BOMOMANI – Pesta adat terbesar “Juwo“ dalam strata adat istiadat seluruh warga Mapiha Distrik Mapiha Lama di Distrik Mapia Kabupaten Dogiyai, Kamis pekan lalu di Dusun Bomopa di Bomomani menjadi lautan manusia.  Turut menghadiri kegiatan ini, dari berbagai kampung. Diantaranya 79 kampung 10 distrik. Selain itu, Kabupaten Paniai, Deiyai, Puncak sebagai kabupaten tetangga turut menyaksikan acara puncak pada hari “H“ Juwo.    Pesta akbar turut hadir pemerintah Kabupaten Dogiyai bersama Bupati  Dogiyai, Drs. Thomas Tigi dan wakil bupati Herman Auwe, S.Sos bersama ibu  ketua dharma wanita Yohana Tigi Yobee, kepala badan/kantor/dinas/Kabag Humum/kepala badan BPMK, TNI, Polri Polsek Kamu/Mapia dan LSM. Semuanya hadir untuk menyaksikan atraksi antar jemput tamu dari luar seperti dari distrik tetangga juga kabupaten tetangga. Bahkan dari kota seperti Nabire, Jayapura dari berbagai kotak studi di Jakarta. Mereka yang berada  dirantauan juga turut hadir. Pantauan media ini, bara antar ratusan ekor babi ketempat yang sudah ditentukan bersama. Kumpul batu bersama, sayuran paku hutan daun kayu api. Sampai pemotongan babi secara serentak potong hingga barapen  bersama, warga yang berada di rumah, penghuni di Mapiha disibukan juga dengan barapen. Babi untuk pensucian tentang kebun ternak termasuk kesehatan mereka dengan persembahan hingga jamuan bersama sebagai ungkapan cinta kasih sesama manusia, antara sisi Bomopa dan Bomomani. Bentuk peyembelihan korban bakaran menghapuskan dualisme lomonikasi  antar sesama dari sisi kegelapan menuju kepada penebusan sisi terang. Seakan menuju Yerusalem Baru, tanah tersaji dalam suatu kepemimpinan yang murni benar. Sebanyak 47 ekor babi, sumbangan Bupati Dogiyai mewakili Pemkab Dogiyai, diiperuntukan bagi mama–mama janda duda dan lanjut usia. Untuk dipotong  dan jamuan kasih bersama itu diterima perwakilan ditempat dari Bupati Dogiyai. Kepada salah seorang warga Bomopa, warga  masyarakat Lembah Kamu termasuk Wakil Bupati Dogiyai Herman Auwe, wakauwo, apikopa jabatan iparnya laki–laki/ipar perempuan ikut menyumbang berupa materi dalam bentuk uang, atau babi menunjukan dirinya juga ada (anina topa}. Sehingga terkesan ada unsur kekerabatan masih subur berkembang, saling menolong melengkapi dalam etnik mereka sendiri.  Semuanya ini dibuat karena dengan dasar Tanah Mapiha, adat keramat bersejarah kelahiran emas hak warisan hak milik. Dengan maksud itu warga asli Mapiha dulu hingga sekarang berkomitmen pada bukan bebas, liar rampasan jual belikan kontrak sewa satu warga/fam.  Dengam maksud itu warga Mapiha mesti mengerti  tujuh M. Melindungi, menjaga, merawat, melestarikan, mengelola, mengisih, melarang.  Aman Iyai selaku anggota DPRD Kabupaten Dogiyai mengumumkan dalam acara akbar itu, tujuh M dengan menempatkan sebuah kata “jangan“ menjual, merampas, memberikan, merusak, menerima, menukar, mengatasnamakan. Tanah merupakan mama sehingga ini dari manusia Mapiha pohon kebenaran.  :Kalau tidak diindahkan/dilakukan ada akibat menanggung sendiri,” ujar Amandus Iyai selaku tokoh masyarakat Mapia Bomopa ini. Mewakili lansia menyampaikan banyak terima kasih kepada Bupati Dogiyai selaku anak asli Bomopa. Juga kepada pemerintah memberikan dorongan motifasi hadir bersama dalam kesibukan mereka. Dengan busana asli karakaristik mereka menggunakan kesempatan itu untuk menugaskan Distrik  Sukikai, Piyaye, Mapia Tengah, Mapia Barat, sebagai pintu masuknya agama dan pemerintah untuk menidaklanjuti “Juwo Nai“ ambil pohon Onage (juwo moti) rencana vestival adat sebagai penutup kegiatan dalam perdagangan bebas jaji mereka. Program tanggungjawab pesan mereka Bomopa. (Donatus Degei)