3M Lulusan SD Masalah Klasik Setiap Tahun Pelajaran
NABIRE - Kembali kini menjadi topik pembahasan dalam kalangan dunia pendidikan soal adanya temuan diawal tahun pelajaran di tingkat atau jen
NABIRE - Kembali kini menjadi topik pembahasan dalam kalangan dunia pendidikan soal adanya temuan diawal tahun pelajaran di tingkat atau jenjang SMP, yang mana pada kegiatan tes masuk ditemukan adanya lulusan SD yang tidak bisa lancar Membaca, Menulis dan Mengitung (3M).
Di lain pihak yang berpendapat bahwa tidak bisa 3M bukan menjadi masalah klasik yang muncul atau ditemukan pada akhir dan awal tahun pelajaran, tetapi jika hal ini dibiarkan terus akan menjadi benang kusut yang sulit dibuka.
Sehingga untuk menyelesaikan masalah klasik ini, bukan saja menjadi tanggung jawab guru di sekolah akan tetapi keterlibatan langsung orang tua murid sangat dibutuhkan dalam rangka memberikan dorongan, dukungan dan bimbingan.
Sebab peran orangtua bukan sekedar menyekolahkan anak-anak, tetapi tanggung jawab dorongan, bimbingan dan dukungan harus dilakukan secara terus menerus sepanjang anak masih berada dibangku pendidikan atau sekolah.
Demikian komentar beberapa pihak yang enggan namanya dikorankan kepada Papuapos Nabire dua hari lalu seraya menambahkan, persoalan anak atau peserta didik yang telah lulus SD tidak mungkin dikembalikan, akan tetapi disarankan pada jenjang pendidikan SMP untuk membuat kelas remedial 3M.
Demi menyelamatkan generasi bangsa anak-anak yang tidak bisa 3M, akan tetapi faktaknya sudah lulus ujian SD dan untuk menjaga kwalitas pendidikan bagi lulusan yang akan datang di tahun pelajaran berikutnya kini sudah harus ada langkah tegas yang diputuskan bersama antara dinas pendidikan, guru dan orangtua murid.
Sehingga masalah klasik bagi murid SD yang lulus tetapi tidak lancar 3M, akan diselesaikan secara bersama, tanpa saling menolak tanggung jawab, sebab kesuksesan anak dibangku pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, guru dan orangtua murid.(des)
Bagikan artikel ini



