Home Opini Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”

Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”

Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”

Oleh: Florentinus Tebai*)

 

Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli tanah di sekitar area Jayapura misalnya, sebagaimana ditulis dalam berita “Banyak tanah dijual sembarangan di Kota Jayapura” (Jubi, Kamis, 25 April 2019). Fenomena itu tidak hanya terjadi di Jayapura, melainkan terus terjadi di pelosok Tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat. Realitas itu sudah menunjukkannya bahwa Orang Asli Papua (OAP) selaku pemilik tanah tidak menghargai tanah sebagai seorang Mama yang selalu siap sedia melayanai anak-anaknya. Saya menjadi heran, ketika melihat, mendengar, bahkan membaca berita penjualan tanah yang dilakukan oleh OAP sendiri, OAP selaku pemilik tanah di negerinya. Tanah itu dijual dalam harga yang lebih murah. “massifnya penjualan tanah di Jayapura itu sudah berlangsung lama. Ada yang dijual maha. Ada yang dijual Murah” (Jubi, Kamis, 25 April 2019). Dulu, mau ambil tanah harus mendapatkan ijin dari Ondo, tetapi yang terjadi saat ini adalah buat rumah dulu baru minta ijin sama Ondo. Kita masih bersikap demikian, karena OAP selaku pemilik tanah masih belum memahami makna dari tanah sebagai Mama bagi kita OAP. Maka kita semua sebagai OAP, marilah kita terlebih dahulu memahami konsep tanah bagi kita OAP. Konsep Tanah bagi Kita OAP Tanah mempunyai pandangan atau konsep tersendiri dalam kehidupan OAP. Konsep atau pandangan itu sendiri, yakni tanah sebagai harapan bersama dan relasi iman. Kedua konsep ini amatlah penting dan merupakan sebuah landasan dalam kehidupan OAP. Ernest Pugiye juga memeberikan sedikit pemahaman juga mengenai, “Konsep Tanah bagi Papua” (baca, https://Jelatanp.com, Minggu, 10 Juni 2018). Tanah sebagai harapan bersama dinilai secara nyata. Artinya bahwa tanah bagi OAP adalah sebuah harta yang abadi dan terakhir. Tanah mengandung nilai-nilai yang transendental (tidak kelihatan) yang absolut. Di dalamnya juga terkandung kemuliaan dan keagungan yang memberi arti, makna, manfaan ataupun tujuan hidup yang baik dan benar bagi OAP. Konsep tanah mengenai harapan hidup, juga berkaitan erat dengan harapan hidup masyarakat OAP untuk saat ini, tetapi juga bagi generasi muda penerus bangsa di masa depan. Oleh karena itu, OAP tidak bisa hidup tanpa tanah. Pada prinsipnya, OAP sejak tete-nene moyang hingga kini menjadikan tanah sebagai sahabat hidupnya. Artinya, bahwa OAP hidup, bekerja dan tinggal di atas tanah. Tanah menciptakan dan melahirkan OAP sebagai manusia sejati. Dan tanah dianggap sebagai mama sejati, karena OAP dibesarkan oleh tanah milik mereka. Sementara itu konsep tanah mengandung relasi iman adalah konsep tanah sebagai harapan hidup bersama itu dapat diandalkan melalui iman yang diyakininya OAP. Ada pesan-pesan juga makna yang terkandung di dalam keagungan dan kemuliaan yang ada di atas tanah ini, Papua. OAP sudah meyakininya bahwa Sang Pencipta sendiri, sejak menciptakannya tanah ini telah menjadi berkat bagi OAP di tanah Papua, sehingga dapat menjanjikan harapan hidup bagi OAP di atas tanahnya. Kita semua sebagai OAP tentu megupayakannya, supaya mama kita, tanah Papua tetap ada bersama kita untuk saat ini dan di masa mendatang.   Upaya Kita Menjaga “Mama Kita” (Tanah Papua) Kita sebagai OAP tidak boleh tinggal diam di hadapan sekian banyak persoalan kita. Ada beberapa hal yang mestinya kita lakukan dalam upaya menjaga “Mama Kita”, tanah Papua. Pertama: Semua OAP yang tinggal di tanah Papua mesti menyadarinya bahwa esksistensi dirinya sebagai OAP adalah tinggal dan hidup di atas tanah Papua. Oleh karena itu, setiap OAP mempunyai kewajiban untuk terus memelihara dan melindungi tanah Papua sebagai mama kita dan bukan untuk diperjualbelikan kepada orang lain. OAP mempunyai kewajiban untuk menjaga, memelihara dan melindungi tanah secara baik dan benar. Yang lebih penting lagi, OAP mesti mengelola tanah bermartabat. Artinya dalam mengelolah tanah OAP mesti bersikap sebagaimana ia bersikap menghargai dan menghormati dengan totalitas. Hal di atas ini mesti dan wajib untuk dilaksanakan oleh kita semua OAP selaku pemilik tanah, tanpa terkecuali siapapun kita. Apabila kita tidak melakukannya saat ini, maka dampak atau akibatnya tidak hanya dirasakan oleh kita OAP yang masih hidup, namun juga akan dialami dan dirasakan oleh setiap anak cucu kita di masa depan. Persoalan mengenai tanah selaku mama bagi kita OAP atau hak ulayat tidak hanya terbatas pada satu kurun waktu atau masa tertentu, tetapi tanah selalu berkaitan erat dengan sikap kita pada masa lalu yang akan berdampak pada masa kini, dan sikap kita pada masa kini akan berdampak pula di masa mendatang. Oleh sebab itu, sekali lagi bahwa OAP selaku pemilik tanah Papua punya kewajiban besar dalam menjaga, memelihara dan bahkan dalam mengelola tanah Papua secara baik dan benar. Sangatlah benar bahwa apa yang diserukan oleh pimpinan Gereja Katolik, Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr, yang menyatakan “Orang Papua Jual Tanah, Maka Jual Kehidupan” Seruaan Uskup selaku pimpinan Gereja itu sangatlah tepat dan fundamental dalam konteks kehidupan kita sebagai OAP di Papua. Kita semua sebagai OAP adalah, dan seluruh kehidupan kita sangat tergantung pada alam Papua yang tak pernah lelah menyediakan nafkah buat kita OAP. Ernest Pugiye juga telah memberikan pemahaman mengenai makna tanah bagi kita OAP, bahwa tanah bagi kita OAP adalah “Tanah Sebagai Mama bagi OAP”, (Cepos, 5/7/2018). Tanah adalah yang benar-benar memelihara, tanpa kenal lelah selalu menyediakan segala kebutuhan kita, OAP. Pendapat senada juga disampaikan oleh Aris Yeimo, yang menegur dan memberikan sedikit pemehaman melalui ulasannya kepada kita OAP bahwa “Tanah Papua Bukan Barang: Komuditas” (Jubi, Rabu-Kamis, 15-16, Agustus 2018).   Akhirnya, tanah sebagai Mama bagi OAP mesti dihargai dan terus dijaga oleh OAP sendiri sebagai pemilik tanah itu. Jika, OAP sendiri tidak menjaga tanah sebagai mama kita, tidak ada orang lain lagi yang akan menajaga, memelihara, dan melindungi tanah kita, Papua. Ingatlah bahwa tanah adalah mama bagi kita. Mama yang secara terus menerus menjaga dan memelihara, juga dia yang siap sedia menyediakan segala kebutuhan hidup kita di saat ini dan di masa mendatang. Kita semua sebagai OAP, selaku pemilik tanah, harus terus menjaga dan memelihara tanah Papua.  maka tidak ada orang lain lagi yang akan menjaga dan memelihara serta melindungi tanah kita, Papua. Ingatlah bahwa tanah adalah dia (Mama) bagi kita yang secara terus menerus menjaga dan memelihara, juga dia yang siap sedia menyediakan segala kebutuhan hidup kita di saat ini dan di masa mendatang. Oleh karena itu, Marilah kita semua sebagai warga OAP selaku pemilik tanah terus menjaga dan memelihara tanah Papua sebagai tempat kita berpijak.   Masyarakat sebagai pemilik hak ulayat tanah mesti mempunyai rasa kepemilikan terhadap tanah yang telah diwariskan oleh tete-nene moyang  dan Tuhan Sang Pencipta. Ingat, OAP jangan menjual tanah, karena tanah itu Mama kita bersama. Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr, uga meyerukan ”Hay Papua, Jangan jual dusun Sagu, Jangan Jual Dusus Kerkebun, Kalau Dusun Sagu Hilang, Ko makan Kelapa Sawit Ka, kalau Dusun Sagu hilang Ko Tau Tanam Padi Ka?. Mari kita semua menjaga dan merawat tanah Papua sebagai Mama kita. Menjaga dan memelihara itu berarti kita sebagai OAP tidak menjual tanah dengan harga yang murah. Menjaga dan memelihara tanah itu berarti kita sebagai OAP tidak mempermainkan tanah secara sewenang-wenang. Menjaga dan memelihara tanah itu berarti kita sebagai OAP mengelolah tanah secara bermartabat, supaya tanah it uterus ada bersama kita. Ingat, menjual tanah berarti menjual “Mama” kandung kita sendiri. Kalau ko jual tanah sob, ko mau taruh ko pu muka di mana di hadapan ko mama? Sob, kalau ko OAP, ko hargai ko Mama. Ko hargai tanah Papua yang sudah besarkan ko. Semoga! *)Penulis adalah Mahasiswa Sesmester II pada Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi “Fajar Timur”, Abepura, Jayapura, Papua.  

Polling
Apakah anda setuju jika diberlakukan pembayaran parkir di sejumlah titik keramaian di dalam Kota Nabire ?
Suroso  Kamis, 13 Juni 2019 15:28
Orang Asli Papua: Hargai Tanah Sebagai “Mama”
Oleh: Florentinus Tebai*)  Transaksi jual-beli tanah ini sudah dan sedang terjadi di hampir seluruh tanah Papua. Transaksi jual beli t
Suroso  Rabu, 17 Juli 2019 21:10
TANAH, SUMBER KEHIDUPAN BAGI MASYARAKAT ADAT DI MEEUWODIDE
 Oleh Ernest Pugiye Ketika menyimak realitas kehidupana masyarakat adat di Meeuwodide, maka mereka masih tetap berhadapan dengan
Agenda Nabire
AGENDA KEJUARAAN CABANG OLAHRAGA
 Sabtu, 29 Juni 2019 8:5

KEJUARAAN BULUTANGKIS ANTAR KAMPUNG 2019

Nomor yang dipertandingkan : Beregu Putra (3 ganda).

Pendaftaran di GOR Kotalama - Nabire

Waktu pelaksanaan : Dimulai tanggal 18 Agustus 2019

Segera daftarkan tim kampung/kelurahan ANDA !!!

 

 

KEJUARAAN BULUTANGKIS BANK PAPUA SUPER SERIES II

Nomor yang dipertandingkan : Ganda Putra Kategori A, Ganda Putra Kategori B,  Ganda Putra Kategori C, Tunggal Putra Kategori Umum, Tunggal Putra Kategori C.

Pendaftaran sampai dengan tanggal 9 Juli 2019

Kejuaraan dimulai tanggal 13 Juli 2019 di GOR Kotalama - Nabire

HAHAEEE...
Nilai Raport
 Senin, 18 Februari 2019 1:28

Tinus : "Bapa.... belikan sa sepeda kah untuk pigi sekolah ? Sa pu teman-teman semua su naik sepeda kalo pigi sekolah"

Bapa : "Gampang itu anak. Yang penting ko pu nilai raport ada angka 9 minimal tiga. Kalau bisa, bapa langsung belikan ko sepeda baru."

Setelah ambil raport, Tinus pulang deng semangat. Tinus langsung cari dia pu bapa di rumah.

Tinus : "Bapa ini sa pu raport ada angka 9 ada tiga. Jadi bapa pu janji untuk belikan sa sepeda itu yang sa tagih."

Deng mata kabur-kabur sedikit, Tinus pu bapa liat Tinus pu raport. Memang di raport ada angka 9 ada tiga. Pace dia langsung tepati janji belikan Tinus sepeda baru.

Tapi pace dia rasa ada yang kurang pas di hati. Pace penasaran deng Tinus pur raport. Pace ko ambil kacamata dan perhatikan baik-baik nilai-nilai yang ada di dalam Tinus pu raport. Pace dia kaget tra baik punya waktu liat keterangan di depan angkat 9 yang ada tiga itu ternyata angka 9 itu bukan nilai mata pelajaran. Tapi angka 9 itu masing-masing ijin tidak sekolah 9, ijin sakit 9, dan alpa 9. Pace dia pu hati soak sampe.....

 

Info Loker