NABIRE - Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire belum lama ini di sejumlah kota studi yang ada di luar Papua terhadap mahasiswa/mahasiswi yang mengikuti program Afirmasi ADIK, ditemukan ada 75 persen nilai mahasiswa/i asal Kabupaten Nabire berada di bawah rata–rata atau bahasa lain standar yang tidak bisa diselesaikan studinya dalam waktu 4 tahun.

Sehingga berdasarkan hasil monitoring tersebut pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire meminta kepada orangtua mahasiswa itu sendiri agar memperhatikan hal tersebut secara serius, karena biaya kuliah atau pendidikan yang ditanggung pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten targetnya cuma 4 tahun.

Apabila hal ini tidak diperhatian dengan serius dan bijaksana, maka pada tahun kelima dan selanjutnya biaya studi program afirmasi ADIK secara otomatis akan dikembalikan menjadi tanggung jawab dari orang tua dan mahasiswa/i yang sedang mengikuti pendidikan di luar Papua.

Demikian dikatakan Sekretaris Dinas Pendidikan Nabire Viktor Tebay, S.Sos.,MAP kepada Papuapos Nabire, Rabu (5/11/2024) di ruang kerjanya seraya menunjukan Kartu Rencana Studi (KRS) yang dikumpulkan dari mahasiswa di sejumlah kota studi yang ada di luar Papua ketiak dilakukan monitoring langsung di beberapa kota studi di sejumlah kampus.

Lanjut Tebay, selaku sekretaris dinas saat melakukan monitoring juga ditemukan banyak mahasiswa/i dari luar program afirmasi ADIK maupun program afirmasi ADEM yang menyelesaikan pendidikan sambil mencari uang, tetapi nilainya sangat memuaskan, sementara mahasiswa/i yang dibantu biaya studinya oleh pemerintah pusat dan kabupaten nilainya di bawah rata–rata.

Untuk itu disampaikan kepada orangtua dari para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengikuti pendidikan di luar Papua dari Program Afirmasi ADIK agar secepatnya membangun komunikasi yang serius, jika tidak maka pada tahun kelima biaya pendidikan anak-anak kita akan kembali dibebankan kepada orang tua, sebab pemerintah hanya bisa membantu hingga 4 tahun saja.(des)