecualikan masa kepemimpinan AP Youw.

Paitua dia hebat,” tutur Agus.

“Jadi berpedoman pada SK 66 tersebut bapak FX Mote harus mengukir pembangunan di Kota Nabire, dan mengubah ratapan kami menjadi tarian pada masa kepemimpinannya diatas tanah datuk kami,” pintah Agus. (eby)