Home Opini Upaya Kongkrit Menurunkan angka kesakitan akibat Malaria Menuju Eliminasi Malaria di Kabupaten Nabire 2030

Upaya Kongkrit Menurunkan angka kesakitan akibat Malaria Menuju Eliminasi Malaria di Kabupaten Nabire 2030

suroso  Jumat, 14 Juni 2024 21:43 WIT
Upaya Kongkrit Menurunkan angka kesakitan akibat Malaria Menuju Eliminasi Malaria di Kabupaten Nabire 2030

Oleh : Alfred Denius Lambey, SKM,.M.Kes,


Malaria merupakan penyakit menular yang berpotensi fatal dan banyak terjadi di daerah tropis dan subtropis. Setidaknya 270 juta orang di seluruh dunia menderita malaria, dan lebih dari 2 miliar orang, atau 42% populasi dunia, berisiko terkena malaria. WHO mencatat antara satu hingga dua juta orang meninggal setiap tahunnya akibat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles.: Beberapa orang sering menderita penyakit malaria, dengan gejala khas berupa peningkatan suhu tubuh sementara disertai mual dan muntah. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina yang menunjukkan gejala khas. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2020) tentang kasus malaria di seluruh dunia. Pada tahun 2019, terdapat sekitar 229 juta kasus infeksi malaria di 87 negara endemis malaria, dibandingkan dengan 238 juta kasus pada tahun 2000.

Tingginya angka kejadian penyakit malaria diduga karena letak geografis tempat berkembang biaknya, khususnya Indonesia, yang sangat menguntungkan bagi nyamuk Anopheles betina. Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia saat ini. Jumlah rata-rata kasus malaria diperkirakan 15 juta kasus klinis per tahun. Penduduk yang berisiko terkena penyakit malaria umumnya adalah mereka yang tinggal di daerah endemis malaria. Jumlahnya diperkirakan mencapai 85,1 juta jiwa dan memiliki tingkat endemisitas rendah, menengah, dan tinggi. 60 persen penyakit malaria menyerang penduduk usia kerja 

Masih ada wilayah di Provinsi Papua Tengah, termasuk Kabupaten Nabire, yang prevalensi malarianya tinggi. Meskipun beberapa upaya untuk memerangi malaria, penyakit ini masih menjadi tantangan kesehatan utama di Kabupaten Nabire. Salah satu kendala utama pemberantasan malaria adalah adanya kasus “malaria tanpa gejala”.Malaria asimtomatik adalah ketika seseorang terinfeksi parasit malaria tetapi tidak menunjukkan gejala klinis atau bergejala ringan (tidak merasa sakit/silent infeksi) sehingga tidak terdeteksi tanpa skrining aktif.Kasus-kasus ini tidak hanya sulit dideteksi, namun juga merupakan sumber infeksi yang tidak terdeteksi (silent), karena orang yang terinfeksi dan menderita malaria tanpa gejala tidak menyadarinya. 

Pemanfaatan media KIE informasi dan komunikasi akan membantu Dinas Nabire mencapai pengendalian malaria dengan mengedukasi masyarakat tentang bahaya malaria tanpa gejala sebagai silent reservoir dan menuju deteksi dini malaria tanpa gejala. Hal ini merupakan peran kunci yang diharapkan dapat membantu memotivasi masyarakat setempat untuk melakukan pemberantasan penyakit ini - sejalan dengan komitmen nasional dan global pada Agenda Target Eliminasi 2030. 

Dalam upaya eliminasi penyakit malaria pada tahun 2030, salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah pusat adalah dengan melibatkan pemerintah daerah, terutama daerah endemis tinggi, dalam upaya pengendalian malaria dan memastikan hal tersebut secara aktif mendukung seluruh pemangku kepentingan dan pemerintah. Mendorong masyarakat sendiri untuk berperan aktif dalam memberantas penyakit malaria. Kejadian malaria mengukur rasio kasus malaria yang terkonfirmasi dengan jumlah orang berisiko per 1.000 penduduk dan ditunjukkan dengan indeks kejadian parasit tahunan (API). API Indonesia berhasil diturunkan menjadi kurang dari 1 per 1. 000 penduduk pada tahun 2015 hingga 2020. Namun pada tahun 2016, API meningkat menjadi 1,6 per 1.000 penduduk, dan pada tahun 2022, provinsi Papua memiliki API malaria tertinggi di Indonesia yaitu 113,07 per 1.000 penduduk. Angka tersebut sesuai dengan fakta bahwa Papua merupakan provinsi dengan banyak kabupaten/kota yang menjadi daerah endemis. Salah satunya adalah Kabupaten Nabire.

Kabupaten Nabire di Tahun 2023 memiliki kasus sebanyak 3602 kasus dari 66.651 total pemeriksaan darah, yang dimana API nya : 20, 81 Per 1000 (Standar <1 per 1000 Penduduk) serta Positivity Rate 5,4 % (Standar 5%) dan juga Salah satu strategi untuk mencapai penurunan malaria di wilayah kampung adalah melaksanakan Pemeriksaan dan Pengobatan Malaria sebanyak-banyaknya dalam setahun dan juga Intervensi Lingkungan dengan kegiatan pemberantasan Vektor dan Pemberantasan Sarang Nyamuk Malaria maupun DBD.

Komitmen Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Peraturan Daerah Kabupaten Nabire No. 48 Tahun 2019 Upaya percepatan Eliminasi Malaria di Kabupaten Nabire. Berbagai upaya percepatan penurunan kasus malaria telah dilakukan yaitu surveilans  menemukan dan mengobati kasus malaria secara tuntas,  melakukan upaya pengendalian vektor (kelambu, penyemprotan, manajemen lingkungan) dan meningkatkan komitmen stake holder serta peran aktif dari masyarakat. Salah satu Upaya untuk  menghentikan penularan malaria dan mengurangi kejadian parasit malaria, yakni intervensi lingkungan Dimana tempat tempat perkembang biakan nyamuk perlu mendapat perhatian khusus. 

Lingkungan tempat tinggal manusia berpengaruh besar terhadap kejadian malaria pada suatu daerah karena bila kondisi lingkungan sesuai dengan tempat perindukannya maka nyamuk akan berkembang biak dengan cepat (Setyaningrum, 2020). Penyakit ini bersifat lingkungan dan dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis, dan sosial budaya. Ketiga faktor tersebut masing-masing mempengaruhi kejadian malaria di daerah endemis malaria. Faktor penyebab tingginya prevalensi malaria antara lain perubahan iklim, kondisi sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat. Faktor risiko lainnya termasuk kondisi kehidupan, sanitasi yang buruk, layanan kesehatan yang tidak memadai, dan pergerakan penduduk masuk dan keluar dari daerah endemis malaria.Mengingat keberadaan vektor malaria dipengaruhi oleh lingkungan fisik, biologis, sosia budaya, maka pengendaliannya tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan tetapi juga memerlukan kolaborasi dan program lintas sektor. Kemajuan dalam pengendalian malaria di Indonesia terlihat secara nyata Salah satu cara untuk mengendalikan malaria adalah dengan mengendalikan faktor risiko. Pengendalian faktor risiko akan berhasil jika pelaksanaannya didasarkan pada data dan informasi yang akurat tentang vektor, lingkungan perkembangbiakannya, dan perilaku masyarakat. Selain itu, bahan dan peralatan yang digunakan harus memenuhi standar dan dikerjakan oleh personel terlatih. Berkenaan dengan itu, pelaksanaan pengendalian vektor harus memperhatikan aspek REESAA, yaitu: Penerapan yang rasional dan berbasis data (evidence based). Sah. Metode yang dipilih cocok dengan perilaku vektor target, sehingga menghasilkan efek terbaik. metode meminimalkan biaya operasional. Kegiatan yang berkelanjutan harus berkelanjutan hingga tingkat infeksi yang rendah tercapai. Hal ini dapat diterima, diterima dan didukung oleh masyarakat, terjangkau, layak dilakukan di lokasi yang terjangkau, dan relatif mudah untuk di lakasanakan. (Kemenkes,2022)

Hal ini menyebabkan penyebaran penularan yang tidak terkontrol, kejadian malaria meningkat dan menghambat program eliminasi malaria di Kabupaten Nabire.


Rekomendasi 

Selain penanganan penyakit malaria tanpa gejala (asymptomatic malaria) dalam upaya pemberantasan penyakit malaria di Kab Nabire, Mengatasi hambatan dan tantangan ini memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah daerah dan nasional, organisasi non-pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Memperkuat sistem deteksi dini, meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan, mengedukasi masyarakat, menggunakan teknologi untuk surveilans dan pelaporan, serta mempertahankan upaya Intervensi Lingkungan dengan metode pengendalian vektor akan membantu Upaya mengatasi masalah malaria. Kegiatan Kongkrit dalam  Program Pengendalian  Malaria di Kabupaten Nabire 


A. Penilaian Program Malaria 

Kegiatan review program malaria memberikan banyak rekomendasi teknis yang praktis. Hasil kegiatan diantaranya adalah:

Malaria di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, Tim merekomendasikan beberapa hal diantaranya:

1. Pemberian obat pencegahan massal (mass drug administration atau MDA) malaria untuk mengurangi beban malaria secara cepat,

2. Penerapan LLIN dengan cakupan tinggi atau IRS berkualitas tinggi (IRS berkualitas tinggi sulit diterapkan sehingga tidak boleh menjadi Pilihan pertama),

3. Perluasan jaringan kader malaria dengan perhatian khusus pada pasokan logistik untuk RDT dan DHP untuk deteksi dan pengobatan kasus secara cepat, dan Pemetaan akurat titik-titik penularan di mana pengelolaan larvasida atau lingkungan dapat diterapkan. Setelah kasus malaria turun dan dapat dikelola, pengendalian program dapat dikembalikan ke dinas kesehatan kabupaten.

4. Kolaborasi multisector: Kemitraan dengan sektor swasta, Lembaga penelitian dan organisasi internasional untuk mendapatkan dukungan finansial dan teknis serta integrasi dengan program Kesehatan lain untuk deteksi dini malaria seperti program HIV/AIDS, TB, dan kesehatan ibu-anak

5. Penguatan system informasi dan data melalui pengembangan system informasi terpadu untuk melacak kasus malaria secara real-time dan analisis data berbasis epidemiologi guna memetakan daerah berisiko tinggi dan menargetkan intervensi yang lebih efektif.

6. Untuk semua kabupaten/kota di Indonesia, pendanaan berkelanjutan merupakan tantangan, terutama ketika kasus turun ke tingkat yang sangat rendah. Program malaria dapat belajar pada inisiatif anti-stunting prioritas tinggi Indonesia mencantumkan 13 sumber pendanaan pusat berbeda yang dapat diakses. Rekomendasi yang diberikan adalah agar Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan BAPPENAS, Kementerian Dalam Negeri, dan Asosiasi Dinas Kesehatan untuk memberikan sosialisasi kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi tentang cara memanfaatkan berbagai sumber pendanaan ini.


B. Upaya Program Malaria

Strategi eliminasi malaria diarahkan kepada upaya mencapai status eliminasi malaria Papua Tengah maupun Nasional tahun 2030 dan memelihara status eliminasi (bebas) malaria. Lima prinsip intervensi yang diambil adalah:

1. Memastikan akses universal untuk pencegahan, diagnosis, dan pengobatan malaria

2. Mempercepat pencapaian status bebas malaria dan memelihara status bebas malaria.

3. Mentransformasikan surveilans malaria menjadi intervensi utama.

4. Menciptakan lingkungan yang mendukung eliminasi malaria dengan memperkuat kapasitas sistem kesehatan, mobilisasi komitmen politik, mobilisasi masyarakat dan peningkatan dukungan kemitraan

5. Meningkatkan pelayanan dengan memanfaatkan inovasi dan penelitian


C. Meningkatkan Cakupan Distribusi dan Pemakain Kelambu

Beberapa survei dinamika nyamuk dilakukan dengan survei longitudinal vektor.

Keberagaman perilaku vektor malaria menyebabkan tidak ada satu intervensi saja yang mampu efektif menghadapi keberagaman perilaku nyamuk ini. Salah satu untuk mengatasi nyamuk ini adalah dengan menggunakan kelambu berinsektisida sebagai cara perlindungan dari kontak manusia dengan nyamuk.

Kelambu berinsektisa dibagikan kepada masyarakat di wilayah risiko malaria dengan dua cara yaitu dibagikan secara massal dan dibagikan secara rutin. Pembagian secara massal dilakukan pada seluruh anggota rumah tangga yang tinggal di daerah endemis malaria dan dilakukan setiap 3 tahun sekali. Sedangkan pembagian secara rutin dikhususkan kepada ibu hamil yang tinggal di daerah endemis malaria

Efektifitas kelambu berinsektisida dalam mengusir dan mematikan nyamuk tergantung kepada salah satu faktor seperti apakah nyamuk sudah resisten terhadap insektisida yang digunakan. Untuk memastikan hal tersebut, pengujian resistensi malaria dilakukan terhadap beberapa vektor utama di beberapa wilayah yang dipilih, diantaranya Mimika dan Nabire.


D. Mengurangi tempat perkembangbiakan larva nyamuk

Hasil kunjungan lapangan menunjukkan pengelolaan sumber larva belum diterapkan. Kajian terbaru menyebutkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat diterapkan dengan keterlibatan masyarakat dengan situasi khusus dan pengelolaan lingkungan dicatat setidaknya di dua lokasi. Secara khusus, pengelolaan sumber larva (termasuk larvasida jika perlu) harus dilakukan di desa-desa endemik tinggi di Papua sebagai intervensi tambahan berdasarkan pemetaan surveilans API tingkat desa di dataran rendah Papua. Penggunaan logistik – khususnya methoprene, dan pengatur pertumbuhan serangga yang mudah diterapkan dan tahan lama – pada awalnya akan sulit, tetapi seiring berjalannya program, kuantifikasi yang lebih akurat akan diperlukan. Pemeriksaan malaria yang cepat dan akurat merupakan faktor penting dalam strategi eliminasi malaria. Pemeriksaan malaria dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, baik dengan mengambil sediaan darah yang kemudian dibaca menggunakan mikroskop ataupun mengambil setetes darah yang diperiksa menggunakan alat diagnostik cepat Rapid Diagnostic Test (RDT). Kecepatan dan keakuratan diagnosis malaria menentukan pengobatan yang akan diberikan kepada pasien. Kesalahan diagnosis, yang dikenal sebagai negatif palsu, mengakibatkan pasien malaria tidak segera mendapat pengobatan. Kejadian ini dapat meningkatkan risiko malaria tanpa komplikasi menjadi malaria berat dan berakibat fatal. Sedangkan kesalahan diagnosis, yang dikenal sebagai positif palsu, membuat pasien menerima pengobatan malaria yang tidak perlu dan meningkatkan resistensi terhadap obat malaria. 

Upaya meminimalisasi kesalahan dan memastikan akurasi diagnosis telah diupayakan secara maksimal dan berkesinambungan melalui mekanisme uji silang secara berjenjang dan pelatihan bagi ahli teknologi laboratorium medik (ATLM) malaria. Di daerah endemis tinggi, pemeriksaan malaria menunjukkan peningkatan setiap tahunnya (5-20%). Namun masih ada kabupaten dengan cakupan pemeriksaan yang masih rendah (<2%). Untuk daerah endemis sedang, cakupan pemeriksaan malaria masih lebih rendah dari target pemeriksaan. Angka pencarian kasus yang semakin turun di wilayah endemis rendah dan eliminasi patut diwaspadai karena ancaman meningkatnya kembali kasus malaria lokal akibat penemuan kasus yang rendah. Tantangan yang lain adalah secara nasional episode seseorang terkena malaria 1-2 kali dalam setahun mencapai 83%. Selain itu angka positivity rate (PR) yang masih tinggi, tercatat 6 dari 8 (80%) kabupaten/kota yang ditargetkan mencapai PR < 5% pada tahun 2024. Dengan mengimplementasikan rekomendasi ini diharapkan Kabupaten Nabire dapat mengambil langkah konkrit menuju eliminasi malaria dan mencapai target yang ditetapkan dalam agenda nasional dan Sustainable Development Goals (SDGs).


*) Alfred Denius Lambey, SKM,.M.Kes, Mahasiswa Doktoral pada Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin


suroso  Rabu, 3 Juli 2024 2:43
Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kehadiran Guru Rendah
Penulis : Wiantri Viami Amin, S.Pd Tingkat kehadiran guru ke sekolah yang masih rendah merupakan salah satu permasalahan yang masih sering terjadi di Papua terkait mutu guru. Beberapa guru memiliki alasan jarak sekolah dengan kediaman yang jauh dan sepi merupakan salah satu alasan dari kurangnya kehadiran guru.
suroso  Senin, 27 Mei 2024 12:10
Kepala Sekolah Berperan Penting Dalam Penyaluran Bakat dan Minat Siswa
Penulis: Wiantri Viami Amin, S.Pd SEMUA siswa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses yang dapat menyalurkan minat dan bakatnya. Sekolah dan orang tua harus memberikan dukungan penuh kepada siswa. SMA Muhammadiyah Nabire memberikan kesempatan kepada siswanya untuk mengikuti kegiatan yang membantu siswa menyalurkan bakat dan minatnya.

Hahae

Tatindis Drem Minyak
suroso  Sabtu, 16 April 2022 3:53

Pace satu dia kerja di Pertamina. Satu kali pace dia dapat tindis deengan drem minyak. Dong bawa lari pace ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, pace pu kaki patah.

Setelah sembuh, pace minta berhenti kerja di Pertamina.

Waktu pace ko jalan-jalan sore di kompleks, pace ketemu kaleng sarden. Dengan emosi pace tendang kaleng itu sambil batariak "Kamu-kamu ini yang nanti besar jadi drem." 

Iklan dan berlangganan edisi cetak
Hotline : 0853 2222 9596
Email : papuaposnabire@gmail.com

Berlangganan
KELUHAN WARGA TERHADAP PELAYANAN UMUM
Identitas Diri Warga dan Keluhan Warga

Isi Keluhan